Mimpi Maluku Memiliki 'Jembatan Udara'

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Rabu, 14/12/2016 03:40 WIB
Mimpi Maluku Memiliki 'Jembatan Udara' Pemandangan senja di Teluk Ambon, Maluku. (ANTARA FOTO/Embong Salampessy)
Jakarta, CNN Indonesia -- Salah satu pendorong pesatnya industri pariwisata suatu kawasan adalah tersedianya gerbang transportasi, seperti bandara atau pelabuhan, yang memudahkan wisatawan untuk berkunjung.

Oleh karena itu, pembukaan rute penerbangan internasional Saumlaki, Ibu Kota Kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB) dari dan ke Darwin, Australia Utara menjadi program Gubernur Maluku Said Assagaff sejak dilantik pada 10 Maret 2014.

"Saya mengetahui potensi sumber daya alam yang menjadi pesona pariwisata Kabupaten MTB, maka rute penerbangan internasional Saumlaki-Darwin, saya perjuangkan," Said, seperti yang dikutip dari Antara pada Selasa (13/12).


Keinginan pembukaan rute itu bukan karena adanya blok Migas Masela, namun rute itu akan memudahkan wisatawan dari Darwin untuk mengunjungi MTB.

Demi mewujudkan rencannya, Said bolak-balik melakukan lobi ke Kementerian Perhubungan (Kemenhub), baik saat masih dijabat Ignasius Jonan sampai Budi Karya Sumadi, dan ke Dirut PT Garuda Indonesia Arif Wibowo.

Bahkan, juga saat Konjen Australia, Richard Mathews berkunjung ke Ambon pada November kemarin.

Hasil tiga kali lobi

Pihak-pihak yang dilobi Said menyatakan dukungan dibukanya rute penerbangan Saumlaki-Darwin.

“Mengembangkan rute penerbangan di Maluku merupakan salah satu prioritas Garuda, karena potensi wisata baharinya yang sangat besar,” kata Arif.

“Tentu saja pengembangan wisata juga harus didukung dengan kelayakan infrastruktur dan promosi kegiatan wisata,” lanjutnya.

Kemenhub menyatakan kalau Bandara Mathilda Batlayeri di MTB sudah siap untuk melayani rute Saumlaki-Darwin yang dapat ditempuh selama 45 menit.

Bandara Mathilda yang mulai dioperasikan pada 9 Mei 2014, saat ini bisa didarati pesawat jenis ATR-72 oleh dua maskapai yaitu Garuda dan Wings Air.

Kemenhub terus menyiapkan program pengembangan infrsatruktur pendukung Bandara Mathilda, baik dari sisi perpanjangan dan pelebaran landasan pacu.

Ruang untuk terminal bandara juga akan ditambah dari saat ini 1.440 meter persegi akan ditingkatkan secara bertahap menjadi 7.000 meter persegi.
Mimpi Maluku Memiliki 'Jembatan Udara'Pulau Ora di Maluku. (Dok. Azka Nur Ramadhina)
Kemenhub juga telah membangun bandara baru di Desa Lorulan dan Tumbur, Kecamatan Wertamrian. Ke depannya, bisa jadi muncul destinasi baru sehingga semakin beragam tujuan berwisata di Maluku.

Sedangkan Mathews menegaskan, pemerintah Australia tidak hanya tertarik dengan sektor pariwisata Maluku, tetapi juga menawarkan adanya pelatihan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia di sana dalam hal kelautan, sosial, ekonomi serta pariwisata.

Ada pun pelatihan itu rencananya dimulai pada 2017 dengan mengirimkan 20 orang putra daerah yang akan menempuh pendidikan di Makassar dan Australia.

Manager Pemasaran Garuda Indonesia Branch Office Ambon Agny Gallus Pratama juga yakin Maluku bisa meniru Banyuwangi, kawasan yang juga memiliki potensi wisata bahari dan mulai banyak dikunjungi wisatawan.

"Jadi, rute ini bila diterbangi pesawat Garuda mendorong percepatan pembangunan di wilayah perbatasan, yang juga memiliki beragam potensi wisata dan energi,” ujar Agny.

Dia menginginkan, paling terlambat penerbangan perdana Saumlaki-Darwin akan direalisasikan Presiden Joko Widodo dalam puncak Hari Pers Nasional di Ambon pada 9 Febuari 2017.

Tiga pulau surga di Maluku

Saat ini, ada tiga kepulauan yang menjadi potensi wisata MTB. Kepulauan itu juga berdekatan dengan Australia, yaitu Matakus, Angwarmas dan Nustabun.

Kemudian ada pulau-pulau kecil di bagian selatan dengan pemandangan bawah laut yang cantik, kawasan mangrove, serta peninggalan Perang Dunia II.

Sedangkan di bagian utara, yakni di Pulau Nukaha dan Pulau Larat juga menawarkan objek wisata sama yang tak kalah cantik.

Kabupaten MTB yang letaknya diantara Laut Banda dan Laut Arafura serta perbatasan dengan Australia itu memiliki 102 pulau dengan penduduknya hampir 100 persen tinggal di pesisir yang berprofesi nelayan maupun petani.
Mimpi Maluku Memiliki 'Jembatan Udara'Pengunjung menikmati liburan di Pantai Natsepa, Pulau Ambon, Maluku. (ANTARAFOTO/Izaac Mulyawan)
Di MTB juga telah dibangun desa wisata di Sangliat Dol, Kecamatan Wertamrian. Di sana terdapat situs perahu batu peninggalan zaman Megalithikum.

Situs bebatuan bersusun berbentuk perahu yang dikitari oleh enam gasibu itu secara periodik menjadi lokasi kegiatan budaya seperti tari-tarian dan musik adat oleh masyarakat MTB.

Di lokasi itu juga terdapat kelompok ibu yang menenun kain khas MTB yang coraknya mirip produksi dari Nusa Tenggara Timur (NTT).

(ard)