Tinira, Sayur Bonggol Palem Lezat dari Kendari

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Sabtu, 16/04/2016 15:04 WIB
Tinira, Sayur Bonggol Palem Lezat dari Kendari Tinira khas Kendari, Sulawesi Tenggara (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernahkah Anda mencicipi masakan rebung? Kebanyakan orang mengenal masakan rebung yang terbuat dari bambu muda. Padahal ada juga masakan rebung dari pohon palem yang populer di Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).

"Sayur ini namanya tinira, dibuat dari rebungnya pohon palem yang kurang dari setahun, bonggolnya yang diambil," kata Heny Samuel, panitia Festival Kuliner Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, saat disambangi CNNIndonesia.com di Festival Pesona Kuliner Nusantara di Mall Artha Gading, pada Kamis (14/5).

"Ini makanan rakyat di Sultra, kalau di pesta-pesta di Kendari pasti ada. Namun palemnya tidak bisa tumbuh di semua tempat, hanya di sekitaran hutan sekitar pantai," kata Heny.


Heny menggambarkan bonggol pohon palem yang digunakan untuk tinira ini setinggi satu meter, dengan diameter sekitar 20 centimeter dan berbobot sepuluh kilogram.

Bonggol pohon palem yang dijabarkan oleh Heny ini dapat dibeli seharga Rp100 ribu per bonggol. Dengan ukuran tersebut, dapat dibuat 50 porsi sayur tinira.

Cara mengolah bonggol untuk menjadi sayur tinira ini tergolong unik. Bonggol yang akan diolah dibersihkan, kemudian direbus bersama santan dan bumbu putih, seperti bawang putih dan garam.

"Nah, supaya tidak berubah warna menjadi hitam, maka ditambahkan daun kedondong. Dengan penambahan daun kedondong, warna sayur tetap putih. Teknik ini sama ketika mengolah jantung pisang," papar Heny.

Proses memasak tinira memakan sekitar 30 menit. Dimasak dengan santan tanpa perlu sering mengaduk hingga mengental dan rebung menjadi empuk matang. Rasa tinira ini cukup gurih karena santan, dan serat rebung bonggol palem tidak sebanyak pada rebung bambu.

Untuk mengonsumsi tinira, Heny menyarankan dengan nasi atau kambulase yang terbuat dari jagung. Kambulase merupakan makanan alternatif yang dibuat dari jagung kering yang ditumbuk.

Lalu, jagung tumbuk direndam selama 30 menit, selanjutnya direbus hingga dua jam dengan air biasa. Ketika sudah empuk, baru ditambah santan atau garam.

Untuk penderita diabetes, Hany menyarankan tak perlu menggunakan santan. Kambulase sendiri bercita rasa gurih. Nyaris tak berbeda dengan jagung rebus.

(end/vga)