'Baper' Soal Uang Bakal Ganggu Kesehatan

Vega Probo, CNN Indonesia | Kamis, 08/12/2016 08:57 WIB
'Baper' Soal Uang Bakal Ganggu Kesehatan Ilustrasi: Orang yang ‘baper’ atau mengkhawatirkan kondisi keuangan bisa ‘menenggelamkan’ tingkat kesejahteraannya hingga 33 persen. (REUTERS/Beawiharta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga amal kesehatan dan kesejahteraan YMCA Pusat mengungkapkan fakta bahwa nilai kesejahteraan seseorang tergantung adakah ia percaya diri atau minder secara finansial.

Mereka yang berbahagia dengan kondisi finansialnya meningkatkan kesejahteraannya hingga 19 persen. Sementara mereka yang ‘baper’ atau mengkhawatirkan kondisi keuangan malah ‘menenggelamkan’ tingkat kesejahteraannya hingga 33 persen.

Demikian hasil penelitian yang dilansir laman Healthizmo yang melibatkan sampel seribu orang dewasa di Inggris. Para peneliti mengajukan 14 pertanyaan terkait kondisi kesejahteraan dan ragam gaya hidup yang mempengaruhinya.


Diketahui, kesenjangan finansial di Inggris semakin lebar, merujuk hasil penelitian yang dilakukan Oxfam pada 2016. Ini setali tiga uang dengan hasil penelitian sebelumnya oleh London School of Economics, pada 2015.

“Isu-isu yang mempengaruhi [tingkat] kesejahteraan masyarakat masa kini terbilang kompleks dan melebar,” kata Rosi Prescott, chief executive di YMCA Pusat seraya menyebutkan faktor gaya hidup yang mempengaruhi kualitas hidup.

“Jadi,” kata Rosi, “tidak terlalu mengejutkan jika faktor-faktor gaya hidup termasuk aktivitas, hubungan personal, keuangan, stimulasi mental dan pengalaman pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas kehidupan kita.”

Namun, Rosi menambahkan, kesenjangan finansial di masyarakat saat ini juga menggerogoti kesejahteraan. Ada pula faktor lain yang menambah parah kondisi itu: minimnya hubungan personal, stimulasi mental, aktivitas fisik.

“Kita wajib mengetahui pentingnya menyeimbangkan aktivitas fisik, mental stimulasi dan menjalin hubungan personal yang positif. Semua ini memberikan pengaruh signifikan bagi kesejahteraan—kesehatan jiwa raga—kita.”

Sebaliknya, mereka yang kesulitan menyeimbangkan hal-hal tersebut, menurut Rosi, kelak bakal sulit berkembang. Padahal indikasi sejahtera tidak muluk-muluk. Para responden yang mengaku sejahtera cukup melontarkan tiga pernyataan ini:

- Saya memiliki energi lebih
- Saya merasa tenang
- Saya percaya diri sendiri

Para responden mengaku paling senang mendongkrak kesehatan jiwa raga mereka lewat liburan (66 persen), berkumpul bersama keluarga (56 persen) dan bersosialisasi bersama teman-teman (49 persen). Selengkapnya hasil penelitian di website YMCA.


(vga/vga)