Wanita Indonesia Masih Pilih Hamil Muda

Endro Priherdityo, CNN Indonesia | Rabu, 04/01/2017 18:05 WIB
Wanita Indonesia Masih Pilih Hamil Muda Ilustrasi ibu hamil. (Thinkstock/Yakobchuk Olena)
Jakarta, CNN Indonesia -- Berita kelahiran Janet Jackson menambah deretan tren wanita yang memutuskan menunda kehamilan bahkan hingga masuk ke usia yang berbahaya menurut medis. Janet Jackson baru melahirkan anak pertamanya di usia 50 tahun. Namun itu berbeda dengan kondisi di Indonesia yang setia memilih hamil di usia muda.

Hal ini terlihat dari data Riset Kesehatan Dasar atau Riskesdas yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan pada 2013 lalu.

Menurut survei resmi kesehatan di Indonesia tersebut, rata-rata wanita Indonesia hamil di usia 25 hingga 29 yaitu sebesar 6,64 persen.


Namun data Riskesdas sedikit berbeda bila dilihat dari sudut pandang tempat tinggal. Para wanita yang tinggal di daerah pedesaan  cenderung memilih hamil di usia yang jauh lebih muda dibanding mereka yang tinggal di perkotaan, yakni pada usia 20 hingga 24 tahun atau sebesar 5,96 persen.

Tren hamil muda ini sejalan dengan masa terbaik bagi perempuan dalam memiliki anak dari sudut pandang biologi. Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), momen terbaik bagi perempuan untuk memiliki anak adalah ketika berusia 20 hingga 29 tahun.

"Kesuburan perempuan menurun ketika memasuki dekade usia 30-an, khususnya usia 35 tahun," tulis American Society for Reproductive Medicine dalam laman resmi mereka.

"Setiap bulan seorang wanita 30-an tahun, sehat, mencoba untuk hamil, ia hanya memiliki kesempatan hamil sebesar 20 persen. Artinya, dari 100 perempuan usia 30-an yang mencoba hamil, yang sukses hanya 20 orang."

Dan ketika wanita memasuki dekade 40-an tahun, kesempatan untuk tetap dapat hamil semakin mengecil hingga hanya tersisa lima persen.

Kondisi penurunan kesuburan ini terkait dengan jumlah sel telur yang dimiliki kaum Hawa. ASRM menjelaskan, tidak seperti pria, wanita memiliki keterbatasan dalam hal kesuburan.

Saat lahir, wanita memiliki lebih dari satu juta folikel, atau wadah sel telur dalam ovarium. Namun, ketika mereka pertama kali mengalami menstruasi, sel telur hanya tersisa 300 ribu. Jumlah itulah yang dikeluarkan selama hidup wanita. Satu sel telur yang dilepas ditandai dengan satu siklus menstruasi.

Permasalahannya, kualitas sel telur juga akan ikut menurun seiring dengan bertambahnya usia wanita. Ini kemudian menuntut kaum Hawa untuk memperhitungkan kondisi kesehatan fisik termasuk usia bila ingin memiliki keturunan.

Wanita Indonesia cenderung tidak menunda kehamilan dibanding wanita di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Perancis.  Wanita Indonesia cenderung tidak menunda kehamilan dibanding wanita di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Inggris dan Perancis. (hepatocyte/Pixabay)

Hamil Dini


Meski masih sesuai dengan kaidah biologi, usia kehamilan di Indonesia juga ada yang tidak sesuai dari ketentuan ilmiah. Di Indonesia, masih ditemukan ibu hamil di bawah usia 20 tahun.

Ini tidak terlepas dari faktor pernikahan di usia anak yang masih tinggi di Indonesia, yaitu 23 persen menurut laporan analisis data perkawinan usia anak oleh UNICEF dan Badan Pusat Statistik 2016.

Bahkan menurut laporan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan pada Desember lalu, pernikahan di usia 10 hingga 19 tahun mencapai 46,7 persen.

BPS juga mencatat bahwa angka kejadian atau prevalensi pernikahan anak lebih banyak terjadi di pedesaan dengan angka 27,11 persen, dibandingkan di perkotaan yang berada pada 17,09 persen.

Angka tersebut sejalan dengan temuan Riskesdas 2013 yang mengindikasikan kehamilan di pedesaan lebih dini dibanding perkotaan.

Menurut Kemenkes, pernikahan dini yang menyebabkan kehamilan sebelum masa terbaik wanita dipengaruhi faktor pendidikan yang masih rendah, budaya, status gizi dan kesehatan, sosial ekonomi yang rendah, ketidaksetaraan gender, dan ketidakberdayaan perempuan dalam mengambil keputusan.

Padahal, bila seorang wanita hamil di momen yang tepat akan dapat memberikan manfaat kesehatan bukan hanya bagi sang ibu namun juga bayi dan masa depannya.


(chs/les)