Mencicip Segar Seruit Lampung

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Kamis, 12/11/2015 15:31 WIB
Mencicip Segar Seruit Lampung Ilustrasi ikan bandeng (Thinkstock/Maksim Toome)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekilas, tak banyak beda citarasa makanan Lampung dan Palembang, yakni asin dan pedas tanpa rasa manis. Namun jika diperhatikan benar, tetap ada yang berbeda di konsistensi kuah dan rasa bumbunya. 

Gulai taboh (gurih), misalnya, yang pada September 2015 dimasukkan dalam daftar warisan budaya tak benda dunia dari Provinsi Lampung.  

Taboh adalah gulai dengan aneka isi, yakni ikan, ayam, udang, kacang-kacangan, dan biji melinjo. Boleh digabung semuanya, boleh juga hanya beberapa. Apa bedanya dengan gulai daerah lain? 
Gulai Taboh Khas Lampung (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
“Gulai kami tidak pakai bawang putih, bumbunya tidak ditumis, dan gurihnya murni dari santan kelapa, tanpa bahan penyedap buatan,” ujar Isna Adianti, pemilik rumah makan Cikwo di Sumur Batu, Bandarlampung.  


Cikwo adalah restoran pertama di Lampung mengkhususkan diri pada kuliner lokal. Selain itu, lanjut Isna, santan yang digunakan juga dipisah antara santan cair dan santan kental. Bumbu dimasak dulu bersama santan cair, baru belakangan ditambahkan santan kental, sehingga rasa santannya “tidak matang”. 

Di Cikwo ini kita bisa temukan makanan Lampung yang sudah jarang terhidang di atas meja, kecuali pada hari Lebaran dan perayaan-perayaan khusus. Ambil contoh segubal dan buak tat yang jadi hidangan Lebaran. 

Segubal adalah beras ketan yang dimasak bersama santan, dibungkus daun pisang, kemudian dimasak kembali, dengan total waktu memasak lebih dari 10 jam. Segubal dimakan bersama lauk opor ayam, rendang, dan sayur. Sedangkan buak tatadalah kue berbahan mirip nastar, yakni adonan terigu yang diisi selai nanas. 

Tak lengkap bicara kuliner Lampung tanpa menyebut seruit. Demikian terkenalnya seruit, hingga di Lampung ada istilah “nyeruit” untuk menyebut aktivitas makan seruit. 

Seruit adalah sambal, terong bakar, dan ikan bakar yang dimakan bersama lalap. Ikannya bisa ikan sungai, bisa pula ikan laut, umumnya nila. Sedangkan lalapnya gabungan lalap mentah dan lalap yang sudah dimasak, yakni daun pepaya rebus, daun singkong rebus, selada, timun, kol, terong bulat, petai, jengkol, dan julang-jaling. Paling khas adalah sambalnya yang, kurang lebih, merupakan gabungan sambal terasi dan tempoyak (durian fermentasi), terdiri dari cabe merah, bawang merah, bawang putih, tomat, dan terasi.

Sambal terasi dan tempoyak disajikan terpisah dengan pertimbangan tak semua orang suka durian.
 

Di piring makanlah keduanya disatukan, diaduk rata, hingga siap jadi cocolan ikan patin panggang, terong bakar, dan aneka lalap, menemani nasi pulen yang sedang mengepul-ngepul.  

Kuliner Lampung, Cikwo Tempatnya 

Jika berkunjung ke Lampung sempatkan ke Restoran Cikwo untuk mencicipi kuliner Lampung yang otentik. 

Berada di sudut jalan Nusa Indah 3, Sumur Batu, Bandarlampung. Meja-kursi disusun di dalam, di teras, dan di halaman. Di sudut halaman ada panggung kecil tempat ditampilkannya tarian tradisional Lampung sebagai pengantar tamu makan. 

Di sini kita bisa menikmati seruitsegubalpindang baungcucokh mandankacang tujin, hingga cubik/ khemas dengan rentang harga Rp6 ribu hingga Rp35 ribu. Tak lupa kopi lampung, kopi robusta yang dihidangkan bersama susu kental manis dalam gelas mungil. 

“Maunya semua makanan khas Lampung ada di sini, tapi karena kami lahir dan besar di Liwa, Pesisir Barat, jadi kebanyakan dari Pesisir Barat,” ujar Isna Adianti, pemilik Cikwo. 

Restoran ini berdiri pada Februari 2015. Walau terhitung baru, bahkan belum genap setahun, sudah merebut hati masyarakat.

Pelanggannya datang dari berbagai usia. Pelanggan dewasa menyukai hidangan beratnya, sedangkan pelanggan muda lebih suka makanan ringan dan kopi lampung yang mereka nikmati di halaman.
 

“Cikwo” adalah panggilan khas Lampung bagi anak perempuan tertua. Nama ini dipilih karena Isna adalah sulung dari empat bersaudara. Dia membuka restoran ini bersama minan (bibi)-nya, Sopiah, yang berpengalaman mengelola katering hidangan khas Lampung. (les)