Sepertiga Mahasiswa Kedokteran di Dunia Mengalami Depresi

CNN Indonesia, CNN Indonesia | Jumat, 09/12/2016 13:50 WIB
Sepertiga Mahasiswa Kedokteran di Dunia Mengalami Depresi Ilustrasi: Hasil sebuah penelitian membuktikan, 27 persen mahasiswa kedokteran di 47 negara di dunia mengalami depresi semasa kuliah. (Pexels/Wesley Wilson)
Jakarta, CNN Indonesia -- Hasil sebuah penelitian, baru-baru ini, menemukan fakta bahwa mahasiswa jurusan fakultas kedokteran cenderung mengalami depresi saat menjalani masa-masa kuliah.

Dikutip dari TIME, penelitian baru yang diterbitkan Journal of American Medical Association menyebutkan, bahwa para peneliti menganalisis hampir 200 penelitian terhadap 129 ribu mahasiswa kedokteran di 47 negara. Hasilnya, sebanyak 27 persen—sekitar sepertiga—mengalami depresi berikut gejalanya, sementara 11 persen lain berpikir untuk melakukan bunuh diri selama masa kuliah.

Mahasiswa kedokteran bisa dua sampai lima kali lebih kerap mengalami depresi dibandingkan mahasiswa jurusan lain. Prevalensi depresi berkisar antara sembilan sampai 56 persen.


Meskipun angka-angka tersebut mengkhawatirkan, beberapa mahasiswa kedokteran dinyatakan telah mendapatkan perawatan dari penyedia layanan kesehatan.

"Hanya 16 persen dari mahasiswa kedokteran yang benar-benar menyadarinya [tanda-tanda depresi]," kata penulis hasil penelitian Dr. Douglas Mata, seorang warga patologi di Brigham and Women's Hospital di Boston, Massachusetts, AS.

"Ini semacam paradoks, mereka harus lebih jeli mengenali tanda-tanda [depresi] dibanding orang lain."

Tahun lalu, Mata dan timnya menemukan tingkat depresi yang sama tinggi (29 persen) di antara dokter residen, yaitu dokter yang melakukan praktik di rumah sakit untuk meraih kelulusan pascasarjana pendidikan kedokteran mereka.

Data baru menyebutkan bahwa mahasiswa kedokteran mengalami depresi saat mereka berada di awal tahun pendidikan, saat berada di kelas, dan saat melakukan pelatihan medis di rumah sakit.

Pelatihan medis sangat menegangkan dan kompetitif, membutuhkan waktu berjam-jam untuk belajar, dan mengharuskan untuk tetap terjaga pada awal masa kuliah kedokteran.

Sebagaimana hasil investigasi TIME, faktor lain yang berkontribusi dalam tingginya angka depresi adalah stigma yang melekat di diri orang yang mencari perawatan untuk menyembuhkan depresi. Tambah lagi, kendala waktu untuk melakukannya.

Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk membandingkan antara mahasiswa kedokteran dengan siswa di kampus lain, seperti jurusan hukum atau bisnis. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa mereka juga cenderung memiliki depresi tinggi.

"Kami kira Amerika Serikat memiliki sistem pelatihan yang paling baik dibandingkan beberapa negara lain, namun ternyata kami tidak melihat perbedaan signifikan antara AS dan beberapa negara lain," kata Mata. "[Jadi] ini adalah masalah seluruh dunia."




(Awita Ekasari Larasati/vga)