Syarat-syarat Agar Kuliner Nusantara Bisa Go International

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Senin, 15/06/2015 13:04 WIB
Makanan khas nusantara rupanya memiliki peluang menjadi idola lidah para bule pencinta kuliner. Jeffry Sie, pemilik Gudeg Yu Nap yang pernah mewakili Indonesia menyajikan gudeg dalam World Street Food Congress 2015 di Singapura pada April lalu (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Makanan khas nusantara rupanya memiliki peluang menjadi idola lidah para bule pencinta kuliner. Makanan Indonesia yang memiliki syarat dan kebutuhan bumbu beraneka rupa dan jenis serta rasa tersebut menjadikannya primadona ketimbang makanan barat yang rasanya cukup hambar.

Namun, bukan berarti makanan ataupun jajanan Indonesia tidak memiliki kelemahan, salah satunya adalah kebersihan jajanan tersebut untuk dikonsumsi. Jeffry Sie, pemilik Gudeg Yu Nap yang pernah mewakili Indonesia menyajikan gudeg dalam World Street Food Congress 2015 di Singapura pada April lalu, menceritakan pelajaran yang ia ambil dari ajang kuliner mancanegara tersebut.


"Banyak yang saya pelajari dari acara tersebut, salah satunya adalah gengsi," kata Jeffry sembari tertawa kepada CNN Indonesia, Minggu (14/6) saat ditemui di Festival Jajanan Bango di Plaza Barat Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. “Tetapi memang yang jadi perhatian mereka adalah terkait kehigienisan makanan.”


Disampaikan Jeffry, berikut beberapa syarat yang harus dipenuhi agar masakan Indonesia bisa go international:

1. Jenis kompor

Masalah higienitas dari makanan menjadi sorotan utama bagi sebuah makanan untuk mendapat lirikan dari masyarakat mancanegara. Jeffry mengakui bahwa kebanyakan makanan jalan di Indonesia tidak memiliki dapur yang bersih dan cenderung tradisional.

"Jika di Indonesia menggunakan gas sudah cukup dianggap bersih, justru di luar negeri menuntut penggunaan dari kompor listrik," kata Jeffry.

Penggunaan kompor tradisional seperti kayu bakar memang pasti akan meninggalkan abu dan jelaga yang besar. Ketika penggunaan kayu diganti oleh minyak tanah pun, tetap meninggalkan jelaga dan bau minyak yang menyengat.

Penggunaan gas yang kini dipakai mayoritas oleh pedagang makanan di Indonesia juga rupanya masih dianggap belum bersih oleh masyarakat mancanegara.

2. Cuci tangan

Salah satu tanda tukang masak yang bersih adalah ketika ia mencuci tangannya sebelum akan memasak, namun untuk masalah jajanan berstandar internasional, frekuensi mencuci tangan rupanya menjadi hal yang khusus.

"Di dapur itu bisa setiap lima menit sekali cuci tangan, jadi selama satu kali masak bisa mencapai dua puluh kali cuci tangan," ujar Jeffry.

Cuci tangan bermanfaat menghilangkan bakteri dan kuman yang ada di atas tangan karena sehabis aktifitas lain ataupun dari bahan-bahan makanan yang belum dicuci bersih. Kebanyakan orang hanya mencuci dengan air saja, padahal cuci tangan yang baik adalah dengan menggunakan sabun cuci tangan dan air yang mengalir.

3. Tempat menaruh masakan

Pernahkan Anda menemukan tukang masak makanan pinggir jalan yang menaruh panci berisi penuh dengan makanan yang telah matang di atas lantai? Atau mungkin Anda pernah menemukannya di dalam sebuah restoran atau justru Anda melakukannya sendiri?

Ternyata menurut standar penilaian makanan internasional, cara koki memperlakukan makanan yang telah dimasak pun menjadi perhatian, walaupun masih di dalam panci.

"Tidak boleh menaruh makanan di bawah, tetapi ada batasan yaitu 20 sentimeter dari lantai," kata Jeffry.

4. Jenis air

Seringnya dalam sebuah tempat jajan, pihak penjual menyiapkan dua jenis ember yang berisi dua jenis air dengan tujuan yang berbeda, satu untuk sebagai bahan untuk memasak, dan yang lain adalah untuk mencuci piring. Dan standar memasak internasional pun punya pendapat yang sama.

"Mereka memakai dua jenis air, yang pertama untuk bisa langsung dimasak, yang kedua untuk mencuci piring karena ada kimianya.”

Namun, seringkali yang menjadi permasalahan bila di kota besar seperti Jakarta adalah kandungan kaporit yang ada dalam air ledeng yang tersedia. Banyak yang enggan menggunakan ataupun memakan air yang berasal dari ledeng karena kandungan kaporitnya.

5. Warna telenan

Ini yang menjadi tidak biasa di tukang makanan pinggir jalan. Standar penilaian kebersihan makanan secara internasional mengharuskan koki untuk memiliki jenis talenan yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya.

"Biasanya kan pakai hanya yang itu-itu saja, kalau di sana harus memakai lima macam talenan, kuning ayam, biru seafood, merah daging, hijau sayuran, putih untuk penyajian," kata Jeffry.

Warna-warna tersebut menunjukkan fungsi dari talenan. Talenan berwarna kuning, berarti berfungsi untuk daging yang berasal dari unggas, seperti ayam, bebek, dan sejenisnya. Talenan biru diperuntukkan untuk segala bahan makanan yang hidup di dalam air, atau seafood.

Talenan merah berguna untuk memotong-motong daging merah seperti dari sapi, kambing, kerbau, ataupun babi. Sedangkan hijau adalah untuk sayuran dan buah-buahan, dan putih adalah khusus ketika makanan siap disajikan.

"Penggunaan talenan juga mesti dicuci setiap kali akan dipakai, walaupun ingin memotong ayam setelah bebek, biar tidak saling kontaminasi," kata Jeffry.

6. Sedia kaporit

Bila masyarakat Indonesia terbiasa untuk mencuci piring dengan sabun cuci dan kemudian meniriskannya seperti biasa, namun jika ingin go international, maka harus menyediakan seember air yang sudah dilarutkan kaporit di dalamnya.

"Untuk piring, setelah dicuci kemudian direndam semalam baru besok dicuci dan dipakai," kata Jeffry. "Itu untuk menghilangkan kuman."

Setidaknya dengan merendam alat makan ataupun alat masak selama semalam di dalam larutan kaporit, Anda berarti harus memiliki cadangan alat masak yang banyak di dalam dapur go international Anda nanti.



(mer/mer)