Bermalam di Ikon Sejarah Pangkal Pinang

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 26/09/2016 01:19 WIB
Wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di Bangka atau menyebrang ke Belitung menjadi sasaran utama pengunjung hotel ini. Wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di Bangka atau menyebrang ke Belitung menjadi sasaran utama pengunjung Hotel Menumbing. (Dok. Hotel Menumbing)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekitar 150 tahun yang lalu, berdiri sebuah bangunan yang digunakan sebagai rumah pejabat militer di Jalan Gereja, Pangkalpinang, Bangka. Lewat masa penjajahan, bangunan bergaya kolonial bertingkat tiga lantai itu lalu direkonstruksi ulang menjadi hotel, oleh pemuda daerahnya yang telah sukses menjadi pengusaha di Jakarta, Ishak Buntaran.

Diberi nama Menumbing--yang diambil dari nama Bukit Menumbing, hotel itu tercatat sebagai yang pertama berdiri di Bangka sejak 1980.

Walau saat itu masih beroperasi dengan seadanya, Hotel Menumbing telah melayani berbagai tamu penting pemerintah, salah satunya ialah sekelompok ilmuwan internasional yang mendapat undangan untuk melakukan penelitian dari mantan Presiden Soeharto pada 1988.


Tiga dekade kemudian, mimpi Ishak untuk mengembangkan bisnis hotelnya dilanjutkan oleh sang anak, Alvert Buntaran.

Konsep kekinian pun diterapkan, tanpa meninggalkan ciri khas kolonial yang bersejarah.

Hasilnya, bangunan tua diperbaharui dan pelayananan dimodernisasi, agar tidak kalah bersaing dengan hotel-hotel di kota wisata lainnya.

Di bawah manajemen Culture Royale, perusahaan penyedia jasa katering mewah yang berpusat di Jakarta, sudah sejak setahun yang lalu Hotel Menumbing resmi beroperasi.

CNNIndonesia.com yang mendapat kesempatan untuk mengunjungi Bangka tentu saja tidak melewatkan kesempatan untuk merasakan bermalam di bangunan yang dinobatkan sebagai ikon sejarah oleh Dewan Pariwisata Pulau Bangka ini.

Datang bertepatan dengan ulang tahun Pangkalpinang yang ke-259 pada Sabtu (17/9), hotel ini terasa sudah siap untuk menyambut wisatawan dalam dan luar negeri yang biasanya ramai datang di pertengahan dan akhir tahun.

Berjarak sembilan kilometer dari Bandar Udara Depati Amir serta lima kilometer dari pusat kota, hotel ini bisa dibilang sangat strategis.

Wisatawan yang ingin menghabiskan waktu di Bangka atau menyebrang ke Belitung--yang bisa ditempuh dengan kapal selama sekitar 4 jam atau pesawat sekitar 30 menit, menjadi sasaran utama pengunjung hotel ini.

Saat ini, Hotel Menumbing menyediakan 54 kamar dengan empat tipe, yang dibanderol dengan harga mulai dari Rp700 ribuan hingga Rp1,7 jutaan.

Kamar di Hotel Menumbing. (Dok. Hotel Menumbing)

Ruang meeting di Hotel Menumbing. (Dok. Hotel Menumbing)

Selain kamar, hotel ini juga memiliki kolam renang, restoran, bar, dan ruang meeting, yang juga kental dengan nuansa kolonial.

Situs perjalanan TripAdvisor memberi rating 4,5 dari 5 untuk hotel ini. Puluhan komentar yang ditulis pun sepakat mengatakan kalau hotel ini nyaman untuk ditinggali, meski masih harus menyesuaikan beberapa hal.

Salah satunya ialah kawasan sekitar hotel yang dikelilingi oleh pasar tradisional. Ya, saat membuka tirai, penampakan kios-kios pasar memang menjadi pemandangan utamanya.

Tidak ada yang salah dengan pemandangan itu--juga tidak terasa kebisingan dari luar ke dalam hotel, namun sebaiknya jangan terlalu berekspektasi tinggi untuk melihat pemandangan alam bak lukisan dari hotel ini.

Kolam renang di Hotel Menumbing. (Dok. Hotel Menumbing)

Restoran dan bar di Hotel Menumbing. (Dok. Hotel Menumbing)

Jika ingin memanjakan mata, pihak hotel dengan baik hati memberikan petunjuk praktis menikmati wisata di Bangka. Ketika datang, tamu diberi peta berisi lokasi-lokasi yang menarik untuk didatangi, mulai dari Bangka Botanical Garden, Pantai Pasir Padi, Pantai Tanjung Bunga, Klenteng Tung Fong Miaw Fong dan Klenteng Shen Mu Miaw.

Managing Director Hotel Menumbing, Derrick Buntaran, mengaku percaya diri dengan perkembangan bisnis hotelnya.

Ia sadar, bahwa hotel dan pariwisata kotanya memang masih perlu terus dibenahi, tapi dengan konsep yang sedang dijalani saat ini, ia yakin bahwa suatu saat Bangka juga bisa bersaing dengan Belitung atau bahkan Bali, yang sampai saat ini masih menjadi magnet pariwisata Indonesia.

"Sama seperti Bali, potensi Bangka itu ada di lautnya, baik wisata maupun makanannya. Kalau di Bali, semuanya mungkin sudah hampir habis dieksplorasi, kalau di Bangka bisa dibilang masih baru," kata Derrick, saat diwawancara oleh CNNIndonesia.com.

"Wisatawan yang gemar kuliner wajib mendatangi Bangka. Di sini hasil bumi, terutama tangkapan laut, selalu tersedia segar setiap harinya. Jadi olahannya lebih otentik dan beragam," lanjutnya sambil menambahkan kalau hidangan ditangani langsung oleh tim dapur Culture Royale.

Rencana pembangunan bandar udara baru juga membuat Derrick optimis. Saat ini, setiap harinya ada sebanyak 17 penerbangan dari dan ke Bangka, dengan tarif tiket mulai dari Rp450 ribuan.

Dengan penambahan bandar udara, kedatangan wisatawan pun diyakini akan bertambah.

Dijelaskan Derrick, setelah Hotel Menumbing dinobatkan sebagai ikon sejarah, pemerintah daerah juga akan mulai membenahi beberapa lokasi potensi wisata yang lain di Bangka.

Pembenahan itu memang sangat perlu dilakukan, atau mungkin bisa dipercepat agar tidak tertinggal dengan Belitung, karena dari pengalaman CNNIndonesia.com mengunjungi Pantai Tikus pada Minggu (18/9), beberapa wisatawan terlihat bingung untuk menghabiskan waktu, jadi kebanyakan dari mereka hanya memancing, berfoto atau hanya sekedar duduk-duduk.

Tak hanya menjadi magnet pariwista, dikatakan Gubernur Bangka Belitung--melalui keterangan resminya, kalau Hotel Menumbing juga harus dapat menjadi motor penggerak ekonomi di Bangka.

"Hotel ini menjadi pengingat akan sejarah dan budaya yang ada di Bangka. Ke depannya, akan ada banyak cagar budaya yang direhabilitasi pemerintah. Itu semua dilakukan agar kota ini berkembang tanpa melupakan sejarah," ujar Rustam.

"Saya harap, hotel ini juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan untuk masyarakat, agar mereka juga merasa ikut bertanggungjawab dalam hal menjaga dan mengembangkan pariwisata Bangka," lanjutnya.

(ard/ard)