Selat Lembeh, 'Putri Tidur' di Utara Sulawesi

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Rabu, 21/09/2016 17:16 WIB
Selat Lembeh, 'Putri Tidur' di Utara Sulawesi Selat Lembeh menawarkan keanekaragaman hayati laut yang berbeda dengan Tamah Laut Bunaken, dan menjadi surga macro photography bagi para divers. (AndamanSE/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Raja Ampat, Bunaken, Derawan dan Wakatobi hanyalah beberapa destinasi wisata bahari di Indonesia yang kini tengah meningkat pamornya. Padahal, masih terdapat destinasi lain yang menyimpan keindahan bawah laut, sebut saja Selat Lembeh di utara Sulawesi.

Selat Lembeh adalah perairan sempit yang memisahkan Pulau Sulawesi, tepatnya Kota Bitung dan Pulau Lembeh. Kendati secara geografis dekat dengan Bunaken, namun Selat Lembeh punya keanekaragaman hayati laut yang tidak dimiliki destinasi populer di Manado tersebut.

Berbicara pantai, Selat Lembeh terbilang punya pantai yang tidak terlalu lebar dan diikuti tubir atau tepi jurang. Arusnya pun kuat karena selat yang sempit berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Namun selat sepanjang 16 kilometer dengan lebar sekitar satu-dua kilometer ini punya 95 titik penyelaman (diving spot).


“Selat Lembeh kini mulai dikenal sebagai surga macro photography bagi para divers karena banyak dijumpai biota langka berukuran kecil atau endemik dan tidak ditemukan di tempat lain,” kata Wali Kota Bitung Maximiliaan Lomban, dalam rilis yang diterima CNNIndonesia.com, belum lama ini.

Dia menyebutkan beberapa biota langka tersebut adalah pigmy seahorse, hairy frogfish dan mimic octopus.

Di Selat Lembeh juga terdapat ekowisata mangrove, Taman Nasional Tangkoko, ada 233 spesies burung, di sini juga hidup Tarsius,” tambah Maximiliaan.

Selain itu, Lembeh juga memiliki pesona destinasi bersejarah seperti Monumen Trikora, Kapal Karam, juga gelaran festival seperti Festival Selat Lembeh yang akan digelar 6-10 Oktober 2016 mendatang.

”Bagi saya, Lembeh itu ibarat putri cantik yang sedang tidur. Festival Selat Lembeh adalah cara membangunkan putri tersebut,” ujarnya.

Banyak biota langka yang bisa ditemui di Selat Lembeh, seperti pigmy seahorse, hairy frogfish, dan mimic octopus. (fenkieandreas/Thinkstock)
Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menambahkan Festival Selat Lembeh itu juga merupakan upaya mempromosikan Kota Bitung sebagai international hub sea port. Dengan kata lain, Bitung tengah dicanangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang memiliki potensi strategis sebagai kawasan industri dan perdagangan, kota pelabuhan internasional, kota perikanan, kota pariwisata dunia dan kota konservasi alam.

Olly menyebutkan terdapat lima pilar pariwisata yang bisa dikembangkan di Lembeh, yakni Pesona Bahari, Pesona Fauna, Pesona Industri, Pesona Budaya dan Pesona Sejarah.

Melalui lima pilar tersebut, Olly optimistis Sulawesi Utara bisa menyumbang satu juta wisatawan, di 2019 mendatang. Terlebih, kini akses menuju Lembeh semakin luas dengan adanya penerbangan langsung yang ditawarkan maskapai Lion Air.

”Setelah dibuka penerbangan langsung maka akan menjadi hubungan pertama di Timur seperti Luwuk, Morotai, raja Ampat, Wakatobi, terutama wisatawan dari China, Hong Kong, Jepang dan Korea Selatan,” tutur Olly.

Dia juga menambahkan akses menuju Bitung dan Selat Lembeh, semakin mudah. “Bitung dari Manado hanya 50 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan darat dari Bandara Sam Ratulangi di Manado,” kata dia. (les)