Batik: Kain Peradaban Bangsa, Bukan Kain Tradisional

Christina Andhika Setyanti, CNN Indonesia | Minggu, 02/10/2016 10:03 WIB
Desainer Edward Hutabarat mengungkapkan bahwa batik bukanlah tren, juga bukan fesyen. Batik adalah kain peradaban yang dibuat dengan beradab. Ilustrasi membatik (ANTARA FOTO/ Budi Candra Setya)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sudah sejak 2009, UNESCO mengakui batik sebagai Warisan budaya tak benda dari Indonesia. Sayangnya meski sudah cukup lama diakui dunia, ternyata masih belum banyak orang Indonesia yang bisa mengapresiasi batik.

Apresiasi yang dimaksud bukan hanya sekadar bangga memakai baju batik saja. Namun desainer batik Edward Hutabarat mengungkapkan bahwa seharusnya orang Indonesia juga paham tentang akar batik dan makna yang terkandung di dalamnya.  


“Banyak orang yang tidak paham tentang sisi menariknya batik. Banyak juga yang tidak paham ada alasan mengapa UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya tak benda dari Indonesia,” kata Edward Hutabarat kepada CNN Indonesia.com.


Edo—sapaan hangat Edward—mengungkapkan bahwa salah satu alasan di balik alasan UNESCO itu adalah karena batik adalah kain peradaban.  
“Batik adalah kain yang masuk ke dalam ranah kerajaan, dan dipakai untuk berbagai seremoni,” ucapnya.

“Misalnya, batik parang barong. Batik ini dibuat oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma pada tahun 1613-1645. Barong disusun dari atas ke bawah membentuk S untuk meniru gelombang laut dan melambangkan semangat yang tak akan pernah padam.”

Batik parang barong ini dipakai hanya untuk peringatan ulang tahun kerajaan Mataram Kartasuro, Solo, dan juga untuk upacara penobatan raja atau ratu yang disebut jumenengan. Batik ini hanya boleh dipakai oleh para raja.

Parang barong hanyalah salah satu di antara batik-batik yang ada. Namun dulunya jenis batik dibuat untuk melengkapi seremoni dalam kehidupan manusia.

“Dari kelahiran, tedak sinten, midodareni, bleketepe, siraman, menyuapi, akad nikah, panggih, itu semua ada motif batiknya sendiri. Batik dibuat menurut makna, bukan tren. Batik dibuat sesuai dengan doa kepada leluhur dengan tulus.”

Desainer yang sudah 35 tahun mendalami akar budaya batik ini mengungkapkan bahwa batik adalah sebuah proses. Dia mengungkapkan, batik bukanlah kain tradisional dan batik bukanlah fesyen.

“Batik adalah kain peradaban. Batik dibuat secara beradab, ada curahan rasa, hati, doa, kelembutan, jiwa, harmoni dan cinta dalam setiap goresannya,” katanya.

Pendapatnya memang tak salah, tak dimungkiri bahwa membatik bukanlah sekadar mencorat-coret kain tanpa perhitungan dan makna. Bagi dia, membatik bisa diibaratkan seperti seorang penari Bedoyo. Seorang penari Bedoyo bisa mencocokan gerakan dengan hitungan gamelan dan mengerti arti dari lirik lagu yang dinyanyikan para sinden.

Demikian pula para pembatik, ketika membasahi canting dengan malam, seorang pembatik harus tahu betul seberapa panas malamnya. Pembatik pun juga harus tahu seberapa banyak dia harus mengisi cantingnya, sampai seberapa kuat tiupannya ke ujung canting.

"Semua perhitungan yang tepat dan akurat ini akan membuat goresan pertama dari pukul 08.00 sampai pukul 15.55 itu punya goresan yang sama,” ujarnya.

“Semua tak akan bisa dilakukan kalau tak ada hati dan rasa untuk membuatnya.”

