Siapkah Dunia Menyambut Hari Tanpa Berewok?

Rizky Sekar Afrisia, CNN Indonesia | Minggu, 18/10/2015 10:47 WIB
Kalau World Beard Day dirayakan pada September lalu, Oktober adalah waktunya No Beard Day, meski hari itu kalah pamor dibanding menumbuhkan berewok. Belakangan ini berewok identik dengan maskulinitas. (muratkalenderoglu/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Awal September lalu, para pria sudah bersenang-senang memanjangkan berewok saat merayakan World Beard Day. Pertengahan Oktober ini, masa bersenang-senang berakhir. Berewok yang selama ini melambangkan maskulinitas harus dipotong kembali untuk No Beard Day.

Mengutip Days of the Year, No Beard Day merupakan gerakan anti terhadap keyakinan bahwa berewok melambangkan kemaskulinan pria. Pada hari itu, yang disebut-sebut jatuh pada 18 Oktober, pria perlu mengambil pencukur dan mengembalikan kegaharan mereka jadi baby face.

No Beard Day percaya, wajah pria yang bersih lebih tampan dan baik ketimbang penuh berewok.


Sejarah dan penggagas No Beard Day tidak dapat dilacak jelas. Keterangan soal itu bahkan tidak dilansir di laman informatif Wikipedia. Namun North Devon Journal menulis, "Minggu, 18 Oktober para pemilik dagu botak di UK akan bersatu merayakan sedikitnya rambut wajah."

Situs itu pun menjelaskan alasan lain mengapa ada No Beard Day, dan dirayakan menjelang musim dingin saat harusnya berewok ditumbuhkan. Lazimnya, berewok baru dicukur saat musim semi apalagi memasuki musim panas.

Menurut North Devon Journal, No Beard Day bisa juga dijadikan ajang pembuktian para pria kepada musim dingin, siapa "bos"-nya. Tanpa berewok, mereka membuktikan bisa bertahan.

Meski punya banyak alasan, No Beard Day tetap kalah populer dibanding World Beard Day. Para selebriti merayakannya. Bahkan World Beard Day punya komunitas khusus yang tahun lalu menggalang piramida manusia yang semuanya berjenggot. Bahkan para perempuan pun hari itu berlomba-lomba foto memakai berewok palsu. (rsa/rsa)