Demi Pariwisata, Jokowi Genjot Bangun Hotel

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Kamis, 01/12/2016 21:07 WIB
Demi Pariwisata, Jokowi Genjot Bangun Hotel Pembangunan amenitas wisata di Indonesia masih belum merata. Hotel paling banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Bali. (davidlee770924/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bukan perkara sulit untuk menemukan tempat menginap di Bali. Dalam jarak 100 meter saja, dapat ditemukan bangunan berisi kamar untuk diinapi.

Keberadaan hotel memang menunjang kepopuleran suatu daerah wisata. Salah satu contohnya kawasan Nusa Dua di Bali, di mana sejumlah hotelnya laku dipesan untuk digunakan sebagai pusat pertemuan penting.

Tapi, potensi wisata Indonesia bukan hanya Bali, sehingga pembangunan hotel seharusnya dapat menyebar ke daerah wisata lain, terutama yang masuk dalam daftar 10 Bali Baru versi Kementerian Pariwisata.


Hal inilah yang ditekankan oleh Presiden Indonesia Joko Widodo, saat berbicara dalam Rapat Pimpinan Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia di Jakarta pada Kamis (1/12).

“Banyak investor yang bertanya mengenai perkembangan pariwisata kita. Artinya, banyak yang tertarik di bidang pembangunan properti, seperti hotel,” kata Jokowi.

“Saya kira hal ini sesuai dengan target mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara hingga 2019. Sehingga saya minta Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal untuk memberi perhatian khusus kepada investor swasta. Karena sektor ini akan memberi dampak pada perkembangan ekonomi kita,” lanjutnya.

Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Desember 2015 terdapat 2197 hotel berbintang di Indonesia, dengan persebaran terbanyak di Jawa Barat (283 hotel), Bali (281 hotel), Jakarta (228 hotel), Jawa Tengah (204 hotel) dan Sumatera Utara (111). Sementara hotel non bintang berjumlah 16,156 akomodasi, dengan total kamar sejumlah 289,727 buah. Namun lagi-lagi, sebaran terbesar berada di Pulau Jawa, Sumatera Utara, dan Bali. 

Di saat yang sama, sebanyak 57 jutaan orang memilih menginap di hotel berbintang, jumlah ini naik 5 jutaan dari tahun sebelumnya.

Sedangkan, 23 jutaan orang memilih menginap di hotel non-bintang, jumlah ini menurun 2 jutaan dibanding tahun sebelumnya.

Selain dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan keamanan, naik dan turunnya tingkat hunian juga dipengaruhi oleh kepopuleran objek atau atraksi wisata yang ada di sekitar hotel.

Alasan ini juga dikemukakan oleh General Manager Four Points by Sheraton Kuta, yang baru saja membuka pintunya di Kuta, Bali.

“Lokasi hotel kami sangat dengan dengan Pantai Kuta dan Jalan Legian, yang menawarkan banyak keseruan, mulai dari pantai sampai mall. Lokasi ini juga sangat digemari oleh wisatawan asal Australia, sehingga kalau musim liburan tingkat keterisian kami bisa mencapai 85 persen,” kata Masri saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Sayangnya, pengembangan hotel di destinasi wisata lainnya, di luar Jawa dan Bali, masih lambat. Sebut saja di Maluku Utara, BPS menyebut, sampai Desember 2015 hanya terdapat tiga hotel. Padahal daerah itu masuk dalam daftar Sepuluh Bali Baru yang tengah dicanangkan jadi destinasi unggulan Indonesia.