Ashwin membagi hambatan tersebut ke dalam tiga masalah besar, yaitu kepatuhan pada pengobatan, respons pengobatan bervariasi, dan pengobatan mandiri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lebih jauh, pasien bipolar sering kali menghentikan pengobatan karena kerap dianggap berkepribadian ganda. "Harus diluruskan bahwa kepribadian ganda berbeda dengan gangguan bipolar. Pasien tetap memiliki satu identitas diri, tapi kesulitan mengontrol emosi yang sangat drastis berubahnya," ujar Ashwin.
Selain itu, kata Ashwin, pasien juga terkadang merasa jenuh harus mengonsumsi obat dalam jangka waktu panjang. Alasan tersebut kerap kali dilandaskan pada pikiran bahwa obat adalah racun.
"Di masyarakat itu sudah mulai merebak pikiran bahwa obat adalah racun. Ini harus diubah. Obat adalah obat jika digunakan tepat," katanya.
Dari beberapa alasan penolakan, ada satu yang dianggap sulit diatasi. "Pada gangguan bipolar episode mania, pasien akan merasa lebih pintar dari dokter sehingga ia tidak percaya terhadap perkataan dokter," turur Ashwin.
Hambatan kedua yang sering kali dihadapi adalah respons tubuh terhadap pengobatan sangat bervariasi. "Setiap tubuh memiliki respons yang berbeda terhadap obat. Waktu penelitian hingga mendapat dosis tepat itu juga merupakan hambatan tersendiri," ujar Ashwin.
Hambatan selanjutnya adalah self medicating atau pengobatan mandiri oleh pasien. "Di samping obat dari dokter, pasien sering mengobati sendiri penyakitnya. Hal inilah biasanya yang berujung pada ketergantungan alkohol dan narkoba," kata Ashwin.
(mer)