Lepas dari Perang, Koki Suriah Jadi Bintang di Gaza

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Kamis, 18/06/2015 15:43 WIB
Lepas dari Perang, Koki Suriah Jadi Bintang di Gaza Chef Wareef Hameedo yang kini tenar di Gaza (REUTERS/Mohammed Salem)
Jakarta, CNN Indonesia -- Mungkin tak ada yang menyangka bahwa seorang koki restoran kecil di negara perang seperti Suriah dapat menjadi orang tenar. Namun, hal tersebut ternyata terjadi pada Wareef Hameedo yang kini menjadi koki selebriti.

Tiga tahun lalu, koki berusia 34 tahun ini menekuni bisnis restoran kecil di sebuah mal di Kota Aleppo, Suriah. Seperti dilansir Reuters, kota tersebut kemudian dibombardir sejak perang sipil pecah. Banyak pihak yang terlibat dalam perang ini, termasuk kelompok militan ISIS.

Anggota keluarga Hameedo akhirnya memilih untuk hijrah ke Turki sebelum keadaan semakin runyam. Tak berapa lama, Hameedo pun mengikuti jejak keluarganya.


Di Turki, Hameeda merasa lebih baik jika ia mencoba peruntungan di Mesir. Ia pun berlayar ke Port Said dan akhirnya bekerja sebagai koki di salah satu perusahaan di Kairo.

Terus berjuang menuju masa depan gemilang, Hameedo sampai di persimpangan.

"Saya harus memilih apakah akan berkendara menggunakan kapal ke Eropa dengan masa depan tak jelas, atau ke Gaza sesuai dengan saran beberapa teman dari Palestina," ujar Hameedo.

Seberat apapun pilihan, Hameedo harus menentukan jalan. Ia memilih Gaza.

Pada Mei 2013, ia diselundupkan melalui terowongan yang menghubungkan Sinai dengan wilayah Palestina. Bersama 1,8 juta warga Gaza lainnya, Hameeda mencoba bertahan hidup di negara dengan keadaan ekonomi di ambang kehancuran. Angka pensiun mencapai 50 persen.

Dengan gelar pendidikan mekanik, kemampuan teknis Hameedo sangat membantu. Namun, ia tetap teguh hati ingin menjadi koki.

Di tengah kecamuk perang antara Israel dan Hamas, Hameedo terus berusaha melangkah dan pantang berkemas.

Bersama seorang rekan, Hameedo mendirikan restoran sendiri bernama Soryana yang berarti Suriah Kita. Meskipun kecil, Soryana terletak di salah satu wilayah terbaik di Gaza.

Hameedo mendirikan Soryana bukan sekadar untuk menunjukkan kecintaannya terhadap negara asal. Ia membangun restoran Suriah karena melihat peluang terbuka.

"Saya melihat di sana tidak ada cara memasak kreatif. Hanya beberapa tempat yang menjalankan usaha non-tradisional. Ketika memikirkan makanan Suriah, saya pikir saya bisa mendapatkan kesempatan," tutur Hameedo.

Makanan Suriah sebenarnya sudah dikenal di negara Arab. Namun, Hameedo menjadi pelatuk meledaknya makanan khas Suriah tersebut.

"Mereka menyukai kibbeh kami. Mereka sangat tergila-gila," ucap Hameedo merujuk pada makanan khas Suriah yang terbuat dari daging sapi atau kambing cacah dan burgul, dapat disajikan dengan dibakar atau digoreng.

Kelezatan makanan Hameedo akhirnya mulai mengharumkan namanya. Para penggemar masakan Hameedo mulai memintanya untuk memasak makanan Suriah lain yang sering mereka dengan di film atau tayangan televisi.

Nama Hameedo pun semakin tenar. Nasib Hameedo berubah drastis ketika sebuah stasiun televisi lokal menawarkan sebuah acara memasak khusus untuknya.

Kini, 30 serial program tersebut akan mengudara selama Ramadan mulai pekan depan.

Senyum kini mengembang di bibir Hameedo, tapi masa depannya masih belum jelas. Paspornya sudah kedaluwarsa dan tidak ada Kantor Kedutaan Besar Suriah di Gaza.

Jika Hameedo tak memiliki mendapatkan dokumen baru, ia mustahil bertemu dengan keluarganya di Turki. Warga Suriah lain yang datang ke Gaza biasanya memiliki suaka di Swedia atau menjadi pengangguran.

Namun, kecintaannya terhadap kuliner tak pernah padam. "Saya memiliki rencana," katanya.



(mer)