Kenali Gejala Depresi Remaja

Megiza, CNN Indonesia | Sabtu, 13/08/2016 12:38 WIB
Kenali Gejala Depresi Remaja Ilustrasi (Chepko/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah laporan baru menemukan adanya peningkatan persentase orang-orang yang mengalami depresi di Amerika Serikat. Dari tahun 2013 hingga 2014, satu dari sembilan orang AS mengalami depresi.

Para psikolog Negeri Paman Sam mendefinisikan yang paling mendominasi catatan para periset adalah banyaknya jumlah remaja yang mengalami gejala depresi besar seperti suasana hati atau perasaan yang kosong, putus asa, marah atau perasaan tertekan yang berlangsung selama dua minggu.

Para peneliti melihat data dari survei nasional tentang penggunaan obat dan kesehatan di mana remaja usia 12 hinggal 17 tahun ditanya tentang penggunaan narkotik dan kesehatan mental mereka.


Mereka berfokus pada pertanyaan tentang gejala-gejala yang dialami mereka dalam satu tahun terakhir. Gejala itu yang kemudian dapat dijadikan pertanda apakah seseorang mengalami depresi yang sangat besar.

Secara kesuluruhan, persentase remaja AS yang mengalami depresi besar pada tahun 2013-2014 adalah 11 persen. Angka tersebut naik dari 9,9 persen pada laporan 2012-2013.

Profesor Psikiatri dari Columbia University New York, Myrna Weissman, mengatakan angka itu belum dapat dipastikan apakah akan mengalami kenaikan tiap tahunnya atau tidak.

Namun, temuan ini sejalan dengan apa yang telah diprediksi oleh para peneliti. Kepada Live Science, Weissman mengatakan depresi adalah hal yang sangat umum terjadi di kalangan remaja.

Asisten Profesor Psikiatri Anak dan Remaja di Sekolah Medik Johns Hopkins di Baltimore, Leslie Miller, menjabarkan depresi yang dialami saat remaja dapat kembali memicu depresi di kemudian hari.

Tak hanya itu, jika remaja merasa buruk karena depresi, maka dampak yang akan dialaminya adalah kehilangan momen-momen penting yang harusnya dia alami saat remaja.

Masa remaja, menurut Miller, adalah fase di mana seseorang belajar mandiri dan membentuk otonomi atas dirinya sendiri.

Miller menambahkan, depresi juga dapat memengaruhi bagaimana remaja tampil di sekolah dan dalam aturan sosial. Jika ia gagal satu semester pada saat sekolah, maka depresi dapat mengubah rencana hidup remaja tersebut.

"Depresi pada remaja benar-benar dapat memengaruhi kehidupan seseorang," kata Weissman, seperti dilansir FoxNews.

Seorang remaja bisa saja berhenti dari sekolahnya dan terlibat dengan orang-orang yang tidak seharusnya, serta merasa kesulitan untuk mendapat pekerjaan.

"Kondisi itu tidak seharusnya dialami pada masa perkembangan," katanya.

Untuk mencegah remaja mengalami depresi, Miller mengatakan, kesadaran akan kondisi tersebut harus dimulai dari orang tua. Mereka diharapkan dapat menyimak ketika ada perubahan dari anak-anak remajanya.

Mulai dari perubahan jam tidur, selera makan, ketertarikan dengan kegiatan yang umumnya digemari anak remaja, enggan bersosialisasi dan peningkatan emosi, menjadi beberapa ciri yang harus diwaspadai orang tua dengan anak remaja mereka.

Kalaupun gejala-gejala tersebut sudah terlihat, Miller menilai, orang tua tidak perlu langsung menenemui anaknya dengan dokter spesialis kejiwaan.

Dokter penyakit anak adalah pihak yang dapat ditemui pertama kali untuk menanyakan apakah si anak perlu bertemu dengan spesialis jiwa.

Karena itu, para ahli mengatakan, menyadari gejala depresi adalah hal yang paling baik, sebelum melarikan anak bertemu dengan spesialis kejiwaan.


(vga)