Belanja Baju Lebaran Kini Didominasi Online

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Kamis, 30/06/2016 18:33 WIB
Belanja Baju Lebaran Kini Didominasi Online Fashion Ramadan in Style di Gandaria City, Jakarta, Jumat, 25 Juni 2016. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Entah sejak kapan tradisi Lebaran harus memakai baju baru dimulai. Tak ayal banyak orang khususnya anak kecil pun seperti 'menagih janji' baju baru untuk dipakai silaturahmi ke keluarga dan tetangga sekitar.

Padahal sebenarnya, Lebaran sendiri tak ada kaitan atau keharusan untuk membeli baju baru.

Hanya saja, dengan berbagai alasan, mendekati Lebaran, tak dimungkiri kalau masih ada banyak orang yang mewajibkan dirinya untuk membeli baju baru. Kondisi ini pun membuat transaksi ritel pakaian di bulan Ramadan dan jelang Lebaran meningkat.


Criteo, perusahaan yang bekerja di bidang kinerja teknologi marketing, mengungkapkan fakta seputar aktivitas konsumen dalam pembelian dan pencarian kebutuhan konsumen secara online. Studi Criteo ini mengungkapkan bahwa pekan kedua dan ketiga Ramadan merupakan masa-masa keemasan bagi peritel untuk menarik konsumen. Pasalnya, di masa tersebut, konsumen sangat aktif untuk bertransaksi.

Senada dengan Criteo, Hijabenka sebagai salah satu portal busana muslim online juga mencatat aktivitas peningkatan penjualan juga terjadi pada pekan pertama, kedua, dan ketiga Ramadan. "Justru pekan terakhir itu turun sekali karena orang khawatir pesanannya tidak keburu sampai sebelum Lebaran," ucap Falah Fakriyah, Vice President Hijabenka.

Di tahun lalu, Criteo mencatat pekan kedua dan ketiga terjadi peningkatan transaksi sebanyak 128 persen dalam transaksi online. Hanya saja peningkatan transaksi ini tak terbatas hanya pada pakaian saja, tapi dari semua kebutuhan lain, termasuk gawai.

"Bulan suci ditandai dengan adanya perayaan. Ini membuat penjualan barang dekorasi rumah, pemberian hadiuah, atau pakaian baru bertambah," kata Yuko Saito, Managing Director Criteo Asia Tenggara, dalam pernyataannya yang diterima CNNIndonesia.com.

Lewat analisis Criteo yang dilakukan pada lebih dari 1,5 juta transaksi dari peritel di Indonesia, Malaysia, dan Singapura secara online ini peningkatan penjualan dalam kategori fesyen mencapai 95 persen (data peritel Asia Tenggara dari minggu kedua Juni 2015 dibanding minggu pertama Juni 2015).

Peningkatan jumlah penjualan fesyen untuk Lebaran ini juga makin terasa karena adanya pelaksanaan Jakarta Great Sale dan Jakarta Great Online Sale. Jason Lamuda, CEO Berrybenka, portal belanja online mengungkapkan bahwa busana muslim punya peminat paling tinggi saat Jakarta Great Online Sale tahun ini.

"Kalau di toko online kami sendiri, biasanya pelanggan datang di waktu siang seperti jam 11.00 sampai 13.00 WIB. Kalau saat menjelang lebaran, terjadi kenaikan aktivitas pada dini hari saat sebelum dan sesudah sahur serta jam 07.00 hingga 21.00 WIB," kata Jason.

Vice President Hijabenka, salah satu portal busana muslim, Falah Fakriyah mengungkapkan bahwa untuk peningkatan di tahun ini belum terlihat seluruhnya. "Sebenarnya kalau evaluasi belum bisa jawab karena Ramadan belum usai. Dari target kami peningkatan 2,5 kali lipat dibanding hari biasa, sejauh ini penjualannya bagus sekali," ujar Falah.

Dia juga mengakui bahwa ada sedikit perbedaan antara penjualan saat Ramadan dengan waktu lainnya. Di luar Ramadan, minat pakaian ala Timur Tengah seperti kaftan dan abaya tak terlalu besar.

Tapi ketika momen Ramadan datang, mendadak pakaian ala Timur Tengah yang sempat dipopulerkan oleh Ashanti dan Syahrini itu melejit mengalahkan pakaian muslim kasual yang biasa laris di hari biasa. Peningkatan bisa terjadi tiga kali lipat.

Bukan cuma toko online yang meraih banyak untuk saat Ramadan dan Lebaran. Desainer-desainer busana muslim juga mengaku memetik hasil. Desainer-desainer busana muslim Indonesia pun berlomba-lomba untuk meluncurkan koleksi ramadan dan Lebaran mereka di bulan suci.

"Kalau saya merasa puncak pembelian itu saat pas Ramadan, memetik hasil," kata desainer busana muslim Restu Anggraini beberapa waktu lalu.

Pemilik butik busana muslim Nabilia, Nalia Rifika dan Nabila Hatifa saat peluncuran koleksi busana muslim di District 12 mengungkapkan bahwa peningkatan penjualan mereka justru bergantung pada event yang diadakan.

"Event-event yang ramai saat ramadan ini membantu meningkatkan penjualan. Tapi bisanya ramainya di minggu kedua. Sedangkan di minggu pertama justru sepi karena masih banyak orang yang ingin buka puasa bersama di rumah dan masih punya jadwal acara lainnya," kata Nalia Rifika.  

fashion show 1st anniversary District 12. (Dok. link Media)
Bahkan beberapa desainer yang tak mendedikasikan diri untuk busana muslim pun ikut meluncurkan koleksi busana muslim. Selain busana muslim, baju-baju santun atau modest wear pun semakin banyak diminati saat Ramadan dan Lebaran. Busana-busana santun ini kerap dijadikan pilihan untuk para perempuan muslim yang tak berhijab namun ingin tampil lebih tertutup di hari Lebaran. 

Tren Busana Muslim

Sama seperti jenis busana pada umumnya, busana muslim juga memiliki trennya sendiri. Hanya saja meski benang merahnya adalah gaya yang lebih tertutup dan syariah, namun tiap desainer memiliki tren dan gaya desainnya masing-masing.

Nalia Rifika mengungkapkan bahwa di tahun ini tren busana muslim dari labelnya lebih bergaya minimalis. "Kebanyakan si gaun, tapi dengan tambahan kantung baju," ucapnya.

Dia menambahkan, kantung baju ini diaplikasikan untuk menjawab kebutuhan masyarakat masa kini. "Karena saat silaturahmi kebanyakan mereka pasti agak sulit untuk membawa tas ke mana-mana, padahal ponsel harus selalu dibawa, jadi gaun yang berkantung akan lebih praktis."

Selain itu, gaya busana yang flowing dan ringan juga banyak diminati perempuan muslim Indonesia. Sedangkan untuk urusan warna, warna putih serta gaya monokrom dianggap sebagai warna aman yang selalu jadi pilihan sepanjang masa untuk busana Lebaran.

Desainer senior Hannie Hananto juga setuju bahwa di tahun ini gaya busana muslim akan lebih sederhana dan kasual. "Gaya kasual akan lebih menonjol, dan kaftan akan ditinggalkan karena orang-orang sudah mulai gerah, dan memang di Indonesia lebih cocok yang kasual," ujar Hannie kepada CNNIndonesia.com.

Gaya sederhana ini ternyata tak hanya berlaku untuk busana muslim saja. Gaya hijab juga dianggap akan menjadi lebih sederhana dan tak banyak tumpuk.
fashion show 1st anniversary District 12. (Dok. link Media)
(chs/les)