Mengunjungi Museum Perbudakan di Amerika Serikat

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Rabu, 20/07/2016 08:40 WIB
Mengunjungi Museum Perbudakan di Amerika Serikat Ilustrasi perbudakan. (Christopher Furlong/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perbudakan telah lama dihapuskan dari hukum Amerika Serikat namun bagi keturunan korban perbudakan, sejarah itu belum lama berlalu. Guna mengingat sejarah kelam perbudakan di Amerika Serikat, seorang pengacara asal New Orleans, John Cummings, mendirikan museum perbudakan.

Bangunan yang kini digunakan sebagai museum tersebut, benar-benar berkaitan dengan perbudakan.

Whitney Plantation yang berlokasi di Wallace, Louisiana, dekat kawasan bersejarah River Road, sekitar satu jam dari New Orleans, adalah saksi bisu perbudakan terparah di AS. Perkebunan tebu dan pabrik gula itu didirikan sejak sebelum Perang Sipil AS dan kini menjadi museum pertama dan satu-satunya yang didedikasikan merekam sejarah perbudakan.


Mengutip laman Amusing Planet, awalnya, Whitney Plantation bernama Habitation Haydel, yang dinamakan mengikuti pemiliknya, imigran Jerman bernama Ambroise Heidel. Dia datang ke Louisiana sekitar tahun 1750an dan mengambil alih tanah perkebunan luas tersebut.

Sebelumnya, Heidel menumbuhkan tanaman indigofera, namun di tangan putranya, Jean Jacques, Habitation Haydel berubah jadi perkebunan tebu dan pabrik gula di era 1800-an. Jean Jacques pula yang membangun rumah bergaya French Creole.

Di era Jean Jacques juga, Habitation Haydel mempekerjakan banyak budak Afrika. Tercatat, Habitation Haydel mempekerjakan lebih dari 350 budak, jumlah terbanyak dari perkebunan lain. Seperti kisah-kisah perbudakan pada umumnya, mereka yang bekerja di Habitation Haydel juga menderita penyiksaan dan diperlakukan semena-mena.

Ketika Perang Sipil berakhir, perkebunan luas itu dijual kepada Bradish Johnson dan berganti nama menjadi Whitney Plantation.

Pada tahun 1999, perkebunan itu dijual kepada Cummings. Selama 15 tahun, Cummings menginvestasikan lebih dari US$8 juta dari dana pribadinya untuk mengembangkan perkebunan tersebut menjadi museum perbudakan pertama di Amerika Serikat, dengan tujuan membuka mata penduduk negeri Paman Sam akan sejarah kelam perbudakan.

Ada banyak memorial dan diorama di lahan perkebunan, begitu juga karya seni dan patung yang mengisahkan kehidupan tragis pada budak. Ada pula ‘Wall of Honor’ yang merupakan bentuk penghormatan bagi 350 budak atas dedikasi mereka seumur hidup di perkebunan. Selain itu, ada juga memorial lain yang ditujukan bagi 107 ribu orang yang dipekerjakan sebagai budak di Louisiana.

Di tengah-tengah perkebunan, terdapat patung perunggu berbentuk malaikat berkulit hitam tengah menggendong bayi ke angkasa. Di sekeliling patung itu, terukir 2200 nama anak para budak yang meninggal sebelum usia 3 tahun.

Pada waktu itu, perkebunan tidak pernah mencatat tingkat kematian para budak ataupun anak-anak mereka. Meskipun demikian, catatan sejarah menunjukkan sebanyak 39 anak meninggal di Habitation Haydel dalam kurun waktu 1823 - 1863, dan hanya ada enam orang anak yang hidup hingga usia 5 tahun.

Habitation Haydel atau Whitney Plantation juga menjadi bangunan yang digunakan dalam film besutan Quentin Tarantino, Django Unchained (2012) dan film 12 Years a Slave (2013).

Bangunan yang masih berdiri hingga kini adalah rumah utama bergaya French Craole, gudang perkebunan, dua kandang burung merpati, asrama budak, serta bangunan kecil di sekitar perkebunan. Lahan di sekitar rumah masih digunakan sebagai kebun tebu.

[Gambas:Youtube] (les)