Wanita yang Kehilangan Klitoris karena Diserang Kanker Langka

Merry Wahyuningsih, CNN Indonesia | Selasa, 08/09/2015 10:36 WIB
Selama delapan tahun terakhir, hidup Rita dipenuhi dengan rasa sakit, operasi melelahkan, dan beberapa kali kemoterapi. Tubuhnya diserang kanker langka. Ilustrasi (Thinkstock/Natalia Yakovleva)
Jakarta, CNN Indonesia -- Rita Hunter (60) pertama kali didiagnosis menderita kanker langka saat usianya 52 tahun. Selama delapan tahun berikutnya, ia berjuang melawan kanker sebanyak empat kali. Ia bahkan harus rela kehilangan organ-organ kewanitaannya.

Selama delapan tahun terakhir, hidup Rita dipenuhi dengan rasa sakit, operasi melelahkan, dan beberapa kali kemoterapi. Tak sembarang penyakit, tubuhnya digerogoti kanker vulva agresif sebanyak lima kali.

Ini merupakan salah satu penyakit paling langka, dengan hanya 1000 kasus didiagnosis di Inggris setiap tahun.


Kanker tersebut memengaruhi vulva — bagian luar vagina. Untuk menyelamatkan nyawanya, dokter terpaksa harus membuang vulva dan klitorisnya, membuatnya tak bisa lagi merasakan kenikmatan saat berhubungan seksual.

Rita sebenarnya menyadari gen kanker ada di dalam tubuhnya. Pasalnya, ibu dan saudara perempuannya meninggal akibat kanker serviks. Karena itu, Rita rajin mengawasi tanda-tanda penyakit yang tidak wajar di tubuhnya.

“Saya begitu ketakutan terkena kanker serviks, yang telah merenggut nyawa ibu dan kakak saya,” katanya, seperti dilansir dari laman Mail Online.

“Saya tidak pernah melewatkan pap smear, saya bahkan sudah menjalani histerektomi (operasi pengangkatan rahim) pada usia 40 tahun ketika saya mengembangkan sel-sel pra kanker. Tapi bukan kanker serviks yang perlu saya khawatirkan, tetapi kanker vulva. Saya tidak tahu banyak tentang hal itu.”

Perempuan asal Liverpool, Inggris, ini pertama kali mengembangkan ruam dan nyeri di bagian pangkal paha. Tapi pada saat itu ia menduga hanya menderita sistitis atau peradangan kantong kemih. Ia pun mengabaikan gejala yang dirasakannya.

Tiga bulan kemudian, saat mandi ia melihat ukuran bibir vaginanya membesar cukup signifikan. Ia pun segera berkonsultasi dengan dokter di rumah sakit.

“Mereka bilang saya menderita penyakit kulit yang disebut lichen sclerosus, yang membuat vulva tipis dan gatal,” katanya mengenang. “Ini meningkatkan risiko Anda terkena kanker vulva sebesar 5 persen.”

Tak ingin mati karena kanker, Rita pun memutuskan untuk membuang bagian dari vulvanya. Tapi dokter tak bisa menjamin kanker akan lenyap hanya dengan membuang vulva.

Benar saja, tujuh bulan kemudian kanker kembali menyerang tubuhnya. Dokter bedah di Liverpool Woman's Hospital harus melakukan operasi sekali lagi. Kali ini dokter membuang setengah dari bibir kanan vulvanya.

Tak berhenti di situ, kanker yang sama kembali menyerang tiga tahun setelah operasi kedua. Kemudian pada kanker keempat, 14 bulan setelah kanker ketiga menyerang, dokter terpaksa harus membuang klitorisnya.

“Saya benar-benar terpana. Ini adalah benteng terakhir kewanitaan saya. Saya merasa seperti dibantai,” katanya. “Kehidupan seks kami menjadi tidak ada, karena itu terlalu menyakitkan.”

Belum cukup kehilangan klitoris, kanker kelima kembali menyerang setahun kemudian. Kali ini, seorang ahli bedah plastik melakukan operasi rekonstruksi pada vulvanya, dengan mencangkok kulit dari pahanya.

“Kali ini saya benar-benar membersihkan diet saya. Saya selalu makan cukup sehat karena sejarah kanker di keluarga saya. Tapi kali ini saya harus benar-benar serius. Saya berjuang untuk kelangsungan hidup saja,” ujarnya.

Mengenal kanker vulva

Kanker vulva adalah salah satu bentuk penyakit paling langka. Vulva termasuk bibir sekitar vagina (labia minora dan labia majora), klitoris dan kelenjar Bartholin (dua kelenjar kecil setiap sisi vagina).

80 persen dari penderitanya adalah wanita yang berusia lebih dari 60 tahun. Sedangkan bentuk prakanker - vulva intraepithelial neoplasia - cenderung didiagnosis pada mereka yang berusia 30 sampai 50 tahun.

Gejalanya antara lain: gatal konstan di daerah kelamin; rasa sakit atau nyeri; kelamin menebal, merah; muncul ruam putih atau gelap pada kulit vulva; adanya luka terbuka pada kulit kelamin; rasa sakit terbakar ketika buang air; keputihan atau perdarahan; tahi lalat di vulva yang berubah bentuk atau warna; benjolan atau pembengkakan di vulva.

Vaksin HPV adalah salah satu perlindungan terbesar yang tersedia untuk penyakit ini, karena banyak bentuk kanker vulva dipicu oleh virus, seperti juga kanker serviks.



(mer)