Labrak Tradisi, Penjual Wine Online Bocorkan Rincian Harga

Puput Tripeni Juniman, CNN Indonesia | Senin, 16/01/2017 17:07 WIB
Labrak Tradisi, Penjual Wine Online Bocorkan Rincian Harga Penjual wine online asal AS memotong biaya distribusi dan retail, serta membeberkan rincian harga pembuatannya hingga masuk akal. (Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah startup atau toko online yang menjual wine di Amerika Serikat menawarkan minuman alkohol fermentasi anggur itu dengan harga masuk akal, dan membeberkan rincian harga pembuatannya. Ini melabrak tradisi ketika wine yang sebelumnya lebih banyak dipatok berdasarkan seni menilai wine, dibanding perhitungan pasti.

Melalui cara ini, dalam setiap pembelian botol anggur itu, biaya mulai dari perkebunan hingga pengemasan dipaparkan secara transparan kepada konsumen.

Mark Tarlov, pemilik toko wine bernama Alit itu, mengaku ingin mengantarkan wine kepada pelanggan secara langsung tanpa melalui distributor dan retailer melalui toko online-nya. Sementara, rincian harga bertujuan untuk memberikan kesenangan tersendiri dalam menikmati wine tersebut.


"Untuk memahami mengapa biaya wine seharga yang dipatok, dan apa yang membuatnya seperti itu, akan memberikan kepuasan tersendiri terhadap wine itu," kata Tarlov dikutip dari Quartz.

Menurut Tarlov, dengan mempublikasikan rincian dana, maka sekaligus akan menceritakan kepada konsumen proses panjang pembuatan wine dari perkebunan hingga fermentasi. Cara ini juga bentuk apresiasi terhadap wine tersebut.

Tarlov juga terbuka untuk konsumen yang ingin mengetahui lebih lanjut tentang pembuatan wine, dan harga yang muncul dalam proses tersebut.

Misalnya, harga untuk Pinot Noir tahun 2015 dari Oregon Willamette yang sebesar US$27,45. Rincian dana itu mencakup perkebunan dan buah (US$5,6), upah lima karyawan (US$2,14), perlatan dan pabrik (US$3,31), barel (US$1,1), label dan pengemasan (US$2,88), ditambah 45 persen keuntungan (US$12,35) sehingga total menjadi US$27,45 (Rp 365.000).

Pinot Noir milik Alit ini memiliki harga yang lebih tinggi dibandingkan harga rata-rata wine di Amerika Serikat. Kendati demikian, Tarlov tak khawatir karena ia ingin agar konsumen paham terhadap pembuatan wine dan puas dengan wine yang dihasilkan.

Menurut penulis buku tentang makanan dan wine, Robin Goldstein, dalam salah satu penelitian terhadap wine menyatakan harga yang mahal tak memberikan jaminan terhadap pengalaman yang menyenangkan lebih tinggi.

"Secara keseluruhan konsumen tidak bisa menceritakan perbedaan antara wine yang mahal, dan yang murah ketika label dan kemasan tersembunyi," kata Goldstein mengungkapkan hasil penelitiannya.

Penelitian itu juga menemukan korelasi yang negatif antara rasa dan harga. Wine dengan harga di bawah US$ 15 dianggap lebih nikmat dibanding wine dengan harga di atas dari US$ 100.

Goldstein juga menilai cara Alit ini baik untuk konsumen agar dapat memberi kejelasan soal harga yang dibayarkan. Hal ini akan membuat pembeli tak lagi bertanya-tanya jika terdapat harga yang sewenang-wenang.

"Apa yang saya suka dari Alit adalah mereka merinci semua pembiayaannya, dan ini baik untuk konsumen. Itu membuat konsumen dapat memutuskan, misalnya apakah Pinot Perancis itu pantas dibayar dengan harga yang tertera," tutur Goldstein.