Berikan Lingkungan yang Lebih Bersahabat bagi Anak-anak

Vega Probo, CNN Indonesia | Minggu, 20/11/2016 15:22 WIB
Berikan Lingkungan yang Lebih Bersahabat bagi Anak-anak Setiap hari, jutaan anak di dunia menjadi korban kekerasan terutama di kancah perang macam Suriah. Dunia diimbau untuk memberikan lingkunan yang lebih bersahabat bagi anak-anak. (Mohamed Azakir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hari Anak Sedunia, pada 20 November, bukan sekadar satu hari untuk merayakan anak-anak di mana pun, melainkan momen untuk menegaskan komitmen memberikan perlindungan hak-hak setiap anak. Demikian disampaikan Unicef melalui siaran persnya.

Pencanangan Hari Anak Sedunia oleh PBB pada 20 November sudah sejak beberapa dekade lalu, melalui Deklarasi Hak-hak Anak pada 1959, juga Konvensi Hak-hak Anak pada 1989. Hak-haknya meliputi kehidupan pribadi dan keluarga, kesehatan, pendidikan dan kesempatan bermain.

“Anak-anak berhak diperlakukan secara adil, bebas depresi, serta dilindungi dari berbagai tindakan kekerasan, terlebih yang bersifat diskriminatif. Mereka berhak menyampaikan pandangan dan diperhatikan,” kata Anthony Lake, Executive Director UNICEF, dalam siaran pers.


Namun kenyataannya, lanjut Lake, setiap hari jutaan anak di dunia menjadi korban kekerasan terutama di kancah perang macam Suriah, Yaman, Nigeria, Sudan, dan lain-lain. Mereka jauh dari makanan, minuman, air dan perawatan kesehatan, hingga terjangkit penyakit.

Tak hanya di kancah perang, menurut Lake, anak-anak di negara lain pun menjadi sasaran kekerasan dan eksploitasi. “Bila hak anak tidak dilindungi, mustahil kelak mereka mampu menghargai orang lain. Untuk itu, hak-hak anak harus dilindungi demi masa depannya.”

Hal senada juga disampaikan oleh Sekjen PBB Ban Ki-moon. Hari Anak Sedunia layak dijadikan momentum untuk “memberikan perhatian bagi anak-anak yang terabadikan atau terlalu disorot.” Dunia diimbau untuk memberikan lingkunan yang lebih bersahabat bagi anak-anak.

Imbauan ini tak hanya berlaku bagi orang tua, namun terutama juga kalangan pemerintah dan instansi terkait. Bersama-sama melakukan dialog dan aksi nyata, memikul tanggung jawab untuk memberikan lingkungan yang nyaman bagi anak-anak demi masa depan mereka.

Telepas adanya imbauan tersebut, kepedulian terhadap anak-anak—terutama yang biasa berkeliaran di jalanan— sudah sejak beberapa tahun terakhir menjadi fokus organisasi nirlaba Save Street Child (SSC) yang diinisiasi oleh Shefti L. Latiefah.

Indonesia memang bukan kancah perang, tapi jumlah anak-anak yang terabaikan—dalam hal ini anak-anak jalanan—juga tidak sedikit. Untuk itulah, SCC bertindak, menggelar program rutin kelas belajar saban Sabtu dan Minggu, juga Edu Trip dan kampanye lain.

Sejauh ini, menurut Septiana Ika Hidayanti yang bertindak sebagai pengawas, cabang SSC telah tersebar di 17 kota di Indonesia. Sementara di Jabodeta sendiri, tak kurang 100 anak jalanan mendapatkan fasilitas pendidikan dan pelatihan wirausaha.

Dikatakan wanita muda yang akrab disapa Septi ini, anak jalanan layak diperhatikan karena mereka tidak memiliki orang tua atau keluarga yang berkecukupan secara ekonomi. Mereka terpaksa bekerja sejak usia dini demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Padahal mereka juga punya semangat belajar,” kata Septi kepada CNNIndonesia.com. “Suatu kali kami menjemput bola dengan menggelar kelas belajar, gratis. Pada pekan berikutnya, justru mereka yang menunggu kami. Semangat belajar mereka luar biasa.”

Tentu saja amat disayangkan bila semangat belajar yang begitu menggebu harus pupus lantaran tidak ada orang yang peduli, baik sebagai relawan pengajar maupun donatur. Untuk itu lah, SSC menggalang kepedulian dan menggelar kelas belajar secara rutin.

“Kami juga menggelar Edu Trip, mengajak anak-anak jalanan berwisata ke arena edukatif sambil bermain,” kata Septi. Selain itu, relawan SSC juga mengajar wirausaha, agar anak-anak memiliki ketrampilan dan bisa mencari nafkah, tanpa mengemis di jalanan.

Rata-rata anak jalanan yang dirangkul SSC, menurut Septi, dari kalangan tidak mampu. Orang tua mereka tidak bekerja atau tidak berpendidikan tinggi. Pekerjaan sehari-hari sebagai pemulung. Anak-anaknya pun turun ke jalan untuk mencari uang, membantu orang tua.

Ketika relawan SSC memberikan pilihan untuk belajar di kelas atau kelayapan, ternyata anak-anak jalanan memilih yang pertama. Dengan beroleh pendidikan, anak-anak berharap bisa mendapatkan kehidupan dan penghasilan yang lebih baik daripada orang tuanya.

Masalahnya, menurut Septi, kadang orang tua malah melarang anaknya sekolah dan menyuruh bekerja. Sekolah dianggap tidak memberikan uang sebagaimana pekerjaan. SSC sendiri tidak memaksa anak-anak untuk bersekolah, jika memang harus bekerja membantu orang tua.  

Maka fokus SSC pun lebih diarahkan kepada anak-anak jalanan yang memang mau belajar. Bagi Septi dan para relawan SSC, kebutuhan belajar anak-anak jalanan layak diperjuangkan. “Mereka berhak didukung agar punya kehidupan lebih baik dan tidak dipandang sebelah mata.”

Kegiatan SSC didukung pendanaan dari para donatur. Sekalipun dana terbatas, para relawan tetap serius menggaungkan kampanye lewat kegiatan rutin maupun media sosial. “Kami serius mendidik anak-anak jalanan,” kata Septi, “supaya mereka bisa mewujudkan cita-cita.”

(vga/vga)