Wanita Terlahir dengan Kondisi Tidak Peka Terhadap Nyeri

Windratie, CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 09:05 WIB
Seorang wanita lahir dengan kondisi langka channelopathy, yakni kondisi yang membuatnya tak bisa merasakan rasa sakit. Seorang wanita lahir dengan kondisi langka channelopathy, yakni kondisi yang membuatnya tak bisa merasakan rasa sakit. (Getty images/ lzf/thinkstockphotos.com)
Jakarta, CNN Indonesia -- Seorang perempuan lahir dengan kondisi langka yang membuatnya tak bisa merasakan rasa sakit. Namun, enam tahun terakhir, dia merasakan ketidaknyamanan yang panjang semenjak melahirkan.

Perempuan 37 tahun tersebut didiagnosis mengidap channelopathy, yakni ketidakpekaan terhadap gejala timbulnya rasa sakit atau channelopathy-associated insensitivity to pain syndrome (CIP), ketika usianya tujuh tahun.

Kakaknya juga didiagnosis dengan kondisi serupa, kondisi yang menyebabkan absennya rasa nyeri. Namun, setelah melahirkan lewat operasi caesar, perempuan itu mulai mengeluh adanya dengungan tak berhenti, dan kejutan listrik di kakinya. Bersama dengan itu, dia juga merasa pinggulnya seperti sedang diperas.


Kondisi tersebut timbul 18 tahun setelah dia didiagnosis mengidap channelopathy. Saat itu hasil tes mengungkap bahwa dia memiliki mutasi gen SCN9A. Mutasi tersebut menyebabkan berubahnya ambang nyeri perempuan tersebut.

Laporan kasus medis perempuan tersebut mengungkap, sebagai seorang anak, pasien mengalami berbagai cedera pada kornea dan lidah, dan juga luka bakar dan patah tulang ringan. Tapi sampai kemudian dia memiliki anak, perempuan itu tidak pernah merasa sakit.

Saat melahirkan, dia mengalami patah tulang panggul dan epidural hematoma atau penumpukan darah di otak, yang mengakibatkan tekanan pada urat saraf sampai ke tulang belakang bagian bawah. Karena kondisi channelopathy yang dideritanya, cedera tersebut tidak diketahui sampai dua bulan setelah dia melahirkan.

Pada saat dia diperiksa oleh dokter, dia merasakan kedua kakinya sangat lemah. Dua bulan setelahnya, dan empat bulan setelah melahirkan, dia mengeluh merasakan dengungan dan kejutan listrik terus-menerus di kedua kakinya, dan rasa seolah panggulnya diremas ketika berjalan.

Kasusnya sudah dilaporkan dalam situs F1000 Research. Tim medis yang merawat perempuan itu mengatakan, “Sejak cederanya, pasien kami telah menggunakan berbagai cara untuk menggambarkan rasa sakit yang dengan bahasa yang familiar.”

Pada saat istirahat, gejala-gejala itu mereda, tapi yang tersisa adalah rasa 'kesemutan', 'berdengung', dan 'kejutan listrik'. Selama kehamilan, dokter juga mencatat adanya nyeri neuropatik yang konsisten. Nyeri neuropatik adalah sakit kronis yang kompleks yang dipicu oleh cedera jaringan.

Kondisi ini kerap menjadi masalah ketika serabut saraf rusak, tidak berfungsi, atau terluka sehingga menyebabkan rasa sakit. Contoh nyeri neuropatik adalah sindrom tungkai hantu, yaitu kondisi langka yang terjadi ketika anggota tubuh diamputasi.

Otak masih mendapat pesan rasa sakit dari saraf-saraf yang awalnya membawa impuls dari bagian tubuh yang hilang, tapi sekarang saraf gagal melaksanakan tugas tersebut dan menyebabkan rasa sakit.



(win/mer)