Guru di Swiss Dapat Libur Tambahan Jika Tak Merokok

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Kamis, 05/05/2016 12:40 WIB
Guru di Swiss Dapat Libur Tambahan Jika Tak Merokok Ilustrasi Rokok. (Getty Images/Bruno Vincent).
Jakarta, CNN Indonesia -- Institut Schillingsrain Schulheim, salahsatu sekolah yang terletak di Basel, Swiss, mengiming-imingi staf mereka dengan hari libur tambahan apabila mereka tidak merokok. Ini merupakan penghargaan bagi staf yang telah membantu memberikan contoh baik kepada siswa/i sekolah tersebut.

Sekolah tersebut mengumumkan akan menambah lima hari libur tambahan dalam jadwal libur tahunan mereka jika staf sekolah tidak merokok. Jumlah ini lebih banyak dibandingkan staf perokok.

Amanda Sandford, Juru Bicara Action on Smoking and Health (ASH) mengatakan, ini merupakan insentif yang baik bagi staf yang berhenti merokok. Berdasarkan data yang dipublikasikan oleh ASH, merokok ditempat kerja menghabiskan biaya 6,5 miliar poundsterling setiap tahun.


"Sekolah akan mendapatkan keuntungan dari pegawai yang mengambil lebih sedikit waktu karena sakit. Para perokok akan lebih sering jatuh sakit, karena batuk atau pun flu, maupun penyakit serius lainnya," tutur Sandford, seperti dikutip laman Independent.

Dalam proposal yang ditujukan kepada manajemen sekolah, salah seorang kepala departemen menyarankan, agar staf tersebut juga mendapatkan predikat "role model", yaitu panutan atau contoh yang baik bagi para murid untuk menjaga kesehatan dan menumbuhkan perhatian tentang pendidikan kesehatan.

Sekolah berasrama yang melayani anak-anak dan remaja yang berkebutuhan khusus tersebut juga menyebut, sekolah akan menjadi tempat yang sehat dan membuat para perokok berhenti merokok. Para guru di sekolah berharap, insentif ini akan mendorong pegawai dan murid untuk menjalankan hidup sehat.

Seorang pegawai di sekolah itu mengkonfimasi kepada The Independent, gimmick hari libur tambahan tersebut belum diterapkan hingga saat ini. Namun, manajemen mengklaim, sedang memproses insentif tersebut. (bir/bir)