Drone, 'Juru Selamat' Kota Bersejarah Nimrud

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Rabu, 16/11/2016 19:26 WIB
Drone, 'Juru Selamat' Kota Bersejarah Nimrud Kota bersejarah Nimrud yang kini berupa reruntuhan setelah digempur ISIS. (AFP PHOTO / SAFIN HAMED)
Jakarta, CNN Indonesia -- Nimrud, kota kuno berusia 3000 tahun di Irak, hancur lebur setelah serangan ISIS, beberapa hari lalu.

Istana dan candi di Nimrud, yang dulu merupakan jantung kerajaan Asiria di Mesopotamia itu, diberondong peluru panas dan bom. Pasukan militan Islam radikal tersebut, sejak 2014 lalu, telah menghancurkan berbagai bangunan bersejarah yang mereka anggap sebagai tempat pemujaan berhala.

Nimrud adalah ‘korban’ terbaru setelah Palmyra di Suriah.


Para sejarawan dan pakar arkeologi masih cemas akan kondisi Nimrud. Pasalnya, mereka belum bisa melakukan penyelamatan secara menyeluruh, karena terkendala pasukan ISIS yang masih bersembunyi di dekat kota kuno itu.

Karena itulah, pihak militer Irak berpaling pada drone sebagai ‘juru selamat’ Nimrud. Mereka menerbangkan drone guna memastikan Nimrud aman dari jamahan ISIS.

“Kami menggunakan drone untuk memastikan tidak ada ancaman lagi dalam waktu dekat," kata salah satu anggota militer Irak dari Ninth Armoured Division kepada Reuters.

Dia mengungkapkan drone yang terbang di kawasan Nimrud, tidak bersenjata.

“Kami tidak ingin memicu konflik baru dengan pihak ISIS dan memperparah kehancuran bangunan-bangunan di Nimrud,” tambahnya.

Nimrud berada di timur Sungai Tigris atau 30 km dari selatan Mosul, dimana Irak tengah berperang melawan ISIS. Mosul adalah kota terbesar yang berada di bawah dominasi ISIS di Irak dan Suriah.

Adapun kota kuno Nineveh di Mosul dan Khorsabad, masih terlindungi.

Sayangnya, Hatra, kota kuno berusia 2000 tahun yang terkenal dengan arsitektur akulturasi Romawi-Yunani dan sentuhan Timur, dikuasai ISIS dan dihancurkan pada 2014.

Badan Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO mengutuk ISIS yang terus menghancurkan kota-kota bersejarah. Terlebih atas aksi mereka yang berujung kerusakan Nimrud, kota kuno di Mesopotamia yang menjadi saksi awal peradaban manusia.

“Pembebasan kota-kota kuno di Irak dari cengkraman peperangan, bukan hanya kemenangan bagi Irak, tapi kemenangan bagi manusia,” kata Wakil Menteri Kebudayaan Irak Qais Hussain Rasheed.

Sebelumnya, di Suriah kelompok militan Islam memporak-porandakan situs bersejarah Palmyra di Suriah. Mereka meledakkan dua kuil dan gerbang lengkung berusia ribuan tahun, dengan dinamit.

Pakar arkeologi Suriah mengatakan Palmyra masih bisa direstorasi, namun video yang berhasil didapatkan tentara Irak, menunjukkan bahwa kehancuran Nimrud jauh lebih parah.

Setidaknya sepuluh patung raksasa di Nimrud hancur. Patung-patung berukuran masif itu terletak di gerbang istana juga di Kuil Ishtar, dewi cinta, perang, seks dan kekuatan. Hal serupa juga terjadi di Kuil Nabu, dewa literatur dan kebijaksanaan.

Tidak hanya patung, militan ISIS juga menggunakan buldozer dan bor untuk menghancurkan tembok berhias mural. Mereka juga terlihat mengisi tong-tong dengan dinamit guna meledakkan kuil.

Tiga bulan lalu, melalui citra satelit, ISIS terlihat telah menghancurkan ziggurat atau menara berundak, yang dibangun oleh Ashurnasirpal II dan Shalmaneser III di abad ke-9 Sebelum Masehi.

Dari citra satelit yang sama, diketahui bahwa sebagian besar istana dan dua kuil masih terlihat utuh.

“Namun, masih terlalu dini untuk membicarakan sejauh mana kerusakan yang ditimbulkan oleh ISIS,” ujar pakar arkeologi Irak yang tidak ingin disebutkan namanya.

“Setelah tempat tersebut benar-benar diamankan, kami akan mengirimkan ahli arkeologi untuk melakukan pemeriksaan. Kami akan mengambil gambar dan menulis laporan detail kerusakan.”

Penggalian Nimrud dilakukan sejak awal abad ke-19, termasuk juga dalam misi Max Mallowan, arkeolog Inggris, pada 1950, yang pada waktu itu ditemani sang istri, novelis detektif kenamaan Agatha Christie.

Pengalamannya di Irak dan perjalanan dari Inggris ke Timur Tengah, terangkum dalam beberapa bukunya, termasuk ‘Murder on the Orient Express’, ‘They Came to Baghdad’, dan ‘Murder in Mesopotamia’. (Awita Ekasari Larasati/les)