Cium Tuan, Ungkapan Kerinduan di Reinha Rosari

Adhi Wicaksono, CNN Indonesia | Kamis, 24/03/2016 19:07 WIB

Jakarta, CNN Indonesia -- Tradisi Cium Tuan di Larantuka merupakan bentuk memudakan kembali patung Mater Dolorosa oleh para Confreria atau Pesadu yang telah disumpah.

 

Dua biarawati berjalan menuju Kapela Tuhan Ma, Larantuka, Flores Timur, untuk mengikuti ibadah Kamis Putih, Kamis, 24 Maret 2016.(CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Di bawah teriknya panas matahari, deretan-deretan peziarah terus berdatangan ke kapel. Tak hanya dari warga Larantuka, namun para pendatang yang ingin melakukan tradisi khas Larantuka tersebut. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Confreria bersiap sebelum membuka Kapel Tuan Ma, untuk para peziarah Ibadah Sabda mencium Tuan Ma. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Confreria membacakan doa-doa di muka Kapel Tuhan Ana, sebelum pintu kapel dibuka. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)  
keturunan Raja Larantuka Don Lorenzo III yakni Don Andre III Martinus Diaz Viera de Godenho (DVG) membuka Kapel Tuan Ma pada saat peringatan Kamis Putih. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Sebelum patung Mater Dolorosa atau Tuhan Ma di dalam kapel diperlihatkan kepada peziarah, para Confreria sebelumnya melakukan Upacara Muda Tuan yaitu memudakan kembali patung. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Peziarah berdiri menunggu giliran untuk mendapat kesempatan mencium Tuhan Ma di dalam kapela. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Tak hanya peziarah, upacara Cium Tuan juga dilakukan oleh para Confreria, Keluarga DVG, Lejanti Tuhan Ma, Tuan Mardomu, Ketua dan suku-suku Semana dan juga perangkat Kapela Tuhan Ma. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)  
Confreria mendatangi peziarah yang menunggu giliran untuk mencium Tuhan Ma (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Seorang biarawati menuju pintu kapela usai mencium Tuhan Ma. Antrean peziarah untuk upacara ini terjadi hingga malam hari pada Kamis Putih. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Peziarah menyalakan lilin di depan Kapela Tuhan Ma sambil melantunkan doa-doa di hadapan patung Mater Dolorosa. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)