Alasan Karyawan Tetap Masuk Kerja Meski Sakit

Windratie, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2015 10:46 WIB
Alasan Karyawan Tetap Masuk Kerja Meski Sakit Ilustrasi sakit di kantor. (Thinkstock/BartekSzewczyk)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pekerjaan menuntut, penuh tekanan, dan tidak memberikan rasa aman secara finansial, menjadi tiga alasan utama yang memotivasi pekerja masuk kantor ketika seharusnya mereka istirahat di rumah karena sakit. Hal itu berdasarkan hasil ulasan penelitian yang diterbitkan di jurnal Occupational Health Psychology.

Baca juga : Mengapa Banyak Pekerja Tetap 'Ngantor' Saat Sakit Flu?

Dilaporkan oleh Reuters, Gary Johns, peneliti bisnis dan manajemen di Concordia University, Montreal, mengatakan, memahami apa yang memotivasi karyawan tetap bekerja ketika mereka sakit membantu pengusaha membuat kebijakan cuti sakit. Kebijakan ini mungkin efektif mencegah penyebaran penyakit menular di tempat kerja.


“Untuk kasus penyakit menular, penyebaran penyakit ke rekan kerja dan pelanggan atau klien adalah kekhawatiran yang jelas,” kata Johns.

“Di sisi lain, jika penyakit tidak menular atau melemahkan,  disarankan agar orang-orang tetap bekerja meskipun kondisi tidak terlalu bugar.”

Johns dan rekan studi Mariella Migralia dari Norwich Business School di University of East Anglia, Inggris, menganalisis data 61 penelitian sebelumnya, melibatkan lebih dari 175 ribu orang di lebih dari 30 negara.

Mereka ingin menilai, apa yang mungkin memotivasi orang untuk tetap bekerja ketika mereka sakit.

Kedua peneliti merujuk kondisi bekerja ketika sakit sebagai 'presenteeism'. Dalam studi mereka, 'presenteeism' kerap dihubungkan dengan kebijakan tempat bekerja yang ketat. Misalnya, penilaian kedisiplinan, cuti sakit terbatas, atau mewajibkan adanya surat izin sakit dari petugas medis.

Tuntutan pekerjaan juga berperan besar. Beban kerja yang berat, kurang pegawai, lembur, tenggat waktu, semuanya memotivasi karyawan untuk tetap bekerja meskipun kondisinya sakit.

“Pembatasan ketat cuti sakit, perlunya keterangan dokter untuk memvalidasi penyakit karyawan dapat membatasi efektivitas waktu istirahat seseorang untuk mencegah penyebaran penyakit ditempat kerja,” kata peneliti dari University of California, San Francisco, Eric Widera.

Banyak pekerja merasa, pekerjaan mereka akan menumpuk jika mereka istirahat di rumah, atau khawatir berkurangnya pemasukan karena cuti sakit yang tidak dibayar.

Namun, karyawan yang merasa tidak punya pilihan untuk bekerja ketika sakit dapat mencegah penyebaran penyakit menular, seperti influenza, dengan menghindari tatap muka saat berbincang dengan rekan kerja dan sering-sering mencuci tangan, kata Supriya Kumar, peneliti kesehatan publik di University of Pittsburgh.

(Reuters/les)