Sabun Cair Beralkohol Renggut 33 Nyawa di Rusia

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Selasa, 20/12/2016 07:38 WIB
Sabun Cair Beralkohol Renggut 33 Nyawa di Rusia Ilustrasi: Sedikitnya 33 orang di Siberia, Rusia, meregang nyawa setelah mengonsumsi sabun mandi cair yang mengandung methanol. (PublicDomainPictures/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Entah apa yang dipikirkan sejumlah orang di Siberia, Rusia. Sedikitnya 33 orang meregang nyawa setelah mengonsumsi sabun mandi cair yang mengandung methanol, pada Senin (19/12).

Melansir AFP, pihak otorasi Rusia melalui Komite Investigasi mengatakan kandungan methanol merupakan zat beracun yang biasa digunakan untuk bahan anti pembekuan.

Komite Investigasi setempat juga sudah melakukan penyelidikan atas puluhan kematian dengan cara meminum sabun mandi cair yang biasa dituang untuk penggunaan bathup tersebut. Sejauh ini, dua orang sudah ditahan.


Perdana Menteri Dmitry Medvedev meminta kabinet yang ia pimpin untuk mendahulukan masalah alkohol, dan menyebut penjualan cairan sejenis secara meluas sebagai aib.

Sebanyak 54 orang dibawa ke rumah sakit di Irkutsk, Siberia, Rusia, setelah mengonsumsi cairan beracun. Dan di antara para peminum sabun tersebut, 33 orang tewas, sebagaimana dikatakan juru bicara Komite Investigasi.

Pihak setempat mengatakan, di produk yang mengandung methanol tersebut telah tercantum label peringatan dan larangan konsumsi. Namun cairan tersebut ternyata diminum layaknya menenggak minuman beralkohol.

Selain sabun mandi cair, pewangi murah dan larutan penyegar wajah pun mengandung alkohol dengan kadar setara minuman beralkohol serta dijual bebas di pasaran.

Pihak otoritas setempat mengatakan, biasanya yang mencari alkohol oplosan ini adalah mereka dengan kondisi ekonomi kurang beruntung.

Investigasi tengah dilakukan di pasar tempat produk mematikan ini dijual. Para penyidik mengatakan ada 500 liter cairan beracun yang telah disita.

Minuman keras racikan rumah tangga atau oplosan yang mengandung alkohol menjadi populer di negara bekas Uni Soviet tersebut lantaran murah. Minuman tersebut dianggap alternatif dibanding label pasaran, sekaligus penyebab tingginya kematian akibat alkohol.

Bukan kali ini saja Rusia tersangkut kasus kematian akibat alkohol. Menurut studi yang dipublikasikan pada 2014 lalu, publik Rusia, terutama pria, keranjingan alkohol macam vodka.

Studi yang dilakukan di kota Rusia, antara lain Barnaul, Byisk, dan Tomsk, dari 1999 hingga 2010, dan melibatkan 151 ribu pria dewasa, menunjukkan risiko kematian melonjak 35 persen pada mereka yang mengonsumsi vodka sepertiga atau setengah liter per pekan.

Secara umum, studi tersebut menunjukkan seperempat pria Rusia meninggal sebelum berusia 55 dan harapan hidup kaum adam di Rusia adalah 64. Ini membuat Rusia masuk dalam daftar 50 negara dengan harapan hidup terendah di dunia.

(vga/vga)