Tren Aplikasi Antar, Bikin Jadi Mudah Atau Malah Malas?

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Kamis, 25/02/2016 14:10 WIB
Keberadaan berbagai aplikasi yang memudahkan pekerjaan manusia kini semakin menjamur. Tapi, di sisi lain, itu dianggap membuat manusia semakin malas, benarkah? Ilustrasi. (Freestocks)
Jakarta, CNN Indonesia -- Keberadaan berbagai aplikasi yang memudahkan pekerjaan manusia kini semakin menjamur. Mulai dari aplikasi daring pencari jasa transportasi, pengantar makanan dan belanjaan, hingga kini yang paling baru adalah jasa pencari obat bagi pasien.

"Karena saya orang teknologi, jadi saya melihatnya positif," kata Jonathan Sidharta, CEO M-Health saat berbincang dengan CNNIndonesia.com saat pengenalan aplikasi ‘Apotik Antar’ kepada media di Jakarta Pusat, belum lama ini.

"Kalau kata Bill Gates, 'saya memilih orang yang malas untuk sebuah kerja keras karena orang malas akan mencari cara yang mudah untuk mengerjakannya'. Itu Bill Gates lho yang ngomong," lanjutnya sembari tertawa. "Tapi dengan perkembangan teknologi banyak dampak positifnya dan menolong pada beberapa kejadian.”


Beberapa waktu terakhir, hidup sebagian masyarakat Indonesia terutama yang di kota besar seolah tak pernah lepas dari gawai. Banyak aplikasi daring yang membantu pekerjaan sehari-hari, seperti Go-Jek meluncurkan Go-Clean untuk jasa bersih-bersih tempat tinggal, Go-Box untuk jasa pengiriman barang, dan Go-Massage untuk melepas pegal dengan mengantar tukang pijat ke rumah.

Bukan Cuma di Indonesia

Aplikasi antar yang menjamur ini ternyata bukan cuma di Indonesia. Menurut penuturan Jonathan, tren aplikasi yang memudahkan hidup manusia sudah berkembang di berbagai negara seperti Amerika Serikat, di Eropa, serta India.

Jenis aplikasinya pun mirip, mulai dari transportasi, kebutuhan rumah tangga, hingga jasa kesehatan.

"Sepengetahuan saya, Indonesia sekarang memiliki jumlah pengguna Twitter dan Facebook 20 juta orang lebih banyak dibanding Inggris. Dan 75 persennya adalah pengguna mobile, mereka juga terbiasa menggunakan aplikasi,” kata Jonathan.

Hal itulah yang membuat masyarakat Indonesia semakin tak bisa lepas dari gawai. Tapi, tidak hanya di Indonesia. Fenomena ini juga terjadi secara global.

Sebuah studi pada 2014 lalu mengungkapkan bahwa orang melihat gawai atau telepon genggamnya sebanyak 1500 kali dalam sepekan. Artinya, setiap orang melihat layar HP kurang lebih delapan kali setiap jamnya.

Dalam sebuah studi lainnya yang dilakukan oleh Nielsen pada 2015, terdapat bahwa sebanyak 85 persen pengguna telepon pintar menghabiskan waktunya menggunakan aplikasi asli dari gawai, dan sebanyak 84 persen dari waktu yang mereka habiskan hanya untuk lima jenis aplikasi tambahan.

Jenis aplikasi yang digunakan juga beragam, beberapa banyak menghabiskan di media sosial atau permainan, dan sisanya di aplikasi pesan instan.

"Dari banyaknya orang yang sering melihat ponsel itu, maka muncul ide untuk menjual apapun melalui smartphone, dan pemerintah sendiri mencanangkan Indonesia sebagai pasar digital terbesar,” kata Jonathan. "Jadi menurut saya, budaya orang Indonesia dalam menggunakan smartphone mendukung pesatnya bisnis digital terutama aplikasi.”

Kemudahan itu kemudian memicu pendapat bahwa aplikasi antar justru membuat masyarakat modern menjadi lebih malas untuk bergerak. Tapi, Jonathan menyanggah, ada juga aplikasi yang mengingatkan masyarakat untuk tetap hidup sehat.

Pun dengan anggapan keberadaan aplikasi daring membuat penurunan pada sektor ekonomi tertentu. Menurut Jonathan, aplikasi serta bisnis digital yang ia kerjakan tak mengganggu siapapun dan tetap membuka jalan usaha orang lain seperti dokter, apoteker, dan jasa kurir.

"Menurut saya kalau dunia ini bergerak ke arah yang lebih mudah ya mau tidak mau mesti adaptasi. Kalau dari segi kesehatan, akan ada cara atau aplikasi lain untuk tetap sehat, tapi kalau masyarakat menginginkan yang lebih menyederhanakan kegiatan sehari-hari, ya pasti akan ada yang menyediakan,” paparnya. (les/les)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK