Berdasarkan jawaban lebih dari seribu petugas kesehatan, yakni dua persen dari populasi mahasiswa kedokteran Inggris, survei mengungkap besarnya kekhawatiran atas tekanan studi kedokteran, dan dampak emosional dari memulai karier medis.
Penelitian sebelumnya mengungkap tingginya tingkat depresi dan kecemasan di kalangan mahasiswa kedokteran. Namun, survei baru yang dilakukan oleh jurnal Student BMJ, menemukan, 80 persen dari mereka yang mengalami masalah kesehatan mental melaporkan, bantuan yang mereka dapatkan dari universitas buruk atau hanya dinilai 'cukup memadai'.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hanya enam dari sepuluh pelamar yang berhasil mendapat tempat di sekolah kedokteran, dan mahasiswa memiliki jadwal ujian tanpa henti, dia juga harus menyeimbangkan ketegangan emosional melihat pasien yang sakit dan menegakkan standar profesional yang tinggi," kata Matius Billingley, editor dari Student BMJ.
Jajak pendapat terhadap mahasiswa kedokteran ini juga menemukan, satu dari empat mahasiswa melapor berpesta minuman keras setiap minggu. Lalu, lebih dari delapan persen mengonsumsi obat-obatan yang dapat meningkatkan kemampuan kognitif menjelang ujian.
Tiga puluh persen mengatakan, mereka mengalami atau menerima pengobatan masalah kesehatan mental saat menjalani pendidikan di sekolah kedokteran, dan 15 persen mengatakan mereka berpikir untuk bunuh diri selama masa studi. Para responden jajak pendapat juga melaporkan, lingkungan yang lebih kompetitif memiliki efek merugikan bagi kesehatan siswa.
(win/mer)