Alat Kontrasepsi Bermasalah, Wanita Prancis Menggugat

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 13/12/2016 19:23 WIB
Alat Kontrasepsi Bermasalah, Wanita Prancis Menggugat Sejumlah wanita di Prancis menderita komplikasi penyakit setelah memakai alat kontrasepsi produksi Bayer Healthcare. Mereka pun mengajukan gugatan. (kerryank/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Alat kontrasepsi seharusnya aman dan efektif mencegah kehamilan. Namun wanita di Prancis malah menderita komplikasi penyakit setelah memakai alat kontrasepsi produksi Bayer Healthcare.

Melalui pengacara, ia mengajukan gugatan terhadap perusahaan internasional yang memproduksi obat dan alat kesehatan tersebut, pada akhir pekan lalu.

Sebagaimana dikabarkan AFP, Kementerian Kesehatan Prancis mengatakan, hasil investigasi yang dilakukan oleh penyidik menunjukkan komplikasi penyakit bukan semata disebabkan oleh alat kontrasepsi, melainkan cara pemakaiannya.


Pengacara Charles Joseph-Oudin mengatakan, gugatan diajukan atas nama dua perempuan. Namun sejatinya sang pengacara mengaku telah menangani 30 kasus serupa.

Para korban mengaku mengalami komplikasi penyakit akibat pemakaian alat kontrasepsi bermasalah tersebut.

“Kami mengeluarkan dua prosedur peradilan sipil, meminta para ahli dilibatkan dalam kasus penyakit dan peralatan kontrasepsi tersebut,”  kata Joseph-Oudin.

Dalam gugatan tersebut, Bayer diwajibkan membayar sejumlah dana mengingat sang korban bukan dari kalangan berada. Sang korban mengalami pendarahan, nyeri leher, serta tuli dan lumpuh sementara.

Alat kontrasepsi yang menjadi subjek gugatan kali ini dikenal sebagai implan Essure. Alat yang digadang-gadangkan oleh Bayer sebagai pengendali kehamilan ‘permanen' ini dipasang di tuba fallopi dan biasanya tanpa bius.

Menurut laporan Bayer, sekitar satu juta unit alat kontrasepsi ini telah digunakan di seluruh dunia, sejak 2001. Di Prancis sendiri, terdapat 240 ribu wanita pengguna Essure.

Joseph-Oudin berpendapat, salah satu teori yang mungkin terjadi dalam kasus ini adalah jenis alergi terhadap kandungan nikel di Essure. Namun ia menambahkan, cara pemasangan alat kontrasepsi tersebut juga memungkinkan terjangkitnya komplikasi penyakit.

Badan Pengawas Alat dan Obat Kedokteran Prancis atau ANSM menyatakan telah menerima 242 laporan atau pengaduan terkait alat tersebut pada 2015 dan bertambah 162 laporan dalam 10 bulan pertama tahun ini.

Dalam pernyataannya, pada Jumat lalu (9/12), Menteri Kesehatan Prancis menyebutkan, hasil investigasi ANSM, pada 2015, menemukan fakta bahwa masalah bukan ditimbulkan oleh si alat kontrasepsi, melainkan cara penggunaannya.

Pernyataan tersebut sekaligus menyingung upaya pemerintah Prancis memperketat persyaratan pengguna alat kontrasepsi tersebut.

Meski belum menemukan bukti kuat atas keamanan penggunaan Essure, pemerintah Prancis mengklaim telah memantau selama dua tahun terakhir.

Beragam kampanye dilakukan, dari meminta penarikan Essure dari pasaran sampai keamanan dan keselamatan terjamin. Salah satu yang melakukan kampanye tersebut adalah Marielle Klein, pendiri Resist.





(vga/vga)