Kisah Pahit Industri Cokelat Indonesia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 22/03/2016 09:00 WIB
Kisah Pahit Industri Cokelat Indonesia Meski jadi salah satu produsen cokelat terbesar dunia, cokelat Indonesia masih dianggap kelas dua. (Thinkstock/Jacek Nowak)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menjadi produsen kakao terbesar ketiga di dunia, tak menjamin Indonesia memiliki angka konsumsi cokelat yang tinggi. Kondisi ini menjadikan Indonesia hanya sebagai negara penghasil bahan mentah semata, padahal cokelat jadi yang ada di dunia lebih banyak dikenal buatan Eropa.

"Kakao atau bahan baku cokelat ini hanya dapat tumbuh di daerah khatulistiwa, sehiangga Indonesia ini potensinya sangat bagus," kata Axel Sutantio, Direktur Chocomory saat berbincang dengan CNNIndonesia.com saat peluncuran produk baru Chocomory di Cimory Riverside, Mega Mendung, Bogor, Senin (21/3).

Axel melihat potensi pasar cokelat di Indonesia sangatlah besar. Namun, dengan capaian produksi kakao sebagai bahan baku cokelat mencapai 320 ribu ton, menurut International Cocoa Organization (ICCO) pada 2015, Indonesia hanya memiliki konsumsi cokelat sangat sedikit.


Cokelat yang biasa ada di pasaran dan dinikmati dalam berbagai bentuk mulai dari bubuk hingga minuman berasal dari biji kakao yang diolah menjadi cokelat. Biji kakao didapat dari buah kakao yang tumbuh di iklim tropis.

"Masyarakat di Eropa rata-rata mengonsumsi sembilan kilogram per kapita per tahun, sedangkan Indonesia hanya 300 gram per kapita per tahun," kata Axel.

Indonesia tercatat sebagai negara Asia satu-satunya yang mencapai sepuluh besar negara penghasil kakao di dunia. Menurut data ICCO pada 2015 lalu, peringkat pertama negara penghasil kakao terbesar dipegang oleh Pantai Gading dengan 1794 ribu ton, dan posisi kedua ditempati oleh Ghana dengan 740 ribu ton.

Produk Cokelat Indonesia Tidak Berkembang

Kondisi Indonesia yang belum bisa menikmati cokelat karya negeri sendiri inilah yang membuat Axel membangun bisnis kuliner cokelat pada 2013 silam. Dan usahanya tersebut ternyata disambut meriah oleh pasar. Hingga kini, penjualannya terus bertambah 30 hingga 40 persen setiap tahun.

"Di Indonesia ini yang saya lihat banyak produk cokelat yang tidak berkembang. Sebuah industri jika ingin berkembang, harus membuat produk yang unik, kreasi di luar jalur normal," kata Axel.

Selain minim inovasi, Axel berpendapat bahwa geliat konsumsi cokelat di Indonesia tergolong rendah karena masih dianggap sebagai bahan makanan yang mahal. Untuk menikmati cokelat dalam bentuk batangan yang ada di supermarket dengan harga Rp7000 hingga Rp8000, Axel menilai masyarakat masih menganggap harga itu mahal.

Inovasi yang minim dan anggapan harga cokelat jadi yang mahal ternyata belum usai jadi masalah perkembangan cokelat Indonesia. Axel yang lulusan Teknologi Pangan dari Australia ini menuturkan kenyataan lain, yaitu harga kakao produksi negeri yang dianggap rendah.

"Kakao Indonesia ini sayangnya kalau di pasar global dianggap kelas dua, jadi suka didiskon. Ini karena dijualnya mentah tanpa proses fermentasi. Padahal, kalau biji kakao dijual dalam bentuk sudah fermentasi akan punya nilai lebih," kata Axel.

"Faktanya, harga biji kakao itu terus naik setiap saat. Sekarang harganya sekitar US$3,3 atau Rp43 ribu per kilo, itu mahal untuk ukuran biji kakao.”

Menurut Axel, kondisi ini disebabkan keinginan petani kakao yang menginginkan proses yang singkat untuk mendapatkan dana. Bila mereka memutuskan untuk melakukan fermentasi pada kakao, setidaknya membutuhkan satu pekan baru dapat dijual.

Kaya Manfaat dan Peluang Bisnis

Cokelat dikenal memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan yaitu sebagai sumber antioksidan seperti procyanidin dan flavonoid. Berbagai kandungan yang dimiliki oleh cokelat diyakini membawa manfaat untuk kesehatan kardiovaskular.

Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2007 oleh Harvard Medical School pada masyarakat Kuna di Panama menemukan dampak positif konsumsi kakao. Masyarakat Kuna yang gemar mengonsumsi kakao, terbukti memiliki peluang terkena penyakit jantung dan kanker lebih rendah, dibandingkan masyarakat di luar Kuna yang sedikit konsumsi kakao.

Studi lainnya yang dilakukan oleh peneliti China pada 2007 menemukan bahwa dengan mengonsumsi cokelat hitam sebanyak 42 gram setiap harinya, dapat melancarkan aliran darah. Aliran darah yang lancar membawa oksigen lebih banyak untuk jantung dan sel tubuh.

Peluang dari manfaat cokelat ini juga didukung dengan baiknya kesempatan mengembangkan cokelat dari segi bisnis di Indonesia. Sumber daya yang melimpah, dan jarangnya kendala dari segi kualitas, membuat Axel optimis industri cokelat Indonesia semakin berkembang.

"Kalau masyarakatnya mulai terbiasa dengan cokelat, yaitu pendapatan per kapitanya naik, permintaan cokelatnya juga pasti akan naik,” kata Axel. (les/les)