Mengenal Berugaq dan Jejinjit, Warisan Budaya Suku Sasak

Silvia Galikano, CNN Indonesia | Selasa, 24/11/2015 16:48 WIB
Mengenal Berugaq dan Jejinjit, Warisan Budaya Suku Sasak Rumah Adat Suku Sasak Lombok. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Jakarta, CNN Indonesia -- Suku Sasak, yang kini mencapai 15 generasi, tersebar di sembilan dusun di Lombok. Tiap dusun punya satu berugaq sekenam, yakni bale besar milik dusun yang disangga enam tiang, digunakan warga untuk acara-acara besar, seperti pernikahan dan khitanan.
 
Di Sade, berugaq sekenam yang berukuran 8x3 meter berada di kiri pintu masuk dusun. Beberapa warga duduk di sini, berangin-angin di siang yang terik, bercengkerama dengan tetangga dan wisatawan yang baru datang.
 
Selain berugaq sekenam, ada lagi berugaq berukuran lebih kecil, yakni berugaq sekepat yang disangga empat tiang, dan jejinjit yang lebih kecil dari berugaq sekepat.
 
Berugaq sekepat digunakan untuk menerima tamu. Mendirikannya pun musti menyembelih kambing. Sedangkan jejinjit yang ada di tiap rumah berfungsi sekadar tempat istirahat, tempat menenun, dan pembangunannya tidak diikuti upacara.
 
Ketika CNN Indonesia mengunjungi Sade beberapa waktu lalu, Ameq Kurnia sedang menikmati makan siang di berugaq sekenam sambil mengawasi pembangunan rumahnya yang berada di samping berugaq.
 
Rumah baru itu menggantikan rumah lama yang setelah 35 tahun jadi lapuk. Semua harus diganti, kecuali daun pintu yang masih kuat.
 
Pondasi, tiang, dan rangka atap sudah berdiri. Menyusul tahap berikutnya melapisi pondasi dengan campuran kotoran kerbau, memasang daun pintu, memasang dinding bambu, dan memasang atap rumbia.

Rumah Adat Suku Sasak Lombok. (CNN Indonesia/Silvia Galikano)
Acara syukuran sawur motuseong kemudian digelar sebagai penutup proses pembangunan rumah. Beras sangrai yang dicampur gula jawa dan irisan kelapa dimantrai pemangku adat, lalu di-sawur (dilempar-sebar ke atas) ke rumah sebagai penolak bala.
 
Sayang memang, namun seperti kerap terjadi, pelestarian budaya akhirnya kalah dengan alasan kepraktisan.

Pun demikian di Desa Sade, Ameq Kurnia tidak meneruskan tradisi leluhur yang menggunakan pondasi hanya dari campuran tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau yang dipadatkan. Dia menggunakan bata sebagai pondasi, baru kemudian campuran tanah liat, sekam padi, dan kotoran kerbau sebagai pelapisnya.


(les/les)