Jakarta, CNN Indonesia -- “Teroris di Indonesia gagal.” Kalimat ini menyertai sejumlah
meme yang beredar sejak kemarin sore (14/1), beberapa jam setelah aksi teror mengguncang kawasan Semanggi, Jakarta.
Disebut gagal, karena aksi mereka tak membuat
netizen merasa diteror, sebaliknya malah “kreatif” bikin lelucon. Padahal saat siang,
netizen masih mengicaukan pesan duka, empati dan heroik.
Mereka antara lain mencuitkan pesan dengan tagar #PrayforJakarta, juga #KamiTidakTakut. Tidak sedikit juga yang menyerukan “
Be Strong Jakarta, Be Strong Indonesia.”
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun menjelang sore, berbarengan dengan beredarnya kabar penangkapan pelaku aksi teror oleh tim kepolisian,
netizen tak berlama-lama berduka. Mereka mulai mencuitkan
meme lucu.
Salah satu gambar kocak yang beredar luas memperlihatkan foto pria tampan yang mengenakan atasan bertuliskan “polisi” di bagian punggung, lengkap dengan tagar #KamiNaksir.
Menurut pakar media sosial Enda Nasution, saat dihubungi
CNNIndonesia.com pada Jumat (15/1), reaksi
netizen menyebarkan gambar atau
meme lucu pasca tragedi Thamrin terbilang wajar.
“Inilah media sosial, di mana orang bisa menyebarkan informasi beragam format dengan mudah, termasuk
meme,” kata Enda. “Beredarnya
meme lucu masih dalam tahap wajar.”
Hal senada juga disampaikan pakar teknologi informasi Nukman Luthfie. Kepada
CNNIndonesia.com, pada Jumat (15/1), ia menilai beredarnya
meme lucu di tengah situasi "panas" tergolong wajar.
“Wajar, di tengah situasi tegang, orang melontarkan guyonan. Ini menunjukkan selera humor
netizen saat melepas ketegangan dan kekesalan terhadap aksi teror,” kata Nukman.
Ia mencontohkan salah satu meme yang berbunyi, “Teroris ISIS diperintah ke Suriah, kesasar ke Sarinah,’ sebagai ungkapan kejengkelan terhadap ISIS atau teroris yang dikemas humor.
Situasi menjelang sore yang terbilang kondusif, di mana tim kepolisian sigap membekuk pelaku, dan mengamankan tempat kejadian, menurut Nukman juga mempengaruhi perilaku
netizen.
Netizen, menurut Nukman, merasa situasi sudah aman, sehingga perasaan yang semula tertekan dan tegang akibat aksi teror berubah menjadi perasaan lega. Mereka
move on lewat
meme lucu.
Beredarnya cuitan dengan tagar #KamiNaksir, diyakini Nukman, juga bentuk kreativitas
netizen di media sosial yang sudah begitu khas di tengah suasana yang relatif sudah terkendali.
Nukman menilai
netizen Indonesia cepat
move on dari Tragedi Thamrin. Dalam sehari mereka bisa berubah dari berduka, lalu berempati, dan tak lama kemudian santai bercanda.
Berbeda halnya dengan
netizen Eropa dan belahan dunia lain pasca Tragedi Paris yang berduka selama berhari-hari dengan tagar #PrayforParis. Boro-boro ada tagar “alternatif” #KamiNaksir.
Nukman menilai humor di internet di tengah tragedi baru marak belakangan ini. “Dulu, saat terjadi Bom Bali dan Bom Kedubes Australia kayaknya tidak ada guyonan seperti sekarang.”
Etikanya, menurut Enda,
netizen bertoleransi, tidak mendahulukan kesenangan atau kepentingan pribadi. Tidak perlu adu cepat melontarkan candaan mengingat tragedi berdarah baru saja terjadi.
Namun cuitan lucu di tengah tragedi, menurut Nukman, masih tergolong wajar dibanding cuitan ngeri yang dibarengi foto-foto korban yang terluka parah atau meninggal dunia.
“Ada kalanya publik tak paham etika menyebarkan foto di internet,” kata Nukman. “Foto ekstrem yang menampilkan korban luka parah atau mati seharusnya disensor atau di-
blur.”
Hal serupa juga disampaikan Enda. Menurutnya,
netizen harus sensitif terhadap situasi kritis, tidak mengumbar hal yang tidak pantas, seperti memamerkan foto korban luka parah dan mati.
Nukman menyesalkan tindakan orang “kreatif” yang tak berempati dan berpikir. “Boleh saja bangga memamerkan foto sebagai saksi utama tragedi, tapi fotonya yang ekstrem harus di-
blur.”
Tindakan lain netizen yang juga disesali Nukman: terburu-buru menyebarkan berita atau foto tanpa akreditasi jelas yang malah berpotensi memicu kekacauan di tengah masyarakat.
Ia juga prihatin atas tindakan netizen yang gemar memelintir suatu kejadian, dan bersikap kritis di luar kewajaran. Seharusnya
netizen kompak menyebarkan informasi yang edukatif.
“Informasi keliru atau tanpa konfirmasi yang telanjur beredar di internet bisa berbahaya,” kata Enda. “Tak perlu lah bereaksi melampaui batas. Lebih baik menyebar informasi yang positif.”
(vga/vga)