Pria yang Merasa 'Kurang Jantan' Cenderung Bersikap Kasar

Windratie, CNN Indonesia | Senin, 28/09/2015 10:33 WIB
Pria yang Merasa 'Kurang Jantan' Cenderung Bersikap Kasar Ilustrasi kekerasan. (Thinkstock/lofilolo)
Jakarta, CNN Indonesia -- Laki-laki yang menganggap diri mereka kurang maskulin sesuai dengan norma tentang gender di masyarakat, dan dia merasa stres akan hal tersebut, cenderung lebih rentan melakukan perilaku kekerasan, berdasarkan sebuah penelitian di Amerika Serikat.

Para peneliti mengatakan, laki-laki tersebut lebih mungkin melakukan kekerasan dibandingkan dengan laki-laki yang lebih nyaman dengan diri mereka sendiri.

Namun, bukan berarti juga semua orang yang merasa 'kurang jantan' akan menjadi kasar, kata Dennis Reidy, dokter yang juga penulis senior penelitian dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit di Atlanta.


“Kata kuncinya adalah 'stres',” katanya seperti dilansir dari laman Reuters. “Penting untuk paham bahwa itu adalah kombinasi dari dua hal.”

Dengan kata lain, perilaku kekerasan bisa terjadi ketika seorang lelaki meyakini bahwa orang lain memandang dirinya kurang maskulin, lalu merasa tertekan tentang hal tersebut. Para peneliti menyebut hal tersebut sebagai 'stres karena ketidaksesuaian norma-norma maskulinitas'.

Secara umum, lelaki cenderung mengalami risiko kesehatan buruk dan cedera lebih tinggi. Sebagian karena laki-laki lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko tinggi.

Jika dibandingkan dengan perempuan, lelaki memiliki tingkat yang tinggi untuk penggunaan zat berbahaya, pesta minuman keras, kenekatan, mengemudi dengan agresif, membawa senjata, dan perilaku kekerasan.

Dan  salah satu alasan tak sehat melakukan perilaku penuh risiko tersebut mungkin terkait dengan 'stres karena perbedaan maskulinitas', menurut Reidy dan rekan penulisnya.

Dia menambahkan, banyak faktor yang menyebabkan seseorang melakukan perilaku kekerasan dan tindakan berisiko. Namun, tak ada satu satu hal yang bisa sepenuhnya menjelaskan perilaku atau penyebab perilaku tersebut.

Untuk penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Injury Prevention, Reidy merekrut sekitar 600 laki-laki berusia 18 sampai 50 tahun melalui situs pengumpulan data online Mechanical Turk.

Para peserta disurvei tentang persepsi diri yang berkaitan dengan peran gender. Lalu para peneliti menilai apakah lelaki yang mengalami stres psikologis percaya bahwa orang lain merasa diri mereka kurang maskulin.

Untuk laki-laki stres dengan keyakinan tersebut, tim peneliti juga melihat apakah stres tersebut diwujudkan dalam perilaku berisiko atau kekerasan.

Peserta yang mencetak nilai tinggi untuk perbedaan persepsi diri dan stres dilaporkan memiliki tingkat kekerasan 348 persen lebih tinggi dibandingkan laki-laki dengan 'stres karena ketidaksesuaian persepsi maskulinitas' yang rendah.

“Jika maskulinitas seseorang terancam dalam berbagai cara, seringkali tanggapan mereka adalah mencoba menunjukkan maskulinitas secara berlebihan dengan cara lain,” kata Tristan Bridges, sosiolog di Universitas Brockport State di New York.

(win/utw)