Tulang Rapuh karena Terlalu Lama Duduk di Depan Komputer

Hanna Azarya Samosir, CNN Indonesia | Senin, 29/06/2015 17:09 WIB
Alasan orang tua untuk mengawasi anaknya agar tidak terlalu lama terpaku pada layar televisi atau komputer semakin kuat. Ilustrasi (Thinkstock/Randy Faris/Fuse)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alasan orang tua untuk mengawasi anaknya agar tidak terlalu lama terpaku pada layar televisi atau komputer semakin kuat. Penelitian terbaru dari Norwegia menunjukkan bahwa remaja laki-laki yang menghabiskan terlalu banyak waktu menatap layar tersebut tanpa berolahraga dapat memiliki tulang rapuh.

Seperti dilansir Reuters, usia remaja belasan tahun merupakan periode penting dalam pertumbuhan tulang. Tingkat kepadatan tulang nantinya dapat berpengaruh pada risiko osteoporosis di masa tua.

Para peneliti menekankan bahwa gaya hidup masa kecil dapat memberi dampak besar terhadap kesehatan di usia lanjut.


"Kami menemukan hubungan antara waktu menyimak layar dan rendahnya kepadatan mineral dalam tulang anak laki-laki. Kami tidak dapat mendeteksi hubungan sebab akibat dengan desain studi ini, tapi tampaknya lamanya menatap layar adalah indikator dari gaya hidup yang memiliki dampak negatif pada massa tulang," ujar seorang fisioterapis di University Hospital of North Norway, Anne Winther.

Dalam penelitian ini, Winther dan rekan-rekannya menghimpun data dari 316 anak laki-laki dan 372 gadis dengan rentang usia 15-19 tahun. Mereka diminta melaporkan berapa jam sehari menghabiskan waktu di depan layar komputer atau televisi. Selain itu, responden juga diminta untuk menjabarkan berapa banyak waktu yang mereka luangkan untuk bersantai, berjalan, bersepeda, atau berolahraga dalam sepekan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak yang menghabiskan waktu dua hingga empat jam sehari di depan layar memiliki berat badan lebih tinggi. Di antara responden tersebut, ternyata anak laki-laki menghabiskan waktu lebih banyak di depan layar ketimbang perempuan.

Namun, pada lama waktu penatapan layar yang sama, tingkat kepadatan mineral tulang anak laki-laki jauh lebih rendah daripada perempuan. Kepadatan tulang ini diukur di bagian pinggul, tulang paha, dan bagian tubuh lain yang rawan patah.

"Penemuan paling penting adalah hubungan antara kebiasaan bersantai memandang layar dan kepadatan massa tulang pada anak laki-laki ini dapat bertahan hingga dua tahun kemudian," kata Winther.

Untuk mencegah bahaya tersebut, American College of Sports Medicine menyarankan anak-anak untuk melakukan 10-20 menit kegiatan gimnastik, berlari, atau melompat setidaknya tiga hari dalam sepekan.



(mer)