Maskapai Penerbangan Dibuat Repot 'Muslim Ban' Donald Trump

Ardita Mustafa, CNN Indonesia | Senin, 30/01/2017 12:47 WIB
Maskapai penerbangan Emirates bahkan memutuskan untuk mengganti susunan pilot dan awak pesawat yang bertugas dalam penerbangan menuju Amerika Serikat. Ilustrasi. (Dok. Emirates)
Jakarta, CNN Indonesia -- Maskapai penerbangan Emirates memutuskan untuk mengganti susunan pilot dan awak pesawat yang bertugas dalam penerbangan menuju Amerika Serikat (AS), setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan aturan baru beripa larangan masuk bagi penduduk dari tujuh negara Muslim di dunia.

Perubahan mendadak itu tentu saja membuat membuat repot banyak pihak, salah satunya maskapai penerbangan yang berbasis di Timur Tengah itu.

Setiap harinya, Emirates terbang ke 11 kawasan di AS. Dilansir dari Reuters pada Minggu (29/1), juru bicara maskapai mengatakan kalau pihaknya mengikuti aturan tersebut dan sejumlah rute penerbangan tetap akan beroperasi.


Pada Jumat (27/1), Trump melarang penduduk dari Iran, Irak, Libya, Somalia, Sudan, Suriah dan Yaman untuk menginjakkan kaki di AS.

Larangan tersebut berlaku sejak mereka datang ke bandara, sehingga terjadi penumpukan penumpang di sana, seperti yang dikatakan oleh pihak Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA).

“Ini membuat banyak orang bingung, terutama wisatawan, yang harus segera mengubah rencana perjalanannya,” kata pengamat penerbangan, John Strickland, seperti yang dilansir dari Reuters.

Larangan tersebut berlaku kepada seluruh penduduk tujuh negara Muslim di dunia, termasuk pilot dan awak pesawat. Selama ini mereka diizinkan menginjakkan kaki di AS setelah mengantongi visa.

Nicoley Baublies, salah satu awak pesawat yang tergabung dalam serikat pekerja Jerman, UFO, menganggap kalau larangan tersebut sangat aneh dan membuat banyak ketidakpastian bagi perusahaan maskapai penerbangan.

“Maskapai Lufthansa selalu memastikan adanya keberagaman dalam pemilihan awak pesawat. Setelah beberapa dekade, baru kali ini kami dipaksa untuk melihat asal usul mereka,” kata Baublies, di Bandara Frankfurt, seperti yang dilansir dari Reuters.

Juru bicara masakapai Lufthansa, maskapai penerbangan yang berbasis di Jerman, pada Minggu mengaku belum bisa memberikan pernyataan terkait larangan tersebut, namun mengatakan kalau pihaknya akan mengikuti aturan baru tersebut.

Juru bicara Emirates mengatakan kalau larangan itu tidak berdampak besar bagi operasional. Maskapai itu memperkerjakan 23.000 awak pesawat dan 4.000 pilot dari berbagai negara, termasuk AS, Eropa dan Timur Tengah.

Sementara itu, juru bicara dari Etihad, maskapai penerbangan yang berbasis di Timur Tengah, mengatakan kalau saat ini pihaknya tengah memastikan kalau operasional pesawatnya tidak akan terganggu dalam beberapa minggu ke depan.

Sedangkan maskapai penerbangan yang berbasis di Jepang, Japan Airlines (JAL), pada Senin (30/1) mulai melakukan pemeriksaan penumpang dari tujuh negara Muslim yang melakukan penerbangan ke AS.

Juru bicara JAL mengatakan kalau pihaknya akan menghubungi pihak Imigrasi AS untuk memastikan kalau penumpang tersebut boleh menginjakkan kaki di sana.

Belum diketahui lebih lanjut, apakah larangan tersebut juga akan memengaruhi penumpang yang memiliki dua kewarganegaraan, dari AS dan dari negara Muslim.

Dalam keterangan resmi di situsnya, Etihad mengatakan kalau penumpang dengan dua kewarganegaraan masih bisa memasuki AS, jika memegang paspor AS.

IATA pun memberi pernyataan senada, seperti yang dilansir dari keterangan resmi yang dikutip Reuters.

Meski demikian, seperti yang diberitakan The Guardian pada Sabtu (28/1), penumpang dengan dua kewarganegaraan tetap dilarang menginjakkan kaki ke AS.

Pemerintah AS pada Minggu juga mengatakan kalau penduduk yang mendapat izin menetap (green card) harus mendatangi kantor Imigrasi AS untuk memberikan informasi lebih lanjut.

Larangan tersebut juga berdampak besar pada sejumlah industri, terutama pariwisata. “Selama ini maskapai penerbangan memiliki peran besar di industri ekonomi dan pariwisata. Tentu saja ini akan berdampak besar,” kata Strickland.

Baublies mengatakan kalau penerbangan menjadi industri pertama yang terkenda dampak dari larangan tersebut. “Kami berharap tidak ada pengurangan tingkat keterisian penumpang,” kata Baublies.

“Trump mengatakannya melalui Twitter, yang merupakan media sosial dengan 140 karakter. Kita tidak tahu dengan pasti maksudnya. Bagaimana dengan penumpang yang memiliki dua kewarganegaraan atau yang menikah dengan penduduk dari negara yang dilarang masuk? Apakah mereka tetap diperbolehkan melakukan perjalanan?” lanjutnya.

Emirates dan Etihad adalah dua maskapai yang dimiliki oleh pemerintah Arab Saudi, negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam.

Kedua maskapai itu mengatakan akan tetap mengikuti aturan, namun akan mengembalikan dana penumpang yang terkena dampak larangan tersebut. (ard)