Geumbak, Seni Membatik ala Negeri Gingseng

Agniya Khoiri, CNN Indonesia | Rabu, 14/12/2016 08:22 WIB
Geumbak, Seni Membatik ala Negeri Gingseng Pembuatan geumbak mengingatkan pada batik cap di Jawa, namun dengan ukuran dan model alat cap berbeda. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sekalipun serbuan K-pop hingga K-fashion merajai dunia, Negeri Gingseng tak melupakan seni tradisionalnya, termasuk seni membatik (geumbak) yang disebut kum bak yeon.

Bagi wisatawan yang tertarik membuat geumbak, Seoul—ibu kota Korea Selatan—menawarkan kursus kerajinan tangan sebagai bagian dari wisata budaya. Salah satunya, di Bukchon Hanok Village.

Bukchon Hanok Village adalah kawasan yang masih kental dengan nuansa tradisionalnya. Di sini, berdiri rumah-rumah kuno yang bukan sebatas 'museum,' melainkan masih dihuni penduduk asli.


Berada di kawasan bersejarah macam Bukchon Hanok Village, tentu saja siapa pun—terlebih wisatawan selaku pendatang—harus menaati sederet peraturan. Salah satunya, dilarang membuat kegaduhan.

Tentu saja, masih ada kegiatan lain yang lebih seru ketimbang sekadar membuat kegaduhan, yakni membuat geumbak. Ada beberapa tempat kursus kum bak yeon di lingkungan Bukchon Hanok Village.

Pembuatan geumbak mengingatkan pada batik cap di Jawa, namun dengan ukuran dan model alat cap berbeda. Batik khas Korea ini menggunakan alat cap dan lem untuk membuat pola emas di kain.

Kegiatan kum bak yeon sendiri dimulai sejak generasi pertama Wanhyeong Kim, pada masa pemerintahan Raja Cheoljong dari Dinasti Joseon (1849-1863). Kumbakyeon berlanjut hingga generasi ke-dua Wonsun Kim, yang bekerja sebagai dekorator daun emas untuk permakaman kenegaraaan Ratu Myeongseong.

Kegiatan kum bak yeon sendiri dimulai sejak generasi pertama Wanhyeong Kim, pada masa pemerintahan Raja Cheoljong dari Dinasti Joseon (1849-1863)Kegiatan kum bak yeon sendiri dimulai sejak generasi pertama Wanhyeong Kim, pada masa pemerintahan Raja Cheoljong dari Dinasti Joseon (1849-1863). (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Kemudian generasi ke-tiga Gyeongyong Kim, berlanjut generasi ke-empat Deokhwan Kim, sebagai pemegang aset budaya untuk dekorasi daun emas, hingga generasi ke-lima, Giho Kim, dan istrinya yang mengelola kum bak yeon sebagai bisnis.

Penggunaan emas sendiri diartikan menjadi simbol keabadian, keindahan dan wewenang dari masa lalu. Busana batik geumbak biasanya digunakan keluarga kerajaan di hari pernikahan atau perayaan ulang tahun ke-60 seseorang.

Beberapa waktu lalu, CNNIndonesia.com berkesempatan mencoba membuat geumbak langsung di sebuah rumah tradisional khas Korea di Seoul yang dipenuhi hiasan dinding berupa hanbok—pakaian tradisional Korea, beserta kain dan aksesorinya. Sayangnya, hiasan tersebut tidak boleh difoto.

Pembimbing kursus kum bak yeon, Kim Jong Hyun, mengatakan bahwa pakaian bangsawan Korea pada zaman dahulu dibuat secara khusus.

Biasanya, emas direkatkan di lembar kain menggunakan lem ikan. Namun lem itu membutuhkan proses pembuatan yang lama. Maka dibuat lah lem tiruan yang berasal dari pepohonan.

Soal busana kerajaan yang kerap ditampilkan di K-drama atau tayangan drama khas Korea, menurut Jong Hyun, terlalu berlebihan. Busana mewah biasanya digunakan oleh keluarga kerajaan di momen tertentu saja, bukan sehari-hari.

Alat cap geumbak dibuat simbol khusus yang memiliki makna berbeda-beda. Alat cap berupa huruf China, misalnya, memiliki arti kebahagiaan. Alat cap berbentuk bunga aster memiliki arti bintang yang bersinar di langit. Lalu, alat cap berbentuk bunga peony berarti loyal, dan alat cap berbentuk bunga krisan berarti seseorang yang baik.

Batik geumbak khas Korea menggunakan alat cap dan lem untuk membuat pola emas di kain.Batik geumbak khas Korea menggunakan alat cap dan lem untuk membuat pola emas di kain. (CNN Indonesia/Agniya Khoiri)
Material yang diperlukan untuk pembuatan geumbak terdiri dari alat cap, kain sutra, lem khusus, kuas, emas tiruan (berupa kertas), serta kapas. Cara pembuatannya terbilang mudah. Tapi terlebih dahulu pembimbing akan memberi sejumlah latihan agar peserta kursus terbiasa melakukannya.

Pertama-tama, oles alat cap dengan lem secara merata, lalu 'panggang' alat cap tersebut di atas tungku pemanas selama lima detik.

Setelahnya, bersihkan sisa lem di sela-sela alat cap, kemudian tempel alat cap di kain dan angkat bila sudah tercetak pola di kain sesuai simbol yang dipilih.

Berikutnya, tempel kertas emas di kain, dan ratakan sembari ditekan-tekan dengan jemari. Bila sudah merata, usap kapas secara perlahan untuk membersihkan kertas emas di sekitar pola. Maka jadilah cap simbol emas di kain.

Selain kain, juga ada pilihan material lain yang bisa digunakan peserta kursus kum bak yeon, yakni membatik di atas kartu ucapan, pembatas buku, hingga kantung kecil.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, jika memilih menggunakan emas imitasi harganya berkisar pada 10 sampai 20 ribu won atau Rp 120-240 ribu. Sementara bila ingin menggunakan emas asli harga yang ditawarkan yakni 40 sampai 60 ribu won atau sekitar Rp 480 sampai 720 ribu.

Pengalaman ini dapat ditemukan di kawasan Bukchon Road, Jongno-gu, Seoul. Program ini pun beroperasi setiap Senin sampai Jumat, sejak pukul 10.00 sampai 17.00 dan Sabtu mulai pukul 09.00-15.00 waktu setempat.

(vga/vga)