Laporan dari Singapura

Dilema Gaya Hidup Era Digital: Enggan Bayar

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 07/12/2016 08:17 WIB
Dilema Gaya Hidup Era Digital: Enggan Bayar Ilustrasi: Angka pengguna internet bertambah, namun sebagian masyarakat gentar menghadapi perubahan: dari tradisional dan gratis menjadi digital dan berbayar. (Pixabay.com)
Singapura, CNN Indonesia -- Perkembangan teknologi di dunia yang begitu pesat juga berdampak bagi Indonesia. Salah satunya, kehadiran media hiburan digital dan media sosial yang menggeser gaya hidup sebagian masyarakat. Kini, mereka lebih gemar mengandalkan dunia digital.

Namun, di tengah angka pengguna internet di Indonesia yang semakin bertambah, ternyata terselip paradoks menyangkut kesiapan masyarakat menghadapi perubahan: dari yang tradisional dan serba gratis menjadi digital dan berbiaya. Hal itu diungkapkan oleh pelaku industri media hiburan di Indonesia.

"Masyarakat sebenarnya siap untuk hidup secara digital, namun mereka masih belum siap untuk bayar," kata David Fernando Audy, presiden direktur MNC Media saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, usai memberikan materi di Singapore Media Festival, Singapura, pada Selasa (6/12).


Masyarakat sebenarnya siap untuk hidup secara digital, namun mereka masih belum siap untuk bayar.Presiden Direktur MNC Media David Fernando Audy
David mencontohkan banyak perusahaan digital yang harus 'berdarah-darah' untuk bertahan, seperti yang dilakukan oleh Amazon. Perusahaan penyedia jasa secara digital, disebut David, harus menanggung rugi lima hingga sepuluh tahun.

Kenyataannya, memang tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk mengubah gaya hidup ke arah digital. Tambah lagi, beberapa kesulitan yang dianggap mampu menghambat perkembangan gaya hidup digital: kesadaran masyarakat untuk 'membayar' kemudahan yang didapat dari media digital.

Industri digital di Indonesia, bila dilihat dalam angka, dinilai mampu berkembang lebih jauh. Tercatat, sebesar 88,1 juta penduduk Indonesia sudah menggunakan internet dan 79 juta di dalamnya menggunakan media sosial serta mengakses dari telepon pintar sebesar 43 persen.

Fakta lainnya, 70 persen telepon genggam di Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Faktor telepon genggam sebagai bagian dari gaya hidup modern Indonesia juga terekam dalam data Nielsen dari 2012 hingga 2015 yang mendapati jumlah pengguna telepon pintar semakin tinggi dan intensif, sedangkan mereka yang menonton televisi semakin menurun.

Perubahan gaya hidup seperti mencari hiburan dari media analog menjadi digital sudah terjadi di Amerika Serikat dan berbagai negara maju lain. Indonesia juga menerima percikan tren tersebut, mulai dari kehadiran Netflix, Spotify sampai Apple Music, juga layanan online sejenis. Tapi, ada perbedaan mendasar di antara Amerika dan Indonesia.

"Saya rasa apa yang terjadi di Amerika, 10-15 tahun lagi terjadi di Indonesia, namun bisa saja lebih cepat karena berkembangnya komunikasi. Meski mirip, kapan sama seperti mereka, tidak diketahui. Amerika pendapatan per kapita saja sudah $40 ribu per tahun, Indonesia masih sepersepuluhnya," kata David.

Penyesuaian Kebutuhan Pelanggan

Kondisi ekonomi yang mempengaruhi gaya hidup digital masyarakat Indonesia juga diakui oleh kepala bisnis baru dan inovasi Indosat, Prashant Gokarn.

Prashant yang mengisi materi di acara yang sama pun putar otak untuk mengisi kebutuhan digital masyarakat namun dengan kemampuan masyarakat yang terbatas.

"Tidak semua pelanggan di Indonesia sanggup bayar Rp100 ribu per bulan. Jadi kami menyesuaikan dengan kebutuhan pelanggan berupa berbagai macam pilihan produk," kata Prashant saat ditemui CNNIndonesia.com di kawasan Marina Bay Singapura, pada Selasa (6/12).

"Rata-rata masyarakat Indonesia pelanggan kami itu menghabiskan 23-25 ribu per bulan, dan masih banyak yang di bawah itu," kata Prashant.

Namun ia tidak menampik bahwa masyarakat juga semakin tergiur dengan kemudahan era digital, seperti contohnya mendapatkan hiburan melalui video.

Meski berbeda jenis video tergantung kebutuhan dan minat masing-masing, namun masyarakat rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan hal tersebut.

Hal ini terlihat dari data yang disebutkan Prashant bahwa jumlah pengguna paket internet dari penyedia jasa komunikasi yang ia kelola bertambah lebih dari dua kali lipat dalam kurun setahun.

Pada 2015, jumlah pengguna paket data telepon pintar sekitar 15 juta dan pada 2016 sejauh ini sudah ada 35 juta pelanggan dari total keseluruhan pelanggan sebesar 85 juta.

"Mereka rela membuang jutaan rupiah untuk mendapatkan apa yang tidak diperoleh oleh gawai sebelumnya atau yang biasa. Mereka juga mencari paket data. Ini sudah menjadi bagian dari hidup," kata Prashant.

"Namun dua tahun terakhir," kata Prashant, "Indonesia menjadi pasar digital yang sangat besar. Dan menurut saya ini peluang bagus karena banyak masyarakat yang ada di media sosial mampu membuat konten bahkan pasar sendiri."

(vga/vga)