Dampak Buruk Terlalu Sering Cuci Tangan

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 16/12/2015 11:49 WIB
Dampak Buruk Terlalu Sering Cuci Tangan Ilustrasi cuci kulit. (Thinsktock/AlexRaths)
Jakarta, CNN Indonesia -- Gejala ruam yang terjadi di kulit akibat dermatitis atopic ternyata dapat menjadi sangat mengganggu kehidupan. Mulai dari hanya sekedar gatal, hingga kemudian merembet menjadi sesuatu yang mengganggu kehidupan nyata.

"Banyak kok contoh kejadian atopic yang parah, bahkan hingga tangannya dipenuhi bintil-bintil bernanah," kata Rachel Djuanda, dokter spesialis kulit ketika berbincang dengan CNNIndonesia.com, Selasa (15/12).

Rachel yang ternyata juga mengidap dermatitis atopic, sudah terbiasa menangani berbagai jenis pasien dengan penyakit kulit yang kadang belum terbayangkan sebelumnya. Mulai dari sekedar gatal, hingga muncul bintil-bintil bernanah di jari-jari tangan.


Dermatitis atopic merupakan sebuah penyakit kulit yang diderita oleh orang dengan jenis kulit yang sensitif dan kering. Penyakit ini muncul karena mudahnya kulit terinfeksi akibat kondisi kulit yang kering. Gejala yang muncul biasanya adalah gatal, lalu ruam, hingga timbul gejala yang lainnya.

Faktor penyebab munculnya ruam atopic dapat sangat beragam. Mulai dari makanan yang dapat memicu ruam, hingga berbagai zat atau situasi yang menyebabkan ruam tersebut muncul. Contohnya, sisa deterjen pada baju, stres, hingga perilaku keseharian.

"Kalau dasarnya sudah punya kulit sensitif yang kering, nah pas sudah punya anak jadi bersih secara ekstrim, seperti sebentar-sebentar cuci tangan, baik dengan sabun ataupun alkohol. Sebelum sentuh anak cuci tangan, sesudahnya juga, lalu pada kegiatan lainnya juga. Lama-kelamaan kulit tangannya iritasi lalu kemasukan kuman hingga bernanah, sering kejadian seperti itu," kata Rachel.

Kebiasaan seperti itu juga dapat terjadi bila memiliki kegemaran menggunakan alkohol, baik secara langsung ataupun tidak langsung seperti pada penggunaan tisu basah. Penggunaan alkohol dapat membuat kulit sensitif menjadi iritasi sehingga dapat luka dan infeksi.

Selain itu, Rachel menyarankan mengurangi penggunaan pembersih tangan tanpa air, karena hanya akan mematikan kuman tanpa membuatnya bersih. Membersihkan tangan paling efektif menurut Rachel adalah dengan air mengalir.

"Buat apa juga membunuh kuman yang ada di tangan terus-terusan? Nanti keseimbangan terganggu. Misal bakteri di tangan mati, yang tersisa tinggal jamur, jadinya ya jamuran," komentar Rachel.

Rachel sendiri sebenarnya mengalami ketidaknyamanan menjadi seseorang dengan dermatitis atopic. Dia mulai menyadari kondisi genetis yang tak menyenangkan tersebut sejak remaja, ketika ia mulai coba-mencoba perawatan selayaknya gadis pada umumnya.

Namun ketika dia bersentuhan dengan alkohol seperti pada antiseptik dan yang lainnya, ia merasakan kulitnya berubah kering. Beruntung, ayah dan kakeknya adalah dokter kulit, sehingga ia pun cepat terobati, sekaligus belajar tentang kulit.

"Pokoknya kena alkohol, kulit tuh kayak beludru, tidak enak rasanya. Dilihat tuh kayak busik," kata Rachel. "Paling kering itu sikut, udah mencoba sampai balur minyak bulus sampai bau setiap malam, tapi tidak mempan juga. Mengganggu deh, tapi sampai parah banget sih tidak,"

Pengalaman diri sendiri ditambah dengan ketertarikannya di bidang kulit, membuat ia memutuskan mendalami lebih lanjut di Universitas Indonesia, tempat ia meraih gelar dokter dan spesialisasinya. Kini, setiap ada pasien dengan gejala ruam gatal berkali-kali, ia sudah memiliki cara tersendiri.

Rachel kerap memberikan kortikosteroid topikal sebagai obat untuk penyakit ruam. Namun ia memberikannya dalam jumlah yang terbatas, dengan tujuan sembari mengawasi perkembangan ruam yang terjadi pada pasiennya.

"Biasanya saya kasih tahu ada gejala atopicnya bila memang ada, dan saya kasih edukasi. Karena sebenarnya pencegahan itu lebih enak. Penyakit kulit itu 90 persen tidak diketahui penyebabnya, itu yang masih menjadi pekerjaan rumah sampai sekarang," terangnya.

"Kalau belum terlalu parah, biasanya saya bilang ya terima saja, baru kalau muncul diobati. Tapi sembari diawasi pencetus munculnya apa." (les/les)