Masalah Kesehatan Mental Menghantui Pria 'Playboy'

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 22/11/2016 12:36 WIB
Masalah Kesehatan Mental Menghantui Pria 'Playboy' llustrasi: Pria yang cenderung dominan dan diskriminatif terhadap wanita serta memiliki 'bakat' playboy, maka kondisi kesehatan mentalnya bakal buruk. (Thinkstock/Erik Snyder)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pria playboy mungkin senang bisa mengencani beberapa wanita sekaligus dalam satu waktu. Namun di sisi lain, si pria harus mewaspadai masalah kesehatan mental yang menghantuinya.

Dilansir dari Daily Mail, para peneliti menemukan fakta bahwa pria yang cenderung dominan dan diskriminatif terhadap wanita atau seksisme serta memiliki 'bakat' playboy, maka kondisi kesehatan mentalnya bakal buruk. Tepatnya: depresi.

Hasil penelitian ini didapat setelah para ilmuwan meneliti sekitar 20 ribu pria dan menganalisa kadar karakter maskulinitas mereka. Para ilmuwan juga menemukan pria dengan masalah karakter ini 'malas' mencari perawatan untuk kondisi mental mereka.


Penulis utama penelitian ini, Joel Wong dari Indiana University Bloomington, mengaku terkejut menemukan fakta yang memperlihatkan keterkaitan erat antara karakter seksisme pada diri pria playboy dengan kondisi kesehatan mental mereka.

"Ini menggarisbawahi gagasan bahwa seksisme bukan hanya terkait keadilan sosial, namun juga mungkin memberikan dampak merugikan bagi kesehatan mental siapa pun yang memiliki karakter tersebut," kata Wong.

"Secara umum," Wong menambahkan, "individu yang jelas-jelas memiliki norma maskulinitas sangat kuat punya kecenderungan kesehatan mental yang buruk dan minim keinginan mencari bantuan psikologis."

Wong dan tim telah melakukan kajian meta-analis dari 78 contoh penelitian yang melibatkan 19.453 responden. Masing-masing penelitian berfokus pada hubungan kesehatan mental dan 11 norma yang merupakan gambaran ideal masyarakat terhadap sosok maskulin.

Kesebelas norma tersebut adalah: hasrat untuk unggul, kebutuhan mengendalikan emosi, pengambil risiko, kekerasan, dominasi, kecenderungan tidak setia secara seksual khas playboy, kemandirian, hasrat pada pekerjaan, perasaan unggul atas wanita, memandang hina homoseksualitas, dan mengejar status.

Setelah merekam sikap sosial individu dan melihat kondisi kesehatan mental mereka, para peneliti mengulik riwayat pengobatan mental para responden.

Para peneliti menemukan fakta bahwa pengendali terbesar atas kesehatan mental yang buruk adalah: perilaku playboy, berkukuh menjadi mandiri dan menginginkan kekuasaan atau dominasi atas wanita.

Sedangkan faktor yang tidak berdampak buruk pada kesehatan mental adalah karakter pria yang mengutamakan pekerjaan.

"Mengutamakan pekerjaan tidak secara signifikan berkaitan dengan hasil terkait kesehatan mental," kata Wong. "Mungkin ini adalah pantulan dari hubungan kompleks pekerjaan dan implikasinya pada kesejahteraan,"

"Fokus berlebihan pada pekerjaan dapat berdampak buruk pada kesehatan seseorang dan hubungan antar pribadi, namun bekerja juga sebuah hal yang berharga bagi banyak orang," lanjutnya.

Menurut Wong, karaktar maskulin si pengambil risiko juga secara nyata berkaitan dengan hasil kesehatan mental baik dan buruk. Ini menunjukkan bahwa ketegasan dalam pengambilan risiko sekaligus menyangkut konsekuensi psikologis positif dan negatif.
(vga/vga)