Batik berasal dari bahasa Jawa, ‘amba’ dan ‘nitik.’ Sehingga mbatik sendiri berarti menggambar yang serba kecil (titik) dengan menggunakan malam. Prosesnya pun tidaklah mudah dan cepat. Prosesnya dimulai pembuatan motif, pemberian malam, pemberian warna, pencucian, nglorot, dan pencucian serta penjemuran.

Dengan bersemangat, lebih lanjut Edo menceritakan perkembangan batik di Indonesia. Perkembangan batik selanjutnya dipengaruhi oleh kedatangan VOC, China, dan Jepang. Kedatangan Jepang akhirnya memunculkan batik Hokokai.

Batik hokokai ini dikenal juga sebagai batik dua sisi atau batik pagi dan sore. Batik ini muncul pada abad ke-19 sekitar tahun 1940 atau 1950-an.

Saat itu, zaman perang tapi semua perempuan harus tampil modis. Karena kain yang sulit didapat, mereka ‘meramu’ kain ini agar bisa dipakai dua sisinya. Satu hari akan dipakai di sisi kiri dan lain hari dipakai sisi kanannya.

“Kain hokokai saat itu sangat aduhai, kainnya dipenuhi dengan tanahan [motif yang menjadi latar belakang batik] dan cecek [titik-titik gradasi pada batik] yang sangat indah.”

Kedalaman rasa, makna, jiwa, cinta, dan harmoni yang ‘tertulis’ dalam batik tulis inilah yang dianggap Edo sebagai sebuah karya seni yang orisinal. Nilai-nilai batik inilah yang dianggap sakral dan menjadi akar budaya Indonesia.



Dikomersialkan

Sayangnya, wajah batik kini mulai berubah. Nilai karya seni yang agung dan mendalam ini kini banyak dikomersilkan. Komersialisasi batik ini dilakukan salah satunya dalam rupa batik print.

“Batik yang original dibuat tanpa ada print di dalamnya.”

“Adalah sebuah pemandangan yang miris ketika ada desainer yang bilang kalau dia cinta batik tapi dia mengeluarkan koleksi print. Dia bukan seniman, tapi pedagang. Seniman itu bekerja dengan hati dan jiwa,” katanya.

Dia menambahkan, bekerja dengan hati dan jiwa tak berarti tak bisa menghasilkan uang. Kemampuan untuk ‘meracik’ menjadi fesyen tanpa menghilangkan makna dan akar budaya itulah yang dibutuhkan.

“Saya akui yang saya pasarkan ini bukan untuk lokal. Walaupun inspirasinya dari akar terdalam tapi konsumen sasaran saya adalah Paris, Milan, dan New York,” ucap Edo.

“Apresiasi mereka lebih tinggi dibanding lokal. Sebagian besar orang lokal hanya mengapresiasi hasil akhir, bukan proses. Desainer pun begitu. Makanya banyak yang menyontek hasil akhir saya. Tapi yang tak pernah disontek adalah bagaimana mencari akar budaya itu. Karena itu butuh waktu lama.”

Modernitas

Dengan tegas, Edo mengungkapkan bahwa batik bukanlah tren. Meski demikian, bukan berarti kalau batik tak bisa tampil modern. Baginya, modern adalah sebuah kualitas, kesederhanaan, kreativitas, dan identitas.

“Lewat sebuah kesederhanaan, Anda bisa melihat kualitas. Anda bisa melihat mana jahitan yang miring mana yang tidak. Dan kualitas, kesederhaan, dan identitas, adalah senjata paling ampuh untuk menghadapi gempuran Barat,” katanya menjelaskan.

“Indonesia dengan belasan ribu pantai, adat istiadat, seremoni, itu punya kekayaan dan kekuatan besar. Saya percaya bahwa Indonesia is the masterpiece of God. Tuhan hanya punya satu masterpiece dan itu adalah Indonesia." (vga)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK