Wisata Bitung dalam Gerak Tari dan Seni Digital

Lesthia Kertopati, CNN Indonesia | Rabu, 19/10/2016 02:39 WIB
Bitung, Sulawesi Utara, punya banyak daya tarik wisata. Sayangnya, pamornya masih redup. Festival Pesona Selat Lembeh diharapkan jadi solusi. Bitung tengah dicanangkan menjadi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), termasuk di dalamnya kawasan wisata dan konservasi alam. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Bitung, CNN Indonesia -- Panorama alam bisa jadi kekuatan penarik kunjungan wisatawan. Namun, hijau pegunungan dan biru lautan tidak akan jadi incaran tanpa perkenalan. Selain itu, bukan hal mudah memperkenalkan sebuah destinasi sebagai objek wisata. Ada akses dan fasilitas yang harus juga dipersiapkan. Tak semata mengandalkan keindahan.

Sebut saja Bali, perkenalannya sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Tepatnya sejak 1970an. Maka, wajar jika kini, Bali jadi destinasi wisata populer. Apalagi akses dan fasilitasnya terus ditambah. Tidak heran jika wisatawan terus bertandang.

Sayangnya, tidak demikian keadaannya dengan destinasi lain di Indonesia. Padahal, dari segi keindahan alam, semua punya kelebihan.


Bitung contohnya. Kota pelabuhan di Sulawesi Utara itu punya Selat Lembeh yang dikenal sebagai salah satu titik penyelaman terindah di Indonesia.
Selat Lembeh adalah perairan sempit yang memisahkan Pulau Sulawesi, tepatnya Kota Bitung, dan Pulau Lembeh. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)Selat Lembeh adalah perairan sempit yang memisahkan Pulau Sulawesi, tepatnya Kota Bitung, dan Pulau Lembeh. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Selat Lembeh adalah perairan sempit yang memisahkan Pulau Sulawesi, tepatnya Kota Bitung, dan Pulau Lembeh. Kendati secara geografis dekat dengan Bunaken, namun Selat Lembeh punya keanekaragaman hayati laut yang tidak dimiliki destinasi populer di Manado tersebut.

Berbicara pantai, Selat Lembeh terbilang punya pantai yang tidak terlalu lebar dan diikuti tubir atau tepi jurang. Arusnya pun kuat karena selat yang sempit berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Namun, selat sepanjang 16 km dengan lebar sekitar 1-2 km ini punya 95 titik penyelaman (diving spot).

“Selat Lembeh kini mulai dikenal sebagai surga macro photography bagi para divers karena banyak dijumpai biota langka berukuran kecil atau endemik dan tidak ditemukan di tempat lain,” kata Wali Kota Bitung Maximiliaan Lomban kepada CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan beberapa biota langka tersebut adalah pygmy seahorse, hairy frogfish, dan mimic octopus.

Di Selat Lembeh juga terdapat ekowisata mangrove, Taman Nasional Tangkoko. “Ada 233 spesies burung dan disini juga hidup Tarsius, primata terkecil di dunia,” tambah Maximiliaan.

Selain itu, Lembeh juga memiliki pesona destinasi bersejarah seperti Monumen Trikora serta penyelaman kapal karam atau shipwreck diving.

Sayangnya, semua daya tarik itu 'tersembunyi'. Pamor wisata Lembeh masih kalah dibandingkan Bunaken, apalagi Bali.

Itulah alasannya, pemerintah kota Bitung getol menggelar festival, seperti Festival Pesona Selat Lembeh (FPSL) yang baru diselenggarakan 6-10 Oktober lalu.
Anak-anak berpartisipasi dalam Festival Pesona Selat Lembeh dengan berpakaian adat Kabasaran khas Minahasa. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)Anak-anak berpartisipasi dalam Festival Pesona Selat Lembeh dengan berpakaian adat Kabasaran khas Minahasa. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Internasional Rasa Lokal

Melihat ukuran acara yang berlokasi di Pelabuhan Perikanan Aertembaga, Bitung, itu, Festival Pesona Selat Lembeh bisa menjadi ajang internasional. Sayangnya, kurangnya papan petunjuk berbahasa Inggris, begitu juga dengan pemandu yang menguasai bahasa asing, membuat FPSL jadi pesta rakyat. Festival bagi masyarakat Bitung.

Tapi, dari sisi antusiasme dan jumlah pengunjung yang hadir di acara puncak festival, acara tersebut termasuk sukses. Kendati masih terdapat beberapa catatan yang harus jadi perhatian.

Masyarakat Bitung seolah haus mereguk semua kegiatan, dari ajang Color Run, tari masamper massal, hingga berbagai lomba, tak kekurangan peserta dan penonton. Kawasan wisata kuliner pun terus kebanjiran konsumen. Tak jarang peserta wisata kuliner yang terdiri dari ibu-ibu PKK tingkat desa hingga kecamatan, harus bolak-balik mengisi ‘amunisi’ karena banyaknya pembeli.

“Sudah dua kali saya ambil persediaan hari ini,” kata Sonya, pemilik Rumah Makan Citra, yang menyediakan menu pepes cakalang serta satai tuna sebagai menu andalan.

Hal serupa juga diungkapkan Meyske yang berjualan sashimi, salah satu menu unik dari Bitung.

“Banyak yang beli. Makan sashimi sudah jadi kebiasaan di Bitung,” ujar wanita yang menjual paket lengkap sashimi dengan ubi rebus dan sambal kecap seharga Rp25 ribu tersebut.

Berbicara fasilitas publik, panitia sudah cermat memikirkan beberapa titik toilet umum untuk memudahkan pengunjung, kendati tanpa papan petunjuk arah yang jelas.  Area pelabuhan yang luas pun membuat pengunjung bebas melakukan kegiatan, mulai dari bersantai di tepi pantai, mengikuti lomba, atau sekedar berjalan berkeliling sembari melihat barang yang dijajakan di bazaar mini.

Gerak Tari dan Seni Digital

Satu hal yang membedakan Festival Pesona Selat Lembeh dengan pesta budaya lainnya adalah pertunjukkan kolosal dari warga lokal, bertajuk 'Warna-Warni Pesona Bitung'. Pertunjukkan tersebut melibatkan setidaknya 200 penari dan seluruhnya berasal dari Bitung.

Dyah Kusuma, Produser Warna-Warni Pesona Bitung menyebut, dibutuhkan waktu dua bulan mempersiapkan pertunjukkan historis-kultural tersebut.

“Kita ingin bercerita tentang kekayaan Bitung dari budaya, bahari, hewan-hewan unik, juga sejarah-budaya-religi, dengan cara yang berbeda,” ujar Dyah.

Pertunjukkan yang menjadi acara puncak festival itu, diharapkan Maximiliaan Lomban bisa jadi daya tarik unik sekaligus media promosi wisata dan budaya Bitung.

Berupa pagelaran kolosal musik dan tari dibarengi dengan kecanggihan video maping yang menjadi latar panggung. Tujuannya, membawa seluruh pesona Bitung langsung ke hadapan penonton, kisah sejarah dan pesona wisata dalam seni tiga dimensi. Apalagi tarian yang dibawakan mengambil gerak dasar tarian khas tradisional Bitung.

Kombinasi gerak tari, musik dan video eksotik itu bercerita tentang sejarah awal Kota Bitung yang berasal dari pohon Witung, kehidupan sehari-hari kota pelabuhan tersebut, sekaligus ikan cakalang yang jadi makanan khas Bitung dan diwujudkan dalam tarian berjudul ‘Tangkap Cakalang’.
Tarsius adalah primata mungil bermata besar yang jadi hewan khas Sulawesi Utara. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)Tarsius adalah primata mungil bermata besar yang jadi hewan khas Sulawesi Utara. (CNN Indonesia/Lesthia Kertopati)
Selanjutnya, pertunjukkan tersebut juga memperlihatkan hewan-hewan khas Bitung seperti monyet hitam berpantat merah atau Yaki dan Tarsius, primata imut bermata besar. Tidak ketinggalan keindahan taman bawah laut, termasuk kuda laut kecil dan terumbu karang.

Dyah menambahkan, pemilihan tema 'Warna-Warni Pesona Bitung' bukan tanpa alasan. Posisi strategis Bitung di bibir Pasifik menyebabkan kota ini menjadi simpul pertemuan beragam budaya dan gerbang pertemuan berbagai bangsa dari Timur Indonesia seperti Filipina hingga Asia Timur.

“Kondisi ini menyumbangkan keragaman budaya Kota Bitung sebagai kota multietnis serta multikultur, berwarna-warni,” kata Dyah, yang menambahkan selama kurang lebih dua bulan, para pemain lokal mendapatkan pelatihan koreografi, seni merias wajah, serta merancang busana panggung mereka sendiri.

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menambahkan Festival Pesona Selat Lembeh itu juga merupakan upaya mempromosikan Kota Bitung sebagai international hub sea port. Dengan kata lain, yang memiliki potensi strategis sebagai kawasan industri dan perdagangan, kota pelabuhan internasional, kota perikanan, kota pariwisata dunia dan kota konservasi alam.

Oleh karena itu, Olly optimistis Sulawesi Utara bisa menyumbang satu juta wisatawan di 2019 mendatang. Terlebih, kini akses menuju Lembeh semakin luas dengan semakin banyaknya penerbangan langsung yang ditawarkan maskapai nasional. 

”Setelah dibuka penerbangan langsung maka akan menjadi hubungan pertama di Timur seperti Luwuk, Morotai, Raja Ampat, Wakatobi, terutama bagi wisatawan dari China, Hong Kong, Jepang dan Korea Selatan,” tutur Olly.

Dia juga menambahkan akses menuju Bitung dan Selat Lembeh, semakin mudah. “Bitung dari Manado hanya 50 kilometer atau sekitar satu jam perjalanan darat dari Bandara Sam Ratulangi di Manado,” kata dia. (les)