Tex Saverio dan Tiga Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Lesthia Kertopati & Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Jumat, 27/05/2016 17:25 WIB
Tex Saverio dan Tiga Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara Tex Saverio terinspirasi semboyan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara untuk koleksi terbarunya. (Dok. Qyvision PR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nama Tex Saverio sudah dikenal di seluruh dunia. Koleksinya melanglang buana dan pernah dikenakan pesohor seperti Kim Kardashian, Lady Gaga, bahkan Jennifer Lawrence. Bajunya juga pernah dikenakan penyanyi Jepang, Ayumi Hamasaki.

Dia pernah tampil di Paris Fashion Week dan kini terbilang sebagai desainer muda yang sukses.

Tapi ada satu keinginan Tex Saverio yang belum tercapai. Dia belum pernah menggelar paragaan busana tunggal.


Di belantika mode Indonesia, nama Tex Saverio baru mencuat medio 2010. Kala itu, dia bersama bersama ketiga alumni Lomba Perancang Mode (LPM) Femina, Albert Yanuar, Hian Tjen, dan Imelda Kartini, menggelar show bersama yang bertajuk ‘Rejuvenate Fashion Regeneration’.

Koleksi Tex Saverio di show tunggal bertajuk 'Absolutex' di Raffles Hotel Jakarta, Rabu (25/5). (Dok. L'Oreal)
Show yang dihelat di Wisma Nusantara pada Juli 2010 tersebut sukses mencuri perhatian tamu undangan. Rio yang menutup pertunjukkan dengan koleksi bertema ‘My Courtesan’ memperlihatkan DNA rancangan yang menarik, bagaikan melihat gaya Alexander McQueen versi Indonesia.

Dari Wisma Nusantara, Rio menyebrang ke Pacific Place dalam ajang Jakarta Fashion Week, dimana dia terpilih sebagai salah satu ksatria mode di ajang Dewi Fashion Knight. Tapi, lagi-lagi, pertunjukkan tersebut bukan show tunggal.

Show Rejuvenate, enam tahun silam, bisa dibilang menjadi ‘gerbang’ Tex memasuki dunia mode. Pasalnya, kendati telah berjibaku sebagai desainer sejak 2006, Rio belum benar-benar dikenal khalayak fashion.

Alumni Bunka School of Fashion tersebut memasuki dunia mode dengan mengikuti LPM pada 2005. Rio menjadi salah satu dari 10 finalis terpilih. Satu minggu berselang, Rio kembali mengikuti kompetisi desain mode di Singapura dan keluar sebagai pemenang. Tex membawa pulang National Award dari Mercedes-Benz Asia Fashion Award. Usianya baru 21 tahun.

Kemudian, koleksinya di Jakarta Fashion Week, yang bertama 'La Glacons', melambungkan Tex ke ranah internasional. Lewat rancangan bergaya haute couture atau adibusana itu, Tex ‘terbang’ ke pelukan Lady Gaga.

Kini, Tex punya sumber daya yang lebih besar, serta nama dan karya yang menjamin konsumen. Atas dasar itulah, Tex menggelar peragaan tunggal perdananya, bekerjasama dengan Absolut Elyx, minuman vodka premium.

Semboyan Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Fashion show mewah itu berlangsung di Dian Ballroom, Raffles Hotel Jakarta, pekan ini. Ada satu hal yang menarik. Kendati mengusung tema ‘Absolutex’, sebenarnya konsep yang diwujudkan Tex adalah semboyan pendidikan dari Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Arti dari semboyan tersebut adalah teladan yang baik, kreativitas dan semangat tinggi, serta dukungan.

Ketiga konsep itulah yang diwujudkan Tex dalam pergelaran tunggal perdananya.

"Tiga konsep itu saya kedepankan, karena pertama dunia kreatif bisa menjadi teladan. Kedua, memprakarsai fashion ‎dan mendorong perubahan atau tansformasi dan evolusi menjadi lebih baik,” ujar Tex dalam konferensi pers sebelum pertunjukkan.

Mengusung semboyan pendidikan, Tex pun mengatakan koleksi busana haute couture-nya itu tidak hanya bagi dunia mode, tapi juga untuk dunia pendidikan.

"Kita punya talenta itu banyak banget, cuma kurang terekspos dan saya ingin mengingatkan kembali lewat pembelajaran dan semboyan pendidikan yang sering saya dengar saat masih kecil," kata Tex.

Warna hitam berpadu merah menjadi wujud semboyan 'Ing Madya Mangun Karso' di show tunggal Tex Saverio. (Dok L'Oreal)
Kreativitas ‘Ing Madya Mangun Karso’, dituangkan dalam pengerjaan yang kaya detail. Desainer yang baru saja dilantik sebagai Invited Member dari Asia Couture Federation itu, menyebut seluruh koleksinya dibuat secara manual.

"Setiap detail motifnya itu buatan tangan, dibikin satu-satu dengan teknik sulam dan payet,” ucapnya.

Adapun tiga semboyan itu dihadirkan lewat tiga sekuen pertunjukkannya. Dari warna putih yang identik dengan warna suci yang menjadi teladan dan panutan. Selanjutnya, berangsur-angsur, warna koleksi berubah hitam, ditingkahi unsur api, yang menunjukkan gairah dan semangat.

Terakhir, Tex menampilkan koleksi gaun menjuntai sebagai bentuk transformasi dan evolusi. Warna gold dan putih membalut busana di pilih untuk sekuen terakhir yang ia suguhkan. Adapun, seluruh aksesori di show Tex Saverio dirancang oleh Rinaldy A. Yunardi.

"Tiga sekuen ini untuk mengingatkan kembali bahwa dari tiga frasa itu, ada cerita yang bisa kita dalami. Alasannya memilih tiga warna ini, karena pertama menjadi teladan, ideal masih pure, murni, makanya putih bersih. Lalu passion, bermain dengan api, saya hitamkan semua dengan aksen merah. Dan untuk menjadi pribadi yang lebih baik perlu melalui proses, seperti emas," kata Tex yang menyuguhkan 37 karya. (les)