UNICEF: Remaja Perempuan Indonesia Masih Buta Menstruasi

Tri Wahyuni | CNN Indonesia
Selasa, 24 Nov 2015 11:58 WIB
Masih banyak remaja perempuan di Indonesia yang salah kaprah tentang menstruasi, terutama di daerah. Ilustrasi pembalut wanita. (MamaMiaPL/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi masyarakat ibu kota menstruasi mungkin bukan hal yang tabu lagi. Pengetahuan tentang menstruasi pun sudah berkembang pesat, bahkan sampai pada penyakit-penyakit yang berhubungan dengan menstruasi seperti penyakit rahim.

Tapi, tidak demikian dengan masyarakat di daerah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh UNICEF di beberapa daerah di Indonesia seperi di anataranya Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, ternyata masih ada kesalahpahaman tentang menstruasi.

UNICEF menyebutkan, masih banyak perempuan di daerah yang memakai pembalut lebih dari delapan jam. Apalagi para siswa perempuan. Padahal, kebiasaan itu bisa membuat alat kelamin mereka terasa gatal.


Lebih dari itu, bahkan anak-anak tak tahu kalau menstruasi merupakan siklus yang terjadi tiap bulan. "Bulan berikutnya saya menstruasi lagi, dan saya pikir hal tersebut hanya akan terjadi satu kali dalam setahun," kata seorang siswa SMA di Jawa Timur seperti dikutip dari laporan UNICEF.

Tak hanya itu, bahkan di sebuah daerah, orang tua maupun guru tidak memberikan pengetahuan tentang menstruasi kepada siswa perempuannya. Akibatnya ketika siklus itu datang mereka tak tahu harus melakukan apa.

"Saya tidak tahu apa itu menstruasi dan saya tidak tahu cara menggunakan pembalut. Ibu saya berkata untuk menggunakan pembalut dan saya benar-benar tidak tahu apa yang harus saya lakukan dengan benda tersebut," kata seorang anak perempuan dari Sulawesi Selatan.

"Orang-orang akan menatap saya jika ada noda pada pakaian saya ketika pulang dari sekolah. Bahkan akan menjadi topik hangat jika hal tersebut terjadi," kata seorang anak perempuan yang masih duduk di bangku SMP.

Berdasarkan penelitian tersebut, disimpulkan bahwa di daerah, pengetahuan tentang menstruasi masih minim. Para sumber informasi seperti ibu, guru, dan teman-teman tidak siap untuk memberikan informasi yang akurat dan menyeluruh untuk anak perempuan.

Permasalahan tentang menstruasi tak hanya berhenti di situ. Buruknya fasilitas air dan sanitasi juga menambah permasalahan sendiri bagi perempuan yang berada di daerah.

Misalnya saja tidak ada tempat pribadi bagi perempuan untuk bersih-bersih pada saat menstruasi di sekolah atau di tempat umum karena penggunaan toilet masih sering dicampur dengan laki-laki. Tempat untuk membuang pembalut pun tidak tersedia. (les)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER