Konsumsi Vitamin D Dapat Ringankan Serangan Asma

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 07/09/2016 13:58 WIB
Konsumsi Vitamin D Dapat Ringankan Serangan Asma Ilustrasi (Thinkstock/Remains)
Jakarta, CNN Indonesia -- Penderita asma umumnya selalu menyimpan inhaler atau alat pereda sesak napas. Inhaler digunakan sebagai pertolongan pertama kala mengalami gangguan pernapasan.

Tak jarang, ada juga penderita asma yang ketergantungan terhadap inhaler dan selalu membawanya. Padahal risiko serangan asma berat dapat dikurangi dengan cara yang lebih mudah daripada melulu bergantung pada inhaler.

Sebuah penelitian, yang dilakukan di beberapa negara, menemukan fakta bahwa suplemen vitamin D mampu mengurangi serangan asma akut.


Melansir Reuters, berdasarkan analisis yang dilakukan di Amerika Serikat, Kanada, India, Jepang, Polandia dan Inggris, para peneliti mendapati fakta bahwa konsumsi suplemen vitamin D dapat mengurangi risiko serangan asma berat—yang sebetulnya membutuhkan perawatan rumah sakit—dari enam persen menjadi tiga persen.

Adrian Martineau, guru besar Queen Mary University di London yang memimpin penelitian ini, menyatakan hasilnya menarik sekaligus menuntut kewaspadaan.

"Temuan yang berkaitan dengan serangan asma berat datang hanya dari tiga percobaan dan pasien sebagian besar orang dewasa dengan asma ringan atau sedang," kata Martineau yang berpengalaman menangangi infeksi pernapasan dan imunitas.

Menurut Martineau, uji coba lebih banyak diperlukan pada anak-anak dan orang dewasa dengan asma berat.

Hal ini berguna untuk mengetahui dampak positif konsumsi suplemen vitamin D terhadap pasien dengan gangguan pernapasan.

Namun Martineau belum mengetahui secara jelas efek vitamin D ini, apakah berlaku pada seluruh pasien atau hanya mereka yang sebenarnya sudah mengonsumsi vitamin D sebelumnya.

Analisis lebih lanjut diperlukan guna menyelidiki dampak vitamin D itu dan diharapkan dapat diperoleh hasilnya dalam beberapa bulan ke depan.

Erika Kennington, kepala riset badan amal Asthma di Inggris, mengatakan temuan ini bisa memberikan harapan walaupun masih membutuhkan bukti lebih banyak agar menjadi sebuah rekomendasi solusi kesehatan.

"Dengan banyaknya jenis asma, bisa jadi vitamin D dapat memberi manfaat bagi sebagian orang, namun tidak bagi yang lain," kata Kennington.

Saat ini, diperkirakan sekitar 300 juta orang di dunia memiliki masalah dengan asma. Beberapa dari mereka memiliki gejala seperti batuk, sesak dada dan napas.

(meg/vga)


BACA JUGA