Penelitian tersebut melakukan evaluasi klinis terhadap lebih dari 2.800 pasien depresi. Ditemukan, orang-orang yang menampilkan gejala perilaku tertentu, contohnya mengemudi dan pergaulan berisiko, mondar-mandir, meremas-remas tangan, atau mengambil keputusan berdasarkan kehendaknya, maka risiko dia untuk bunuh diri setidaknya 50 persen lebih tinggi.
Temuan yang dikumpulkan oleh para peneliti di Spanyol, Perancis, Swiss, Rusia, Italia, Amerika Serikat, dan Inggris tersebut akan dipresentasikan pada konfrensi European College of Neuropscyhopharmacology (ECNP) di Amsterdam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penulis penelitian, Dina Popovic yang merupakan psikiater dan peneliti klinis di Universitas Barcelona mengatakan, kondisi depresif bercampur tidak hanya terjadi ketika pasien mengalami depresi, tetapi juga ketika memiliki gejala eksitasi atau mania.
“Pada kenyataannya, sekitar 40 persen dari semua pasien depresi yang coba bunuh diri memiliki 'episode beragam' (kondisi jiwa) bukan hanya depresi. Semua orang yang menderita depresi campuran memiliki risiko bunuh diri yang lebih tinggi,” katanya.
Dia mengatakan, gejala-gejala tersebut mungkin tidak secara spontan disebutkan oleh pasien, sehingga dokter perlu menanyakan secara langsung. “Ini pesan penting bagi semua dokter,” ujar Popovic. “Kekuatan penelitian ini adalah, ini bukan percobaan klinis dengan pasien yang ideal, tetapi sebuah studi besar di dunia nyata.”
(win/mer)