Survei: Masyarakat Indonesia Mulai Sadar Makanan Sehat

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Jumat, 09/09/2016 06:38 WIB
Survei: Masyarakat Indonesia Mulai Sadar Makanan Sehat Ilustrasi (Unsplash/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah survei yang dirilis baru-baru ini menunjukkan masyarakat Indonesia mulai lebih peduli makanan yang mereka konsumsi. Bahkan sebagian besar responden mengaku mengikuti pola diet tertentu.

Hasil tersebut didapat melalui survei yang dilakukan oleh Nielsen's New Global Health and Ingredient-Sentiment Survey secara daring dan dipublikasikan pada Selasa (6/9) lalu. Survei ini menilik berbagai perilaku konsumsi yang kemudian diklaim oleh responden.

"Konsumen kini lebih sadar akan pola makan sehat, karena itu mereka ingin menerapkan pola makan yang dapat mengatasi berbagai masalah kesehatan," kata Yudi Suryanata, direktur eksekutif Nielsen dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com.


Berdasarkan hasil survei yang dilakukan, diketahui kini delapan dari sepuluh responden atau 80 persen mengaku mengikuti suatu diet yang membatasi atau melarang konsumsi makanan atau minuman tertentu.

Meski terkesan melanggar konsep makan seimbang dan variatif, namun beberapa faktor ditemukan yang menjadi alasan pola konsumsi masyarakat Indonesia tersebut.

Sebanyak 48 persen responden mengatakan bahwa mereka memiliki alergi dengan jenis makanan tertentu sehingga mendorong mereka menerapkan suatu jenis diet khusus.

Bila dahulu kebanyakan alergi yang diketahui adalah udang, namun hasil survei menunjukkan alergi terhadap kerang adalah yang tertinggi, sebanyak 17 persen responden. Kemudian alergi paling banyak berikutnya adalah telur sebesar 15 persen, lalu ikan dengan 13 persen.

Alasan lain yang mendasari preferensi diet adalah status halal makanan, yang diyakini oleh 50 persen responden.

Setelah halal, pertimbangan lain dalam memilih makanan adalah kandungan lemak yang diakui oleh 37 persen responden, gula sebesar 30 persen, serta karbohidrat dengan 22 persen.

Setelah mengetahui jenis kandungan yang dimiliki, para responden ternyata juga memerhatikan bahan tambahan pangan di dalam makanan.

Hal ini terungkap dari hasil survei sebesar 70 persen responden akan menghindari makanan berpengawet, 72 persen menghindari perisa buatan, dan 71 persen menolak pewarna buatan.

Meski Nielsen mengungkapkan bahwa perbedaan budaya dalam melaporkan sesuatu dapat menjadi faktor yang memengaruhi hasil. Namun tren di Indonesia sejalan dengan kecenderungan yang terjadi secara global.

Nielsen dalam survei global mencatat bahwa sebesar 68 persen responden bersedia membayar lebih untuk medapatkan makanan dengan kandungan yang sesuai diet mereka.

Salah satu pendorong lain yang sejalan pola diet sehat ini adalah kenyataan tentang semakin banyaknya penyakit degeneratif akibat gaya hidup tak sehat seperti obesitas, diabetes dan penyakit kardiovaskular.

Sebesar 70 persen responden mengaku mereka menjalani diet untuk menghindari berbagai penyakit mematikan tersebut.

Meski mulai tampak pergersan minat ke arah diet sehat bebas senyawa kimia, minat masyarakat Indonesia terhadap pola dan gaya hidup sehat masih butuh perhatian.

Hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas 2013 menemukan bahwa sebanyak 26 persen masyarakat terkategorikan kurang beraktivitas fisik. Selain itu, sebanyak 93,5 persen masyarakat tergolong kurang makan sayur atau buah.

Riskesdas juga mencatat, bahwa lebih dari 77 persen anak di atas 10 tahun gemar mengonsumsi bumbu penyedap, kemudian 53 persen senang makanan manis, dan 40 persen masih gemar makanan berlemak.

(end/vga)