Bernapas Lebih Sedikit Bisa Memperpanjang Usia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 22/11/2015 10:36 WIB
Bernapas Lebih Sedikit Bisa Memperpanjang Usia Teknik pernapasan bisa memperpanjang usia. (Getty Images/Thinkstock/Geribody)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagaimana jika Anda diminta bernapas lebih sedikit dari yang biasa dilakukan sehari-hari? Guru yoga asal Australia, Simon Borg-Olivier menyarankannya jika Anda ingin hidup lebih lama.

"Semakin sedikit seseorang bernapas, semakin panjang usianya," kata Borg-Olivier saat berbincang dengan CNN Indonesia di sela waktu mengajarnya dalam Namaste Festival 2015 di Jakarta, Sabtu (21/11).

Bernapas lebih sedikit, kata Borg-Olivier, adalah mengurangi intensitas bernapas mejadi sedikit di bawah jumlah saat kondisi normal. Namun, pengurangan harus diiringi peningkatan durasi dalam sekali bernapas.


Bagaimana itu bisa memperpanjang usia?

Menurut Borg-Olivier, intensitas bernapas yang tinggi dalam durasi tertentu bukannya meningkatkan kadar oksigen yang didapat tubuh. Itu justru membuat tubuh lebih sedikit menerima oksigen yang dibutuhkan.

Borg-Olivier mencontohkan dengan kegiatan berlari. Bila bernapas terlalu cepat, alih-alih merasa lega, justru semakin sesak karena kurangnya oksigen, padahal intensitas bernapasnya sudah tinggi.

Hasilnya akan berbeda jika bernapas dalam kondisi santai. Intensitas bernapas akan melambat dan dalam durasi yang lebih panjang dibanding saat setelah berlari.

Atas asumsi itu, sang guru yoga yang sekaligus fisioterapis menyarankan bernapas dalam kondisi relaks, agar pernapasan meningkatkan asupan oksigen ke tubuh.

Dalam tulisannya di laman Yoga Synergy, Borg-Olivier menjelaskan bahwa pada kondisi normal, seseorang dapat bernapas tiga hingga lima kali dalam satu menit. Namun dalam ajaran yoga, bernapas dapat dikurangi menjadi satu kali namun dengan durasi hingga dua menit.

Itu dianggap berefek memperpanjang umur.

"Di dalam tubuh ada yang namanya Bohr Effect. Saat bernapas, untuk mendapatkan oksigen justru dibutuhkan karbon dioksida. Permasalahannya, semakin sering kita napas dengan cepat maka karbon dioksida lebih banyak keluar, sekaligus dengan oksigen," kata Borg-Olivier menjelaskan.

Bohr Effect adalah sebuah kondisi fisiologis dalam proses pernapasan yang menjelaskan bahwa kandungan karbon dioksida dalam darah memengaruhi proses pengikatan oksigen oleh hemoglobin di sel darah merah.

Bernapas dalam kondisi relaks lebih bagus untuk tubuh. (Getty Images/Thinsktock/4774344sean)
Dalam proses bernapas, darah kotor membawa karbon dioksida hasil metabolisme dalam bentuk asam. Melalui proses kimia tubuh, ia diubah menjadi karbon dioksida untuk "dibuang" ke paru-paru dan ditukar dengan oksigen. Selanjutnya, oksigen ditangkap hemoglobin dan dibawa ke seluruh tubuh.

Dengan memanfaatkan prinsip Bohr Effect ini, Borg-Olivier meyakini bahwa dengan melatih cara bernapas yang efisien, yaitu dalam kondisi relaksasi dan durasi yang panjang, dapat meningkatkan asupan oksigen. Dampaknya tentu positif untuk tubuh.

"Cara paling mudah untuk melakukannya, lupakan bahwa sedang bernapas. Bila tidak ingat, tubuh akan dalam kondisi relaksasi dan lebih efisien dalam bernapas. Namun perlu latihan juga sehingga mendapatkan napas yang panjang," kata Borg-Olivier. (rsa/rsa)