Jutaan Rumah Tangga di Asia Tenggara Bangkrut karena Kanker

Windratie, CNN Indonesia | Jumat, 21/08/2015 12:52 WIB
Jutaan Rumah Tangga di Asia Tenggara Bangkrut karena Kanker Berdasarkan sebuah penelitian baru dari George Institute for Global Health, penyakit kanker bisa menjadi beban bagi masyarakat dan sistem perawatan kesehatan di Asia Tenggara jika tidak ditangani dengan cepat. (Getty Images/Thinkstock)
Bali, CNN Indonesia -- Aung, dari Yangon, Myanmar, didiagnosis mengidap kanker payudara pada usia 50 tahun. Usianya kini adalah 52 tahun, dan dia belum pernah menikah.

Saat pertama gejala penyakit tersebut timbul, tetangga Aung mendesaknya menemui ahli onkologi, ahli di bidang ilmu kedokteran yang berkonsentrasi pada diagnosis, penanganan, serta pencegahan tumor dan kanker.

Karena tak memiliki anak dan suami, saudara laki-laki dan sepupu Aung kemudian membawanya ke dokter. Awalnya, keluarga Aung tak memberitahu tentang hasil tesnya. Mereka ingin melindungi Aung dari kabar itu.


Namun setelah mengetahui diagnosis tersebut, Aung menerima perawatan di sebuah rumah sakit swasta, yang dari segi kebersihan jauh lebih baik daripada rumah sakit umum di Myanmar.

Biaya perawatan di rumah sakit swasta ternyata melampaui penghasilannya. Habis-habisan mengeluarkan biaya untuk pengobatan kanker, Aung lantas meminjam uang dari keluarga bahkan tetangga.

Aung juga harus meninggalkan pekerjaannya di sebuah toko alat-alat dapur. Toko tersebut disewakannya kepada pedagang lain agar hasilnya bisa dipakai untuk biaya pengobatan.

Saudara laki-laki-laki termuda Aung, orang yang memberikan dukungan terbesar untuknya, lebih dulu 'pergi' akibat penyakit kanker tak lama setelah Aung didiagnosis. Hanya kurang dari satu tahun, setelah Aung didiagnosis kanker payudara, usai berjuang membantu biaya pengobatan saudara perempuannya, sang adik meninggal dunia.

Dia tidak tahu pergulatan keuangan yang dia korbankan demi sang kakak. Prioritas terbesar Aung saat ini adalah sembuh dari kanker payudara agar dia bisa merawat ibunya yang sudah renta.

Diagnosis penyakit kanker ibarat sebuah vonis kematian. Namun, tak banyak yang menyadari, selain fakta tentang tingginya angka kematian, 75 persen penderita kanker juga mengalami kebangkrutan dalam jangka waktu satu tahun setelah diagnosis kanker.

Berdasarkan sebuah penelitian baru dari George Institute for Global Health, penyakit kanker bisa menjadi beban bagi masyarakat dan sistem perawatan kesehatan di Asia Tenggara jika tidak ditangani dengan cepat.

Menurut Mark Woodward, profesor dari George Insitute for Global Health, biaya yang dikeluarkan untuk penyakit kanker tak hanya berdampak bagi penderita, tapi keluarga dan lingkungan mereka juga akan merasakan dampaknya.

“Berdasarkan hasil penelitian ini, kami melihat bahwa biaya yang berkaitan degan penyakit tidak menular seperti kanker adalah salah satu faktor yang signifikan terhadap kemiskinan di Asia Tenggara,” kata Woodward dalam acara konferensi pers Result of a Study on Socioeconomic Burden of Cancer in South East Asia Countries di Nusa Dua, Bali, pada Kamis (20/8).

Untuk itu, penelitian ASEAN Cost in Oncology (ACTION) melakukan pengujian jumlah biaya yang dikeluarkan oleh sekitar 9.513 orang penderita kanker di delapan negara. Yakni, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Thailand, dan Vietnam.

“Penelitian ini merepresentasikan populasi yang luas, yang sebagian pada usia masih bekerja yakni usia 52 tahun,” kata Woodward.

Jumlah sampel negara-negara yang terlibat dalam penelitian ACTION ini adalah, Indonesia sebanyak 2.335 peserta (25 persen), Vietnam sebanyak 1.916 peserta (20 persen), Malaysia 1.662 peserta (17 persen), Thailand 1.206 peserta (13 persen), Myanmar 1.178 peserta (12 persen), Filipina 909 peserta (10 persen), Kamboja 206 peserta (2 persen), dan Laos 101 (satu persen).

Sebanyak 64 persen dari responden adalah perempuan dan 36 persen adalah laki-laki.

Epidemi melanda Asia Tenggara

Menurut Woodward, kanker akan menjadi epidemi yang akan melanda Asia Tenggara. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya populasi yang menua dan meningkatnya beban penyakit kanker itu sendiri baik dari segi medis, psikologis, dan keuangan keluarga.

Jumlah kejadian kanker dan angka kematian akibat penyakit ini pun mengkhawatirkan. Pada 2012, menurutnya, ada lebih dari 770 ribu kasus kanker baru dan 527 ribu kematian yang disebabkan oleh kanker di Asia Tenggara.

Yang memprihatinkan, Woodward beserta timnya memperkirakan, jumlah kasus baru akan meningkat sekitar 70 persen pada 2030. Angka kasus baru ini mencapai 1,3 juta jiwa.

Penelitian ACTION yang dilakukan selama satu tahun sejak 2014 ini melaporkan, dari 9.513 pasien yang ditindak lanjuti pada bulan ke-12, hampir 50 persen pengidap kanker mengalami kebangkrutan, dan 29 persen meninggal dunia.

Tak cuma itu, hampir setengah, atau sekitar 44 persen pasien yang selamat mengalami kesulitan ekonomi yang disebabkan oleh kanker. Pada akhirnya mereka menggunakan tabungan masa depan.

Bencana keuangan dan kematian

ACTION menemukan, faktor-faktor yang meningkatkan bencana keuangan dan kematian pada pasien kanker. Yang pertama, menurut Woodward adalah usia. “Pasien yang lebih tua, di atas usia 65 tahun, lebih mungkin mengalami bencana keuangan dan kematian dibandingkan pasien di bawah 45 tahun.”

Faktor kedua, menurut profesor di bidang statistik dan epidemiology di Universitas Oxford, sekaligus profesor epidemiologi di Universitas Johns Hopkins ini adalah tingkat pendapatan.

“Penghasilan rendah adalah faktor kunci untuk meramalkan bencana keuangan, terutama di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah.”

Yang ketiga menurut Woodward adalah tingkat pendidikan. “Tingkat pendidikan yang lebih rendah secara signifikan diasosiasikan dengan tingginya kematian dan bencana keuangan.” Faktor terakhir adalah asuransi kesehatan.

Pasien kanker tanpa asuransi kesehatan lebih mungkin mengalami bencana keuangan dibandingkan mereka yang memiliki asuransi. “Partisipan tanpa asuransi memiliki risiko kematian lebih tinggi. Sementara pasien dengan asuransi, relatif dapat bertahan hidup dan tidak mengalami bencana keuangan.”

Dari hasil temuan tersebut, Woodward menyimpulkan rencana tindakan yang harus dilakukan, terutama oleh pemerintah.

“Ada kebutuhan nyata bagi pemerintah untuk memperluas perlindungan keuangan melalui asuransi kesehatan sosial. Yakni yang memberikan dukungan terhadap perawatan kanker untuk melindung warganya dengan lebih baik dari biaya pengobatan kanker.”




(win/mer)