Cerita Karsa Kuliner 3 Ibu 'Chef' di 3 Desa

Vega Probo, CNN Indonesia | Minggu, 29/05/2016 15:02 WIB
Cerita Karsa Kuliner 3 Ibu 'Chef' di 3 Desa Ilustrasi pangan Bali (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana/aww/16)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi Ni Made Canderi, Kristina Jedo Bukan dan Suryati, memasak bukan semata tugas sehari-hari sebagai ibu. Lebih dari itu, kegiatan memasak juga menginspirasi lingkungan sekitar, bahkan dunia luar.

Ketiganya berbagi pengalaman menarik sebagai ibu “chef” di perhelatan Ubud Food Festival, Bali, pada akhir pekan di pengujung Mei 2016. Sesi mereka digelar di hari berbeda, tapi di arena sama: Festival Hub di Taman Kuliner, Jalan Sanggingan.

Canderi berbagi kisahnya di sesi Think, Talk, Taste yang mengangkat tema Memories of Ubud Past, pada Jumat (27/5). Di sesi yang dipadati pengunjung ini, ia didampingi pegiat kuliner Bondan Winarno dan penggagas Ubud Food Festival, Janet DeNeefe.


Nama Canderi begitu melegenda di Ubud karena dialah salah satu pelopor guest house dan restoran di kawasan Monkey Forest sejak awal 1970-an. Ketika itu, lima tahun pascar tragedi G30S, menurut Bondan dan Janet, kawasan Ubud masih sangat sepi.

“Saya membuka guest house dan restoran, waktu itu, karena tidak ada pekerjaan setelah diberhentikan sebagai guru,” kata Canderi yang menjanda setelah suaminya dipenjara tanpa proses pengadilan. Ia harus bekerja demi menghidupi empat anak.

Sebelumnya, Canderi sempat melakukan beberapa pekerjaan, dari menjahitkan baju bayi dan kutang untuk tetangga, sampai menjajakan suvenir kain dan selendang kepada turis asing. Salah satu di antaranya, Jane Stewart, berbaik hati menolong Canderi.

“Kami bicara panjang lebar dan dia berkenan membantu saya membuatkan rumah penginapan empat kamar,” kata Canderi. Lalu, tamu-tamu dari Australia dan Eropa mulai berdatangan. Tak sekadar menginap, mereka juga mengajari Canderi memasak.

“Saya belum pernah membuat pancake,” Canderi mengakui. “Tamu yang mengajari saya membuat makanan kesukaan mereka.” Tak jarang, tamu dan kenalan juga membelikan alat masak lengkap, hingga Canderi pun makin lihai membuat berbagai masakan.

Kepada CNNIndonesia.com, Canderi mengaku paling sering memasak taco, keripik khas Meksiko. Namun bukan dipadu daging dan keju seperti biasa, melainkan sayuran, mengikuti selera pribadi Canderi. Sejak muda hingga kini, 83 tahun, ia memang vegetarian.

Lebih dari empat dekade berlalu, Canderi tak bisa melupakan memori silam kala dirinya bersusah payah membangun guest house pertama di Ubud berbekal modal pemberian Jane, turis asal Amerika Serikat. Ketika itu, belum tersedia banyak pikap.

“Saya membeli dan membawa batu bata satu per satu dengan naik sepeda dari Campuhan ke Monkey Forest,” katanya kepada CNNIndonesia.com. Setelah tiga tahun berkomuter, terkumpul gunungan batu bata untuk membangun guest house empat kamar.

Dari hasil mengelola guest house dan restoran, Canderi bisa menafkahi keempat anaknya, juga mertua dan ipar. Tak hanya itu, ia juga membantu anak-anak putus sekolah di lingkungan sekitar. Mereka pun membantu Canderi mencari air di sungai.

Sayang sekali, Canderi kehilangan kontak dengan Jane. Kabar terakhir yang sampai di telinganya, Jane mengadopsi anak India. Sekalipun tak mengetahui keberadaan sang malaikat tak bersayap, sampai kapan pun Canderi tak pernah melupakan jasa Jane.

Kini, diakui Wayan alias David, putra ke-dua Canderi, bisnis ibunya berjalan kurang baik lantaran dikepung bisnis serupa. Ubud bersolek semakin ramai, penginapan dan restoran berkembang pesat. Namun Wayan mengaku tak kehilangan akal.

“Kami berusaha membangkitkan lagi menu-menu favorit buatan ibu yang dulu, pada 1970-an, sangat laris, seperti taco dan puding ketan hitam,” kata Wayan kepada CNNIndonesia.com. Canderi tetap memasak, walaupun tidak sesering dan sebanyak dahulu.

Kala memasak, Canderi sering mengenang kebiasaan masa lampau. Dulu, tamu-tamu ramah, senang mengajak berbincang sekaligus membantunya memasak di dapur. Kini, tamu-tamu tetap bersikap baik, tapi tidak lagi membantunya memasak di dapur.

Semangat untuk terus memasak dan menginspirasi banyak orang, khususnya kaum perempuan, juga dimiliki oleh Kristina Jedo Bukan dan Suryati. Lewat pangan, keduanya mengestafet semangat kewirausahaan sosial kepada ibu-ibu di lingkungan sekitar.

Kedua ibu “chef” masing-masing berasal dari Desa Tuakepa, Titehena, Flores Timur, dan Matang Tunong, Lapang, Aceh Utara. Mereka mengisi sesi Think, Talk, Taste bertajuk Ibu Inspirasi—Wonder Women Indonesia, pada hari ke-dua Ubud Food Festival (28/5).

Predikat “Ibu Inspirasi” diberikan oleh lembaga swadaya Kopernik atas semangat mereka menularkan gaya hidup sederhana dan ramah lingkungan serta semangat wirausaha sosial bidang pangan kepada ibu-ibu di lingkungan sekitar, kurun dua tahun belakang.

Kristina, yang sehari-hari disapa Mama Kris, sehari-sehari bercocok tanam, dari kakao sampai sorgum. Tak hanya itu, ia juga memaparkan manfaat sorgum kepada banyak ibu sebagai pengganti nasi yang tak kalah enak, berkhasiat dan bergizi.  

Begitu Suryati yang saban hari berjualan kue, baju dan peralatan masak hemat energi, termasuk kompor Prime Square Fuelwood Biomass Cookstove. Sembari berjualan, Suryanti juga mendidik ibu-ibu di lingkungannya agar berhemat energi.

Dengan berwirausaha sosial, baik Mama Kris maupun Suryati mampu mandiri sebagai perempuan dan ibu rumah tangga. Mereka mendapat penghasilan lumayan untuk membantu suami. Bahkan masih bisa menyisihkan uang untuk diri mereka sendiri.

“Dulu, setengah bulan saja uang bapak [suami] sudah habis,” kata Mama Kris kepada CNNIndonesia.com. “Sekarang bisa ada tambahan.”  Selain menggiatkan pangan mandiri, Mama Kris juga menggairahkan kegiatan menenun kain dan menjual olahan pangan.

Mama Kris berprinsip, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh dari pionir sorgum Mama Loreta dan Kopernik jangan disimpan untuk diri sendiri, melainkan harus dibagikan kepada para ibu. Ia juga menanamkan etos bekerja kepada mereka.

“Bekerja harus sepenuh hati atas kemauan sendiri,” kata Mama Kris. “Pekerjaan jangan dilakukan sendiri, tapi harus ada kerja sama, ada kuasa Tuhan.” Senada dengan Suryati yang berprinsip, bekerja ikhlas dan tak lupa menghargai jerih payah orang lain.

(vga/vga)