Waspadai Tawaran Asuransi Palsu untuk Wisatawan ke Korsel

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 19/06/2015 21:00 WIB
Waspadai Tawaran Asuransi Palsu untuk Wisatawan ke Korsel Pemeriksaan pengunjung di bandara di Korsel. (Reuters/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa waktu terakhir, media di berbagai belahan dunia menyoroti kasus Middle East Respiratory Sydrome (MERS) coronavirus di Korea Selatan yang telah merenggut 20 orang dan 146 terjangkit penyakit pernapasan asal Timur Tengah ini. Akibat dari merebaknya kasus ini, pariwisata Korea Selatan terguncang.

"Sejak adanya kasus MERS ini, jumlah wisatawan yang datang ke Korea Selatan turun antara 20 hingga 25 persen jika dibandingkan Juni tahun lalu," kata Hyonjae Oh, Direktur Korea Tourism Organization (KTO) perwakilan Jakarta, ketika ditemui di Gedung GKBI Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (19/6).

Menurut pengakuan dari Hyonjae, jumlah wisatawan yang membatalkan kunjungan ke Negeri Gingseng tersebut melonjak sejak kasus MERS mulai terkuak.


Terhitung sebanyak 1900 wisatawan Indonesia telah membatalkan kunjungan dan jika diakumulasikan, sebesar 120 ribu orang gagal menjadi sumber pendapatan Korea Selatan.

Kasus MERS pertama kali merebak di negara K-Pop setelah seorang pria 68 tahun dinyatakan positif MERS 16 hari setelah kepulangannya dari Timur Tengah pada awal Mei lalu. Selama 16 hari tersebut, dirinya telah bergonta-ganti rumah sakit dan berbagi ruangan bersama dengan pasien lain.

Sejak terkuaknya kasus tersebut, jumlah pasien yang mengidap MERS semakin bertambah. Penularan yang cepat dan masif menjadikan angka pengidap MERS serta korban jiwa terus bertambah. Tercatat korban MERS mencapai 20 orang dengan 146 orang terjangkit.

Kejadian tersebut menjadikan Korea Selatan sebagai salah satu negara di luar Timur Tengah yang memiliki riwayat MERS terbesar di luar Arab Saudi yang menjadi negara asal virus ini.  

"Puncak jumlah korban terjadi pada 7 Juni lalu, sejak saat itu, statistika jumlah korban terus menurun," ujar Taiyoung Cho, Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia dalam kesempatan yang sama.

Salah satu dampak yang terasa dari kasus MERS adalah adanya pelarangan kunjungan yang diberikan untuk Korea Selatan, salah satu negara yang memberikan peringatan perjalanan ke Korea Selatan adalah Taiwan.

Selain dari pelarangan perjalanan, dampak yang terlihat adalah menurunnya jumlah pembeli tiket pesawat ke Korea Selatan. Fenomena ini dirasakan oleh maskapai Cathay Pasific Airways yang memiliki jalur penerbangan dari Hong Kong ke beberapa kota di Korea Selatan.

Guna menghadapi goncangan pariwisata ini, pemerintah Korea selain melakukan penanganan dan pencegahan penyebaran MERS, juga harus mencegah penurunan wisatawan semakin jauh.

Untuk itu, mereka telah melakukan serangkaian pemberitahuan dengan gencar ke berbagai media dan agen perjalanan menyampaikan kondisi terkini dari Korea Selatan.

"Kami telah menghubungi banyak agen perjalanan dan juga menyatakan bahwa kondisi Korea aman untuk tetap dikunjungi," kata Taiyoung Cho.

Meskipun belum ada pelarangan kunjungan yang dikeluarkan Pemerintah Republik Indonesi bagi WNI yang ingin mengunjungi Korea, namun pihak pemerintah Korea berharap tidak akan pernah ada pelarangan tersebut keluar.

"Kami akan memastikan terlebih dahulu kasus ini benar-benar tuntas, mungkin akhir Juni ini, baru kami akan kembali mengadakan berbagai tawaran dan promosi untuk masyarakat Indonesia yang ingin ke Korea," kata Hyonjae Oh.

Asuransi Palsu

Beberapa hari terakhir ini ketika kasus MERS merebak di Korea Selatan, terdapat beberapa media yang memberitakan bahwa pemerintah Korea Selatan akan memberikan asuransi dan jaminan bagi wisatan yang datang ke Korea namun kemudian terjangkit MERS.

"Tidak, berita tersebut tidaklah benar," kata Hyonjae Oh kepada CNN Indonesia.

Menurut Hyonjae, pemerintah Korea Selatan hanya menyediakan pelayanan pencegahan dengan memberikan peralatan yang dibutuhkan guna mencegah MERS menjangkiti wisatawan.

Selain itu, pemerintah Korsel juga telah mengaktifkan pelayanan 24 jam untuk para wisatawan apabila ingin lebih tahu mengenai kondisi MERS ataupun ketika kondisi darurat.

Sedangkan untuk jenis semacam asuransi ataupun jaminan yang diberikan kepada wisatawan yang akan datang ke Korea, janji semacam itu tidaklah ada. Asuransi yang ada adalah dari masing-masing agen perjalanan.

"Jika yang dimaksud adalah pemerintah Korea memberikan sejumlah uang kepada wisatawan apabila terkena MERS, jelas itu tidaklah benar," kata Hyonjae. "Selama ini belum ada wisatawan yang terkena, dan kami pun sudah menyiapkan penanganan yang memadai untuk itu." (end/utw)