WHO: Efektivitas Vaksin Ebola Bisa 100 Persen

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Minggu, 25/12/2016 02:00 WIB
WHO: Efektivitas Vaksin Ebola Bisa 100 Persen Petugas medis memerika pasien terinfeksi Ebola di Kongo, Afrika. (REUTERS/Baz Ratner)
Jakarta, CNN Indonesia -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa sebuah prototipe vaksin Ebola yang tengah dikerjakan, memiliki efektivitas hingga 100 persen.

Bila berjalan lancar, disertai proses persetujuan cepat, vaksin ini dapat tersedia pada 2018.

Melansir AFP, dalam uji coba medis yang melibatkan hampir enam ribu orang relawan di Guinea, di mana terjadi endemik mematikan Ebola, tidak satu pun di antara mereka terkena Ebola.


Namun dalam kelompok pembanding yang tidak diberi vaksin, terdapat 23 kasus muncul. Hasil ini kemudian dipublikasin dalam jurnal medis The Lancet.

"Bila kami bandingkan nol dengan 23, temuan ini benar-benar menunjukkan vaksin sangat efektif. Ini bisa mencapai efektivitas 100 persen," kata Marie-Paule Kieny, asisten direktur jenderal WHO dan pemimpin penelitian.

Kieny dan puluhan peneliti lain menghitung, 90 persen anak-anak yang diberikan vaksin bernama rVSV-ZEBOV tersebut terbukti berhasil di lebih dari 80 persen kasus Ebola.

Hasil penelitian menemukan hanya ada dua orang yang menunjukkan efek samping setelah diberi vaksin Ebola. Namun keduanya sudah sembuh total.

Namun masih belum diketahui tingkat keamanan vaksin untuk anak di bawah enam tahun, wanita hamil, dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

"Dengan vaksin ini, Anda akan memiliki perlindungan sangat awal setelah vaksinasi. Namun kami tidak tahu apakah masih akan bertahan setelah enam bulan," kata Kieny.

Virus Ebola pertama kali diidentifikasi pada 1979 di Republik Demokratik Kongo. Virus itu kemudian menyebar luas dan mewabah, terutama di Afrika Barat dan Timur.

Pada 2014, beberapa infeksi menyebar dengan cepat di Guinea dan menjadi endemi. Dua tahun setelahnya, lebih dari 28 ribu orang terinfeksi di Guinea, Liberia dan Sierra Leone. Sebanyak 11.300 di antaranya meninggal.

Penyakit ini memiliki angka kematian di atas 40 persen dan masa inkubasi hingga tiga pekan. Beberapa gejala Ebola adalah muntah, diare, gagal organ, dan pendarahan internal.

Vaksin Ebola kemudian dikembangkan di Kanada oleh otoritas kesehatan masyarakat dan diambil alih oleh Merck. Perusahaan itu memastikan akan menjaga 300 ribu dosis yang siap digunakan dalam kondisi darurat.

Kieny mengatakan, proses persetujuan standar untuk obat baru membutuhkan tempo hingga sepuluh tahun. Namun ia berharap proses percepatan dapat membuat izin tersebut jadi lebih singkat.

"Setelah 40 tahun, manusia tampaknya kini memiliki vaksin efektif untuk virus Ebola," kata Thomas Geisbert, ilmuwan Galveston National Laboratory yang tidak terlibat dalam penelitian.


(vga/vga)